Tugas kampus yang menumpuk sempat membuat Annisa dan Fatimah uring-uringan. Bukan karena kesulitan dalam mengerjakan. Melainkan tumpukan kertas bekas tugas kuliah yang menggunung di kamar kos mereka. Selain tidak sedap dipandang mata, juga menjadi sarang nyamuk.
Lalu, terbesit ide memanfaatkan tumpukan kertas bekas tersebut supaya memiliki nilai ekonomis. Dibuatlah kartu ucapan, yang unik dan didesain kekinian. Harapannya, agar banyak orang yang tertarik untuk membeli dan memiliki.
“Hasilnya memang belum terlalu sempurna. Tapi minimal kami sudah berupaya mengurangi tumpukan sampah kertas. Sekaligus menyelamatkan lingkungan dari limbah sampah organik,” kata Fatimah, Jumat (24/6).
Daur ulang sampah kertas, lanjut Fatimah, bukan semata untuk mengejar nilai ekonomis. “Paling penting adalah, kami ikut menyelamatkan bumi. Dengan mendaur ulang kertas, berarti mengurangi penebangan pohon sebagai bahan baku utama kertas,” imbuhnya.
Selain kartu ucapan yang unik dan cantik, kertas bekas juga yang dikreasikan sebagai wadah surat. Cara membuatnya, kertas-kertas tersebut didesain dan diberi warna dengan printer.
“Manfaatnya sangat banyak. Daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan lagi sambil berkreasi. Selain itu, juga menyelamatkan bumi kini semakin panas akibat pembalakan liar,” bebernya.
Langkah-langkah pembuatan handycraft, diawali menyobek kertas bekas seperti koran, HVS, atau karton. Disobek menjadi ukuran kecil, lalu direndam dalam air selama 2-4 jam. Proses perendaman tergantung jenis kertas. Semakin tebal kertas, semakin lama waktu perendaman.
Penyobekan dan perendaman ini, untuk mendaur ulang menjadi kertas baru. Alangkah baiknya, sobekan kertas setelah direndam langsung diblender. Usahakan sampai menjadi bubur (pulp). Perbandingannya, segelas kertas dicampur tiga gelas air.
“Sangat mudah membuatnya dan masyarakat awam pun bisa mempraktikkan di rumah. Memperoleh warna kertas cokelat, kami pakai kardus bekas. Terutama untuk membuat waste paper packaging,” lanjutnya.
Setelah jadi bubur kertas, lalu dicetak lagi menjadi lembaran-lembaran kertas baru. Menggunakan alat cetak seperti saringan. Setelah dicetak, pulp dipindahkan ke atas tripleks dan dijemur.
Dengan cara yang tergolong masih tradisional (handmade) itu, dalam sehari mereka mampu memproduksi sekitar 10-50 lembar kertas daur ulang. Siap diolah menjadi berbagai produk handycraft.
“Kami buatnya masih manual, pakai alat sederhana. Kami pakai cetakkan manual, bikin water paper recycle-nya satu per satu,” sambung Annisa.
Hanya saja, lanjut Annisa, proses daur ulang tersebut kemungkinan kurang optimal. Misalnya sering ditemukan kertas baru, dengan tekstur dan permukaan yang tidak rata atau kurang halus.
Kalau ingin kertasnya berwarna, kami pakai zat pewarna alami. Semisal pakaio kunyit (kuning), daun jati (merah), gambir (hitam), daun pandan (hijau), dan pacar cina (merah muda). Semuanya tanpa zat kimia,” ungkapnya.
Soal kualitas, kertas daur ulang ini jauh lebih kuat dibandingkan kertas pada umumnya. Dari segi tekstur, kertas daur ulang ini lebih berserat dan tebal. Sebagai perbandingan, kekuatannya stara lima lembar kertas HVS.
“Keungglan lainnya, kalau kena air masih bisa dipakai lagi. Kan tinggal dijemur. Sedangkan kalau kertas biasa, kena air sedikit pasti tidak bisa dipakai lagi,” urainya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram