SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo.
Saat waktu salat Duhur dan Asar tiba, Sentot Budi Rahardjo, salah seorang dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini langsung bersiap menuju masjid kampus. Namun tak langsung bergegas ke lokasi tujuan, dosen itu berkeliling terlebih dahulu. Menyusuri gedung fakultas. Jika bertemu mahasiswa atau sesama dosen lainnya, Sentot tak segan mengingatkan dan mengajak salat berjamaah.
"Ayo sudah saatnya salat, pekerjaan dihentikan dulu, kita salat bersama," ujar Sentot.
Jangan berharap ajakannya disambut antusias. Terkadang dia hanya menerima senyum kecut. Bahkan beberapa kali ajakannya ditolak mentah-mentah. Pernah suatu hari, dia mengingatkan salat tenaga pendidikan di bagian tata usaha. Saat itu, ada tim pemeriksa keuangan. Alih-alih mendapat respons positif, Sentot justru kena semprot lantaran mengingatkan salat.
"Ya lalu saya minta maaf," ungkapnya.
Guru besar UNS ini memang kondang di kalangan civitas akademika UNS lainnya hobi mengingatkan salat. Kebiasaannya ini sudah dia jalankan sejak 2015 silam. Alhasil, alumni FMIPA UNS pada masa itu dipastikan sudah pernah mendapat giliran diajak salat berjamaah oleh Sentot.
Bagaimana Sentot memulai kebiasaan baik ini? Tidak mudah. Butuh waktu dan latihan untuk berani mengajak civitas akademika, bahkan orang yang tidak dikenal untuk melaksanakan salat.
“Selama ini alhamdulillah responsnya baik. Mereka merasa berterima kasih telah diingatkan. Kadang-kadang karena pekerjaan jadi lupa diri saatnya masuk waktu salat. Kadang ada juga ruangan yang tidak bisa mendengarkan azan, itu juga harus diingatkan," jelas dosen 66 tahun ini.
Ada cerita lucu. Saking seringnya mahasiswa diingatkan salat oleh Sentot. Sampai-sampai ada mahasiswa yang rela bersembunyi di bawah meja agar tidak terlihat oleh Sentot dan terhindar dari ajakan salat. Tapi tidak semua mahasiswa bertingkah konyol demi menolak ajakan Sentot. Banyak juga mahasiswa yang ikut salat berjamaah di masjid bersama Sentot.
"Memang awalnya mungkin terpaksa. Tapi lama-lama jadi terbiasa. Saya senang dengan kebiasaan ini. Karena mengingatkan dan mengajak salat memang kewajiban saya sebagai muslim. Itu kan perintah Allah. Kita saling mengingatkan," sambung lulusan S3 Kimia di Flinders University, Adelaide, South Australia ini.
Sentot butuh waktu sekitar 45 menit sampai sejam tiap kali mengingatkan salat di lingkungan kampus. Tapi itu bukan masalah baginya. Sebab Sentot memegang teguh prinsipnya: ingin memakmurkan masjid. Saat sebelum pandemi Covid-19 mewabah, kegiatan kampus masih ramai. Tiap azan berkumandang, Sentot mulai berkeliling dari gedung ke gedung untuk mengingatkan mahasiswa maupun karyawan.
"Biasanya kan waktu salat juga masuk waktu istirahat, ya kita ingatkan saja. Kan keliling jalan kaki sambil olahraga juga," kelakarnya.
Menurut dia, ketika seorang muslim bisa melaksanakan salat wajib tepat waktu, otomatis di kehidupan sehari-harinya orang tersebut bakal disiplin. Nah, sebelum pandemi, saat Sentot mengajar di kelas dan tiba waktu salat, dia segera mengajak rombongan mahasiswa pada kelas yang diampunya untuk melaksanakan salat bersama di masjid.
Namun, saat pandemi ini, sudah tidak lagi ada kegiatan luring. Tapi Sentot tetap mengingatkan kewajiban salat melalui grup WhatsApp yang anggotanya berisi mahasiswa, bahkan rektor.
"Tapi kadang saya prihatin. Ternyata masih banyak anak muda yang tidak tahu arti dari bacaan salat. Padahal itu penting agar para generasi muda dapat melaksanakan ibadah salat secara khusyuk," imbuhnya.
Sepanjang hidupnya, Sentot punya motto yang menjadi pegangan hidupnya. Yakni, jika seseorang ingin berbahagia, maka cukuplah dengan menjadi sosok yang mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Tuhan. Sentot membocorkan tips agar seseorang dapat konsisten melakukan hal-hal baik. Salah satunya, dengan memulai kebaikan yang kecil terlebih dulu hingga menjadi sebuah kebiasaan.
"Saya kan jadi PNS sejak 1986. Kemudian pada 1996, ada permintaan rektor yang menjabat saat itu, saya kembali ke UNS untuk mendirikan FMIPA bersama dengan sivitas akademika lainnya. Nah, saat jadi dosen, saya mulai kebiasaan mengingatkan sivitas akademika FMIPA untuk mengikuti salat berjamaah di masjid. Sampai sekarang," kenangnya.
Kebiasaan uniknya ini yang membuat banyak alumni FMIPA rindu. Bahkan tidak sedikit alumni yang datang menemuinya untuk membicarakan masalah hidup dan mendiskusikan solusinya.
"Saya ingin di masa depan, orang-orang lulusan dari sini banyak menjadi orang yang bertakwa yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, kalau dia bertakwa, kalau menjabat tidak akan korupsi. Mampu melaksanakan kewajiban dengan baik, mementingkan kepentingan banyak orang, bukan kepentingan diri sendiri. Saya ingin agar mereka bermanfaat bagi orang lain," pungkasnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram