Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kiat Dalang di Sragen Bertahan dalam Himpitan Ekonomi Akibat Pandemi

Damianus Bram • Rabu, 2 Maret 2022 | 14:30 WIB
TERUS BERGERAK: Budi Warsito memperlihatkan wayang kulit karyanya yang belum jadi. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
TERUS BERGERAK: Budi Warsito memperlihatkan wayang kulit karyanya yang belum jadi. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Pandemi Covid-19 belum berakhir membuat para seniman bertahan dengan cara lain agar tetap memperoleh penghasilan. Namun ada yang masih konsisten dalam membuat karya seni. Seperti yang dilakukan dalang Ki Budi Warsito ini.

AHMAD KHAIRUDIN, Solo, Radar Solo

Ditemui di sanggarnya yang diberi nama Noyontoko, Budi Warsito sedang merangkai wayang kulit. Wayang-wayang ini merupakan pesanan dari lokal Sragen maupun luar kota. Biasanya untuk koleksi maupun pajangan.

Ya, sudah 2 tahun akibat pandemi ini gelaran kesenian wayang kulit seret undangan karena adanya larangan pentas secara langsung untuk mengantisipasi kerumunan. Demi mempertahankan ekonomi keluarga, Budi yang memiliki keahlian membuat wayang kulit pun akhirnya menekuni bidang ini.

”Membuat kerajinan wayang kulit ini awalnya mengisi waktu luang saja. Sebab, selama pandemi para seniman tak bisa manggung,” ujarnya.

Budi mengatakan, demi menjaga kondisi perekomomian keluarga, dia harus tetap berkarya. Karena itu dalam beberapa waktu ini dia fokus dalam kerajinan membuat wayang.

Tanpa disangka ternyata hasil karyanya ini banyak diminati. Bahkan pesanan tidak hanya datang dari Sragen saja, namun juga dari beberapa kota lain. “Karena tenaga terbatas saat ini saya fokuskan wayang yang sesuai pesanan saja. Terutama yang dibutuhkan untuk pentas,” ujar dia.

Pesanan dari berbagai kalangan. Baik dari dalang atau seniman maupun dari penggemar seni wayang kulit. Sedangkan untuk harga tergantung kerumitan dan bahan wayang. Jika pesanan dinilai kelas super, dilihat dari ukuran yang cukup besar seperti Buto dihargai Rp 5-7 juta. Sedangkan ukuran yang kecil seperti Janoko Rp 3-3,5 juta.

”Sejauh ini (pendapatan, Red) cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi jika menuntut keinginan gaya hidup, bergantung dari kerajinan wayang tentu saja masih kurang,” bebernya

Di masa memasuki status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3, dia berharap pemerintah memberikan perhatian bagi para pelaku seni. Dia meminta kelonggaran untuk diberikan kesempatan pentas seni.

”Misal diizinkan pentas seniman pun tidak keberatan menaati protokol kesehatan,” ujarnya.

Budi mengakui, permasalahan yang membuat berat para seniman saat ini yakni tanggungan kredit. Biasanya mereka ini sudah dimiliki tanggungan kredit sejak sebelum pandemi. Memang di awal pandemi dulu sempat ada keringanan. Namun karena pandemi masih terjadi dan para dalang belum bisa pentas maka mereka semaki berat.

“Kami berharap ada kebijakan ekonomi dari pemerintah yang membantu kondisi warga, termasuk para seniman ini yang masih memiliki tanggungan kridet di perbankan agar diberi keringanan,” ujar dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Dalang di Sragen #Kisah Dalang Bertahan Hidup #Dalang Jadi Pengrajin Wayang #Dalang Bertahan di Tengah Pandemi