Demikian ditegaskan Dosen Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta Bondan Aji Manggala.
“Musik itu bisa menembus tembok, menembus ruang, kadang terbawa angin. Misalnya Laras Madya pentas di sektiar masjid, sulit mengharap orang orang yang dibilang ‘gelap’ untuk datang ke masjid. Tetapi dengan suara yang terbawa angin, bisa sampai ke telinga mereka. Suatu saat mungkin mereka akan mendengarkan dan ada kesadaran untuk ke masjid,” beber dia.
Cara-cara itu, imbuh Bondan, juga digunakan pada Sekaten. Gamelan Sekaten ditabuh untuk mengundang massa. Pada masa itu, tantangannya adalah bagaimana gamelan Sekaten menjadi alat untuk mengajak massa untuk memeluk Islam.
Bondan mencontohkan seni rontek di Pacitan, Jatim yang awalnya ditabuh saat ronda malam. Hadirnya suara instrument pada seni rontek, mampu melunturkan kemalasan masyarakat untuk jaga malam.
Meskipun sekadar memukul potongan bambu dan komposisi sederhana, tapi bunyinya mampu menarik perhatian masyarakat untuk datang dan bersenang-senang menabuhnya.
Hal tersebut membuktikan kekuatan musik, bukan mistik. Suara menjadi simbol atas kenyamanan sosial, menetralisir kemalasan, mampu mereduksi kekuatan integratif sosial.
“Akhirnya rontek dikelola menjadi musik identitas Pacitan hingga dikompetisikan. Hampir seluruh desa punya kesenian tersebut. Seperti halnya Laras Madya, walaupun hanya sederhana, ada kesadaran untuk menggunakan teknologi musik guna menyadarkan masyarakat. Memberitahu mana yang benar,” beber dia.
Lebih lanjut diterangkan Bondan, tidak ada satu pun manusia di dunia yang tidak tahu musik. Semua suku di dunia puya musik. Termasuk pada zaman purba. Seperti ditemukan di relief. Setiap berburu, makan, dan sebagainya ditemukan seperti bentuk instrumen. (mg2/wa/dam) Editor : Damianus Bram