Debok Antibosok Harus terus Dikembangkan, Agar Mirip Pelepah Pisang Asli

Damianus Bram • Dipublikasikan Minggu, 30 Oktober 2022 | 17:06 WIB
Catur Nugroho Dosen Prodi Pedalangan ISI Surakarta. (DOK. PRIBADI)
Catur Nugroho Dosen Prodi Pedalangan ISI Surakarta. (DOK. PRIBADI)
SOLO - Inovasi debok antibosok oleh pengasuh Sanggar Seni Sarotama diapresiasi Catur Nugroho, dosen program studi (Prodi) Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Menurutnya, debok antibosok harus terus dikembangkan agar fungsinya mirip pelepah pisang yang asli.

Debok yang asli, kata Catur, ketika cempurit alias gagang wayang kulit ditancapkan diatasnya, maka wayang kulit dapat berdiri kuat. Tidak miring atau malah ambruk. “Gigitan yang dihasilkan debok asli lebih kuat dibandingkan debok sintetis,” tuturnya.

Nah, ketika debok antibosok digunakan di sanggar seni yang notabene sering menggunakan debok untuk latihan pentas wayang kulit, maka sangat membantu pengelola sanggar. Khususnya dalam hal penghematan biaya dan perawatannya.

“Saya berharap, inovasi debok sintetis ini bisa dikembangkan hingga kualitasnya sebanding dengan debok yang asli,” kata dia.

Pengembangan lainnya yakni dari sisi lingkungan, yakni limbah debok sintetis dapat diolah sedemikian rupa sehingga lebih ramah lingkungan.

Lebih lanjut diterangkan Catur, dalam pementasan wayang kulit, khususnya di pedesaan, penggunaan debok asli bukan menjadi masalah. Karena masih tersedia banyak tanaman pisang.

Beda kasus ketika wayang kulit dipentaskan di Kota Besar atau bahkan luar negeri yang bakal lebih sulit mendapatkan debok asli. (mg1/wa) Editor : Damianus Bram
pelepah pisang Catur Nugroho Prodi Pedalangan ISI Surakarta Debok Antibosok wayang kulit debok anti bosok debok sintetis