A. CHRISTIAN, Solo, Radar Solo
Pemuda kelahiran Solo 22 Februari 2000 ini berhasil meraih mendali emas dalam kejuaran tingkat internasional Asian Taekwondo Championship 2022 yang digelar di Vietnam Jumat kemarin (1/4).
Di babak final, pemuda yang akrab dipanggil Osa ini mewakili Indonesia berhasil menang mutlak setelah mengalahkan atlet tuan rumah Vietnam. Di babak pertama dia juga mengalahkan altet tuan rumah, kemudian dipertandingan kedua berhasil mengalahkan atlet dari negara Asean lain, Filipina.
"Lawan atlet tuan rumah tentu saja berat. Ada hal-hal nonteknis yang harus dihadapi, terutama mental ya. Mengingat saya bertanding di kandang orang dengan dukungan supporter mereka. Kuncinya adalah sabar dan tidak emosi," kata Nando yang bertanding di kelas 74 kg, ketika dihubungi Jawa Pos Radar Solo melalui WhatsApp.
Medali emas dari Osa adalah satu-satunya yang diraih kontingen Indonesia yang mengirim enam atlet ke Vietnam, yakni tiga putra dan tiga putri. Selain emas, tim Indonesia juga meraih tiga perak dan dua perunggu.
Menurut dia, kejuaraan internasional Asian Taekwondo Championship 2022 itu merupakan pre event dari SEA Games 2022 yang juga digelar di Vietnam. Osa yang kini sedang fokus latihan di pelatnas itu berharap juga bisa meraih emas. "Mudah mudahan di SEA Games bisa meraih hasil yang sama."
Lebih lanjut, warga Kelurahan Jajar, Kecamatan Laweyan ini mengatakan, mahasiswa bisa berprestasi, baik di akademik maupun nonakademik secara bersamaan. Kerena itu, dia berpesan pada para mahasiswa yang mengikuti unit kegiatan mahasiswa (UKM) olahraga untuk serius dan konsisten di kedua bidang itu.
"Dua bidang itu, olahraga dan kuliah bisa dijalankan bersama-sama, seiring, sejalan, dan seimbang. Yang paling penting itu harus konsisten dan serius, maka hasilnya akan maksimal," katanya.
Osa harus menjalani beragam pelatihan fisik sebelum mampu berdiri di posisi tersebut. Awal mula dia tertarik menggeluti cabang olahraga taekwondo sejak kelas 2 SD pada 2008.
"Ya, pada awalnya saya ingin menggeluti sepakbola. Namun waktu itu tidak diperbolehkann oleh mama dengan alasan sepakbola akan membuat badan menjadi hitam," kelakar Osa.
Bahkan di awal 2009 saat memulai debutnya mengikuti kejuraan tekwondo di wilayah eks Karesidenan Surakarta dia langsung menjadi juara. Dari kejuaraan itulah akhirnya Osa mulai serius untuk mengasah kemampuan menjadi atlet taekwondo andal.
Pada Popnas 2017, Osa juga tampil sebagai juara dan meraih medali emas, kemudian merebut gelar terhormat juara satu pada kejurnas Taekwondo UIN Championship pada 2018. Tidak hanya itu bagi putra pasangan Swasana Wisnu Nugroho dan Yuliasih Pristiwi ini menuturkan berbagai prestasi juga berhasil diraih, termasuk pada kejurnas UTC 2019 sekaligus terpilih sebagai mens best player. (atn/bun/dam) Editor : Damianus Bram