IWAN ADI LUHUNG, Radar Solo, Wonogiri
Sebuah masjid berdiri kokoh di puncak bukit kecil di Dusun Pakem, Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro. Masjid bernama Sabiilul Muttaqin ini dikenal masyarakat dengan sebutan Masjid Tiban Gunung Cilik.
Warga setempat meyakini, masjid tersebut menjadi salah satu bukti sejarah menyebarnya agama Islam di wilayah Wonogiri bagian selatan, khususnya Kecamatan Pracimantoro.
Takmir Masjid Sabiilul Muttaqin Sutomo menuturkan, masjid tiban ini diyakini sudah ada sejak 409 tahun lalu. Berdasarkan cerita turun temurun, kala itu, hanya ada delapan rumah di selatan masjid atau wilayah Gunung Cilik.
Suatu ketika, saat masyarakat beraktivitas tiba-tiba melihat langgar atau masjid kecil di puncak Gunung Cilik. Tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa yang membangun.
”Jadi tiba-tiba ada langgar itu. Padahal warga tidak merasa ada yang membangun langgar di sana,” kata Sutomo baru-baru ini.
Masjid Tiban itu lebih tinggi dibanding pemukiman warga. Pasalnya, lokasinya berada di puncak bukit kecil. Sutomo menuturkan, dulunya masjid tiban dibangun dari kayu. Diduga, atapnya terbuat dari sirap atau ijuk. Bentuk asli masjid pun belum diketahui.
”Dulu, kemudian dibersihkan dan dipakai salat. Warga Girisubo (Gunungkidul, Red) juga ada yang datang untuk menunaikan salat Jumat di sana,” papar dia.
Meski termakan usia, warga kala itu tak ada yang berani memperbaiki. Hingga akhirnya warga menyelamatkan kayu blandar masjid, kemudian ditemukan kitab kecil bertuliskan arab di atas kayu. Buku tersebut baru diketahui keberadaannya saat itu.
”Kena panas dan hujan masih aman. Sekarang sampulnya yang tidak ada, tapi masih bisa dibaca,” kata dia.
Pada 2012 lalu, warga membangun masjid di titik masjid tiban. Dan jadilah bangunan saat ini. Sementara peninggalan kitab kuno masih disimpan sesepuh desa secara turun menurun. ”Ada dua kitab kuno, warnanya kuning. Keduanya juga bertuliskan huruf arab. Bahannya terbuat dari kulit hewan dan ditulis tangan. Sementara itu, isinya tulisan Alquran, bacaan tahlil dan mujarobat. Sebab ada beberapa simbol bertuliskan arab,” tandasnya. (*/adi) Editor : Damianus Bram