SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo
Alunan musik terdengar dari sebuah restoran di kawasan Sriwedari. Tak seperti musik pada umumnya. Sekilas mirip musik akustik. Namun saat didengarkan lebih jelas, musik itu tercipta dari gebukan ember dan drum plastik. Ditambah suara denting dari botol kaca yang bertemu dengan sendok. Beberapa kali juga terdengar suara kentongan melengkapi musik tersebut. Uniknya, yang memainkan musik itu adalah sekelompok oma-oma. Alias nenek-nenek yang masih lincah dan atraktif.
Ya, memasuki usia lanjut, tak jarang rasa sepi datang menyerang. Untuk menghalau kesepian itu, para lansia perlu punya kesibukan. Sayangnya, di usia yang tak lagi muda, mereka sulit menemukan hobi yang tepat. Alhasil ini memengaruhi psikologis lansia. Mereka sering kehilangan nafsu makan dan merasa bosan.
"Nah, saya dan teman-teman seusia saya memutar otak mencari hobi yang mudah tapi tetap menyenangkan. Yang paling bisa dilakukan banyak lansia adalah bermain musik. Tapi tidak semua bisa alat musik. Maka alat musiknya diganti barang-barang bekas. Kami coba, ternyata bisa. Akhirnya kami bentuk grup musik Rangker's Putri Maria," ungkap Niniek SM, pentolan grup musik barang bekas ini kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (15/12).
Niniek berusia 71 tahun, sementara teman-teman dalam grup musiknya mayoritas berumur 60 tahun. Pada zamannya, hubungan mereka adalah guru dan murid SD Putri Maria, salah satu SD di Kota Bengawan yang saat ini sudah berganti nama. Di sekolah tersebut, bermain musik menggunakan barang bekas menjadi sebuah ekstrakurikuler. Nah, keseruan ekstrakurikuler ini mereka hadirkan kembali di masa tua.
"Ternyata banyak yang antusias. Kami ajari cara memukul galon, ember, botol kaca, kentongan, dan lain sebagainya agar bisa menghasilkan harmoni nada yang enak didengar. Ternyata tidak sulit. Mereka bisa melakukannya. Akhirnya ketagihan," ujarnya.
Dari yang awalnya latihan hanya untuk mengisi waktu luang alias bersenang-senang, kini mereka mulai sering latihan untuk mengisi berbagai acara. Bahkan mereka membuat video di YouTube yang memiliki subscriber dan viewers cukup banyak. Artinya, eksistensi grup musik rangkas atau barang bekas ini, cukup mencuri atensi masyarakat.
"Ternyata mereka enjoy sekali. Ada yang cerita ke saya. 'Wah, setelah sering latihan, saya jadi mau makan. Biasanya saya makan tidak pernah habis'. Saya kan senang mendengarnya. Hanya dengan berkumpul, bermain musik, mereka bisa lebih happy. Kegiatan yang sangat murah meriah," lanjutnya.
Grup musik ini terdiri dari 23 anggota. Namun yang berdomisili di Solo hanya 17 anggota. Dalam sepekan, mereka bisa berlatih lima kali. Tak heran, kendati sudah berusia lanjut, mereka mahir memainkan alat musik dari barang bekas dengan indah dan enak didengarkan. Bahkan beberapa kali mereka tampil di car free day (CFD) Slamet Riyadi menunjukan aksinya.
"Kami ingin berkontribusi di bidang musik dengan berbasis limbah. Meskipun kami lansia, kami tetap melatih ketrampilan dengan bermusik. Menyeimbangkan nada pikiran, ketukan, dan gerakan yang kompak," ujar dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram