Debok yang asli, kata Catur, ketika cempurit alias gagang wayang kulit ditancapkan diatasnya, maka wayang kulit dapat berdiri kuat. Tidak miring atau malah ambruk. “Gigitan yang dihasilkan debok asli lebih kuat dibandingkan debok sintetis,” tuturnya.
Nah, ketika debok antibosok digunakan di sanggar seni yang notabene sering menggunakan debok untuk latihan pentas wayang kulit, maka sangat membantu pengelola sanggar. Khususnya dalam hal penghematan biaya dan perawatannya.
“Saya berharap, inovasi debok sintetis ini bisa dikembangkan hingga kualitasnya sebanding dengan debok yang asli,” kata dia.
Pengembangan lainnya yakni dari sisi lingkungan, yakni limbah debok sintetis dapat diolah sedemikian rupa sehingga lebih ramah lingkungan.
Lebih lanjut diterangkan Catur, dalam pementasan wayang kulit, khususnya di pedesaan, penggunaan debok asli bukan menjadi masalah. Karena masih tersedia banyak tanaman pisang.
Beda kasus ketika wayang kulit dipentaskan di Kota Besar atau bahkan luar negeri yang bakal lebih sulit mendapatkan debok asli. (mg1/wa) Editor : Damianus Bram