SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Stand tato temporer milik Shafa benar-benar laris manis pada akhir pekan lalu. Stand miliknya memberi nuansa yang berbeda di tengah pameran fesyen bekas atau yang dikenal dengan istilah thrifting yang dihelat di salah satu lokasi publik di Kota Bengawan. Kalangan anak muda yang sedang dilanda demam fesyen branded second itu akhirnya mulai tertarik dengan stand Shafa yang melayani pembuatan tato temporer.
“Sebetulnya tato temporer sudah banyak di kota-kota lainnya, kebetulan di Solo belum ada, makanya saya tertarik untuk memulai usaha ini. Dan makin ke sini makin banyak peminatnya,” kata dia kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (14/2/2023).
Untuk tarif sesuai dengan tingkat kerumitan dan luasan tato yang akan dilukis di badan. Awalnya dia membuat sketsa dulu dengan bantuan bolpoin yang disapukan samar ke bagian tubuh pelanggan. Setelah sketsa jadi, kemudian baru menyapukan tinta khusus yang dipakai untuk tato temporari. Butuh beberapa waktu bagi pelanggan untuk menunggu tinta berbentuk gel itu mengering hingga membentuk guratan garis yang sempurna menyerupai tato asli yang dikenal dengan istilah seni rajah itu.
“Dari aku memang bener-bener free hand. Proses gambarnya itu tergantung desain. Kalau simpel paling 5-10 menit jadi. Tapi kalau rumit bisa sampai satu jam. Tergantung desainnya,” ujarnya.
Setelah tato jadi, pelanggan menunggu kering sekitar 30 menit sampai tintanya kering dan mengelupas. Durasi waktu bertahan bisa sampai tiga minggu baru memudar dengan sendirinya. “Tergantung jenis kulit masing-masing,” terang dara kelahiran Solo, 8 Maret 2001 itu.
Sejauh ini pelanggan yang datang dari kalangan anak muda. Mereka ingin terlihat trendi dengan memiliki tato, namun tidak dapat izin orang tua atau keluarga karena tidak boleh membuat tato permanen. Rata-rata usia 20-30 tahun.
Dari sudut pandang pribadinya, tato temporer ini bisa menjadi salah satu solusi bagi mereka yang belum berani atau belum punya kesempatan untuk membuat tato permanen.
“Saya berangkatnya dari pengalaman sendiri. Kebetulan saya pengin punya tato tapi tidak boleh sama orang tua. Akhirnya coba-coba bikin tato temporer sendiri. Kebetulan saya kuliah di jurusan seni rupa murni. Hasilnya saya unggah di media sosial. Dari sana mulai ada yang tertarik dan akhirnya muncul dorongan untuk jadikan bisnis ini,” terang dia.
Sampai hari ini Shafa cukup percaya diri dengan kemampuan gambarnya. Sebab itu, semua jenis dan permintaan desain dari pelanggan dia penuhi. Mulai dari realis, geometrik, potret, dan sebagainya bisa dia kerjakan dengan hasil yang memuaskan bagi pelanggannya.
Tak heran dalam sembilan bulan ini dia mulai mendapat tawaran dari sejumlah tato artis untuk belajar bersama di studio tato milik seniman-seniman tato itu. Meski ingin mengembangkan kemampuan, dia belum mengambil kesempatan itu mengingat dia juga masih bekerja menjadi seorang kreator konten di salah satu kedai kopi di kawasan Singosaren.
“Sejauh ini respons dari masyarakat cukup baik. Malah ada beberapa tato artis yang mengajak gabung ke studionya. Sebetulnya penien juga untuk menyeriusi ini atau ke depan juga benar-benar belajar tato permanen. Tapi saat ini masih kerja dan kuliah dulu,” tutur warga Mondokan, Jebres itu. (*/bun) Editor : Damianus Bram