A. CHRISTIWAN, Solo, Radar Solo
Puluhan tahun pria yang akrab dipanggil Narto ini melukis bodi becak. Usaha melukis becak ini sudah dia rintis sejak 1980. Awalnya usaha ini milik sang ayah. Kemudian dia ikut membantu. Dari situ Narto belajar cara melukis becak.
"Caranya juga mudah. Dilihat dulu kondisi becaknya seperti apa. Kalau karatan nanti dihilangkan dulu karatnya dengan amplas sampai hilang. Setelah itu diberi cat dasarnya," jelas Narto.
Setelah cat dasar jadi, barulah Narto mulai melukis bodi becak itu. Untuk tema lukisan tergantung pemesan. Apabila pemesan dari paguyuban, biasanya seragam dan dimuat nama dari paguyuban tersebut.
"Biasanya minta dibuatkan pemandangan alam, binatang, Atau ikon kota tempat becak itu berasal," ungkapnya.
Lukisan itu digarap di rumahnya, di Rusunawa Keprabon, Kecamatan Banjarsari. Dia masih mempertahankan cara-cara tradisional, yaitu menggunakan kuas. Pernah dia memakai airbrush, tapi hasilnya kurang maksimal. Sebab, media yang dilukis tidak rata, jadi lebih rapi kalau pakai kuas.
"Kalau kesulitan tidak ada ya. Sama saja dengan melukis di kertas atau di kanvas. Tapi bagian sisi kanan dan kiri harus selaras juga. Sehingga ketika dipasang di becak jadi cantik tampilannya," papar Narto.
Narto biasanya menggunakan cat minyak. Setelah itu ditimpa cat transparan agar awet. Lama pengerjaan bisa memakan waktu satu sampai dua jam tergantung tingkat kerumitannya. "Ya kalau semakin rumit bisa lebih lama. Tapi ya rata-rata dua jam lah," ungkap Narto.
Untuk jasa pelukisan becak ini, dia mematok Rp 100 ribu per becak. Namun sayang, semakin tenggelamnya becak sebagai sarana transportasi, para penarik becak sudah tidak banyak yang memakai jasanya lagi.
Berbeda dengan era 1990 hingga awal 2000. Di mana becak masih menjadi sarana transportasi bagi masyarakat yang akan berpergian.
"Kalau dulu bisa borongan. Misal sehari biasa garap 10 becak dari paguyuban A, kemudian perorangan juga banyak. Tapi sekarang, sebulan ada yang minta lukis saja sudah alhamdulillah," ujarnya.
Namun kondisi tersebut tak membuatnya patah arang. Untuk hidup sehari-hari dia dan istri membuka warung makan di rumahnya. Soal rencana pemkot akan memberdayakan becak di Kota Bengawan sebagai pariwisata, Narto menyambut dengan gembira.
Dia berharap bisa diajak terlibat, untuk ikut merestorasi tampilan fisik dari becak-becak tersebut. "Tentu nanti becak kan butuh dipoles agar lebih cantik, " harap Narto. (*/bun) Editor : Damianus Bram