Ya, wacana kemunduran wayang, bahkan prediksi wayang kulit bakal hilang ditelan zaman, sudah muncul sejak lama. Tapi nyatanya, kecemasan itu tidak terbukti.
Itu ditegaskan Dosen Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Catur Nugroho. Menurutnya, kesenian wayang tradisi ini kendati dianggap kuno bagi sebagian orang, namun tetap eksis sampai sekarang. Bahkan mampu menghidupi banyak orang.
"Lho, dalang-dalang, dan para pengrawit itu kaya-kaya. Jangan salah. Jumlah pentas wayang itu masih banyak. Tiap dalang, ada yang jadwalnya full pentas selama sebulan. Itu ada dan banyak," ungkap Catur kepada Jawa Pos Radar Solo akhir pekan kemarin.
Artinya, pertunjukan wayang itu sebenarnya tidak surut. Hanya saja, penanggap wayang atau pihak yang menggelar pentas wayang, masih bersifat kedaerahan.
Misalnya begini, mungkin di Kota Bengawan jarang ditemui empu hajat menangkap wayang kulit. Tapi jika bergeser ke Boyolali, Sragen, atau Karanganyar, pagelaran wayang jamak ditemui.
“Sebenarnya, antusiasme penanggap wayang kalau ditanya apakah semakin surut? Ya tidak juga. Karena jika dilihat beberapa dalang, intensitas pentasnya luar biasa. Dulu memang sempat seperti itu, satu dekade yang lalu. Pertunjukan wayang sempat terlihat surut. Tapi kemudian lambat laun meningkat lagi. Fenomenanya mungkin pas adanya dalang Seno Nugroho (pentas) melalui YouTube. Itu pertunjukan wayang jadi lebih populer," beber dia.
Diakui Catur, tantangan mendekatkan pertunjukan wayang di era milenial memang cukup berat. Tapi jika menelisik lebih dalam, sebenarnya wayang punya pangsa pasar dan komunitas tersendiri. Siapa pasarnya? Ya anak muda di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur.
"Karena ketika bicara wayang, kalau secara nasional, anak muda itu masih sulit memahami. Balik lagi, wayang itu sifatnya kedaerahan. Lokalitasnya masih tinggi. Otomatis, pertanyaan bagaimana menghadapi tantangan wayang di era milenial? Memang saat ini belum bisa menembus terlalu dalam ke anak muda zaman sekarang," urainya.
Tapi jika konteks anak muda yang dimaksud adalah milenial kedaerahan, alias anak-anak di Solo dan sekitarnya, Catur menyebut, masih banyak yang berminat terhadap wayang. Sehingga tantangan yang dihadapi menjadi tidak terlalu berat. Generasi muda penggemar wayang ini tidak lepas dari penggunaan bahasa Jawa yang bisa mereka mengerti.
"Karena wayang itu bahasanya Jawa, anak-anak milenial secara lebih luas, memang agak sulit memahami karena terkendala bahasa. Tapi kalau anak-anak muda di Solo dan sekitarnya, sudah cukup bagus minatnya. Terbukti banyaknya sanggar pedalangan, karawitan, maupun kesenian tradisi lain yang ada di Kota Solo. Bisa dilihat juga dari jumlah mahasiswa ISI Surakarta di pedalangan atau karawitan setiap tahun semakin meningkat. Animonya semakin bagus," papar Catur.
Lebih lanjut diterangkan Catur, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menarik minat anak muda terhadap kesenian wayang. Salah satunya membuat format pertunjukan yang kekinian. Di antaranya membuat pagelaran wayang berbahasa Indonesia. Menurutnya, itu akan membuat wayang lebih menasional dan mudah dipahami.
"Kita nggak usah muluk-muluk jaga tradisi, wong kita tidak tahu bahasanya kok. Bagaimana mau cinta? Tapi ketika wayang dikemas dengan Bahasa Indonesia, ada kemungkinan akan lebih menasional. Masalahnya, hal semacam itu setahu saya juga sudah ada. Sudah pernah dilakukan. Tapi kenyataannya, yang saya heran itu, tidak bisa bertahan dan tidak bisa populer. Karena sulit kalau kita menciptakan sebuah kesenian yang baru," urainya.
Terpisah, Yudha Ibnu Mutaqin, mahasiswa program studi Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Surakarta menuturkan, meskipun kemajuan teknologi begitu pesat, tapi minat milenial melestarikan wayang tetap tinggi. Bermunculan dalang-dalang cilik.
"Potensi mereka untuk ndalang luar biasa. Apalagi ada media YouTube, penonton wayang juga meningkat. Sudah banyak yang melek untuk mencintai kebudayaan wayang," ujar mahasiswa semester 5 itu.
Selain itu, lakon wayang tidak sebatas mengacu pada Mahabarata maupun Ramayana. Banyak dalang mengangkat cerita baru untuk menarik audiens.
"Pakem itu bukan sebuah aturan yang mengikat. Tapi menjadi acuan dan fondasi. Setelah fondasi kukuh, maka pijakan untuk membawa alur cerita, sabetan-nya, bentuk cengkok atau suluh, bisa eksplor. Kemudian sanggit atau cerita bisa mulai garap sendiri," jelasnya.
Di bangku kuliah, Ibnu diajari pakem pertunjukan wayang ditambah sejumlah inovasi. Di antaranya, iringan gamelan dikombinasikan dengan alat musik modern. Kemudian alur ceritanya dipadatkan dan dimasukkan isu-isu terkini.
"Alur bisa dibolak-balik, yang penting klimaksnya sama. Melatih menginovasi lakon menurut sudut pandang kita. Ada program Jemuah Legen. Jadi setiap Jumat Legi satu mahasiswa dari jurusan Pedalangan pentas secara bergilir memadahi kreativitas mereka," terangnya.
Terkait perhatian pemerintah eks Karesidenan Surakarta terhadap pelestarian wayang kulit, Yuda mengatakan sangat baik. Di Kota Bengawan telah dibentuk program Dharma Suta. Setiap satu bulan sekali, diadakan pentas wayang kulit.
“Jangan sampai wayang diakusisi negara lain karena tidak ada perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Kalau sudah begitu, baru berontak. Kami disini berupaya agar wayang bisa lebih terkenal,” pungkasnya. (aya/atn/wa) Editor : Damianus Bram