SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Sejak muda, Bimo memang sudah menyenangi alat musik pukul atau yang dikenal dengan istilah perkusi. Tak heran dia sangat aktif dengan berbagai kegiatan musik. Mulai dari drum band hingga marching band. Baik saat masih duduk di taman kanak-kanak sampai lulus SD. Beranjak SMP, pria kelahiran Surakarta, 31 Desember 1989 itu mulai menyeriusi musik klasik dengan istrumen gitar. Hingga akhirnya dia memilih serius di jalur musik perkusi.
“Saya terinspirasi kakek karena beliau dulu juga pemain drum band di TNI AD. Sempat belajar gitar serius dengan les privat tapi akhirnya lebih fokus ke Jimbe. Karena di era 2000-an Jimbe itu bisa dibilang masih hal baru untuk dunia musik perkusi, dan tidak semua orang punya kala itu,” kata dia.
Dari sekadar hobi, Bimo mulai menekuni seni bermain jimbe dengan ikut sejumlah komunitas. Kemudian tergabung dalam grup perkusi beraliran kontemporer bernama Jawa Jine. Bersama grup perkusi itu dia mulai pentas dari panggung ke panggung sampai dikontrak dalam event road show sebuah bank ternama serta jadi penampil dalam berbagai pentas-pentas besar di Kota Bengawan.
Melalui berbagai proses itu, bapak satu anak ini akhirnya juga menekuni seni pembuatan alat musik jimbe hingga hari ini. “Pada 2005 saya ikut orang produksi jimbe dan 2011 mulai bikin usaha pembuatan alat musik jimbe. Dan masih produksi sampai hari ini.” terang warga Gumpang, Kartasura, Sukoharjo itu.
Pengalaman manggung dan produksi jimbe itu akhirnya dia amalkan untuk melatih sejumlah anak-anak sekolah. Kegiatan mengajar itu awalnya sudah dia lakukan sejak masih duduk di bangku SMA. Dia mengajar sebagai instruktur ekstra kulikuler hingga menjadi guru musik untuk beberapa sekolah sampai saat ini.
Uniknya, Bimo memiliki cara yang berbeda-beda dalam setiap pengajaran di berbagai sekolah tersebut. “Basiknya musik perkusi, tapi praktiknya berbeda-beda di setiap sekolah. Misalnya di SD Pangudi Luhur mengajar musik perkusi dengan jimbe karena fasilitas sekolah sudah ada. Berbeda lagi di sekolah lainnya misalnya musik angklung karena sekolah punya fasilitas itu. Kalau tidak ada bisa dengan alat musik dari bahan-bahan seadanya seperti galon bekas, ember bekas, botol bekas, dan lainnya,” kata dia.
Yang menarik adalah kesempatan saat dia dipercaya untuk mengajar musik perkusi di salah satu sekolah yang memiliki banyak anak berkebutuhan khusus di kawasan Banjarsari dalam beberapa tahun terakhir ini. Dalam situasi ini tentu dia menerapkan cara mengajar yang berbeda.
“Sebetulnya sekolah yang memiliki pelajaran musik perkusi atau hanya sebatas ekstra kulikuler itu basiknya untuk menyalurkan kesenangan anak dan menghilangkan rasa jenuh belajar. Jadi pendekatannya lebih gampang daripada mengajar perkusi untuk anak berkebutuhan khusus,” beber Bimo.
Beruntung dia selalu didampingi sang istri yang memiliki latar belakang pendidikan khusus. Sebab, dia juga berprofesi sebagai tenaga ahli untuk terapi wicara di Pusat Layanan Disabilitas dan Pelayanan Inklusi (PLDPI) Surakarta.
Bimo selalu berkomunikasi dengan istri jika menghadapi kendala dalam mengajar anak berkebutuhan khusus. Dari pengalaman sang istri itu dia mulai mengaplikasikan untuk mengajar anak berkebutuhan khusus melalui musik perkusi.
“Anak berkebutuhan khusus ini memiliki karakter yang berbeda. Kadang energinya sangat banyak sehingga harus disalurkan dengan media yang tepat. Karena itulah perkusi ini yang cocok. Saya menyebutnya ritem terapi. Jadi mengarahkan energi dan emosi anak ke arah yang lebih positif,” kata dia.
Manfaat mengajarkan musik perkusi pada anak berkebutuhan khusus adalah si anak jadi lebih tenang dan semakin siap untuk menyerap pelajaran-pelajaran lain yang diberikan pihak sekolah. Bonusnya, bisa memberikan rasa bangga pada orang tua anak berkebutuhan khusus bahwa anak-anak mereka juga bisa berkarya melalui musik.
“Saya melihat banyak hal melalui pengajaran pada anak berkebutuhan khusus seperti ini. Kadang ada orang tua yang seakan kurang support dan sejenisnya. Ini yang mencoba dibangun melalui musik ini,” ujar dia.
Selain motorik anak makin baik, kebersamaan dengan orang tua bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Musik bisa menyentuh banyak orang, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Faktanya anak berkebutuhan khusus ini bisa tampil luar biasa jika diarahkan dengan baik. (*/bun) Editor : Damianus Bram