Fotografi wayang hadir bukan untuk mendobrak tradisi yang ada. Justru menjadi satu cara mendiplomasikan budaya, khususnya wayang di kancah internasional.
“Respons positif terhadap fotografi wayang muncul dari berbagai kalangan akademisi. Bahwa fotografi itu juga menjadi bagian dalam melestarikan budaya. Sekaligus alat diplomasi budaya terhadap negara lain. Bahwa wayang itu tetap milik bangsa Indonesia," tegas fotografer wayang Fauzie Helmy kepada Jawa Pos Radar Solo.
Sejak 2013, Helmy memulai concern-nya terhadap fotografi wayang. Kala itu, Helmy mengaku sering dipandang sebelah mata. Tidak banyak yang merespons karyanya. Bahkan tidak jarang dirinya disepelekan.
Namun Helmy tak patah arang, dirinya mulai memamerkan hasil jepretan wayangnya di delapan kota di tujuh negara. Hasilnya, menggembirakan.
"Sekarang banyak fotografer muda mulai mempelajari soal wayang. Memotret wayang. Kemudian mempelajari tentang alur cerita wayang. Juga mulai mengoleksi wayang. Artinya, ini adalah cara kami untuk melestarikan budaya dengan cara berbeda," beber dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Fakultas Seni Media Rekam Jurusan Fotografi itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, lanjut Helmy, dunia fotografi menjadi sesuatu yang penting. Hampir semua orang bisa memotret. Bisa menggunakan device kamera profesional, atau sesimpel dengan kamera smartphone.
Menurutnya, ini adalah cara berkesenian sekaligus pelestarian wayang dengan sudut pandang fotografi. “Dan kami termasuk yang paling happy. Karena sekarang menjamur fotografer wayang. Bukannya kami ingin mendobrak tradisi, tapi ingin bisa masuk ke ranah dunia milenial. Karena kami tetap memperhatikan tatanan-tatanan dalam bercerita. Kami tidak mengubah jalur dunia pewayangan. Tapi kami hanya merespons dengan sudut pandang yang lebih unik. Lebih kreatif, sehingga wayang ini bisa diterima oleh semua kalangan," urai dia.
Hasil jepretan Fauzi Helmy semakin ciamik dengan dikolaborasikan teknologi digital. Sebut saja dunia metaverse dengan teknologi real time interactive media.
Ini yang sedang dikembangkan para ekspertis sekaligus akademisi Fakultas Desain Komunikasi dan Visual (DKV) Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta.
"Kehadiran kami merespons wayang itu ke dalam dunia digital. Pakemnya tidak kami hilangkan, dalam arti ceritanya tetap original. Kami sebenarnya hanya alih wahana. Meminjam media baru agar kita bisa mengisi ruang kosong tentang pertunjukan wayang yang mungkin tidak tersebar ke generasi yang sangat luas," kata dosen DKV Universitas Binus Jakarta Emmanuel Putro Prakoso saat berkunjung ke Kota Bengawan.
Harapannya, ketika wayang masuk ke wilayah yang imersif dengan interaktif media. Maka segmentasi umur sampai berbagai lapisan sosial yang bisa menikmati wayang bakal lebih luas. Bahkan ketika wayang dihadirkan dalam bentuk suasana baru seperti di mal, akan menjadi sesuatu yang menarik.
“Bukan berarti wayang konvensional yang selama ini diselenggarakan tidak menarik. Tapi balik lagi, agar ruang kosong untuk mengalihwahanakan pagelaran wayang agar tetap lestari. Tanpa meninggalkan esensi-esensi dari cerita, lakon, dan alur yang sudah dibuat oleh empu-empu terdahulu," tandasnya. (aya/wa/dam) Editor : Damianus Bram