IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo
Sebuah masjid kokoh berdiri di Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno, Wonogiri. Masjid yang dinamai Masjid Tiban Wonokerso ini dibangun oleh Wali Songo ratusan tahun lalu.
Takmir Masjid Tiban Wonomerso Slamet mengatakan, diperkirakan masjid ini dibangun pada 1479. Bangunan masjid masih berdiri tanpa diubah bentuk maupun bahan bangunannya.
”Pakai kayu semua bangunan induknya. Semuanya masih asli,” kata Slamet, kemarin (12/4/2023).
Masjid ini memiliki luas sekira 7x7 meter. Masjid berdiri di sejumlah batu umpak, alas pilar-pilar bangunan masjid. Sementara bangunan beratap tumpang dua dengan bahan kayu. Saat masuk ke dalam, harus menundukkan badan karena pintu masuk berukuran 1x1 meter. Sementara empat pilar kayu menopang atap dan kerangka. Hanya saja, atapnya diganti.
”Dulu atapnya kayu sekarang genting. Renovasi tidak mengubah bentuknya,” kata Slamet.
Masjid ini juga masih difungsikan, baik untuk salat lima waktu maupun salat Jumat. Slamet menambahkan, berdasarkan kisah turun temurun, masjid ini diyakini peninggalan Wali Songo. Dikisahkan, dulunya para wali mencari kayu untuk membangun Masjid Demak.
Saat menelusuri sungai Bengawan Solo, para wali akhirnya tiba di lokasi tersebut. Ditemukan hutan namun kayunya dinilai belum cukup untuk mendirikan Masjid Demak. Hingga wali yang dipimpin Sunan Kalijaga sepakat untuk beristirahat. Lalu mendirikan bangunan yang dikenal sebagai Masjid Tiban Wonokerso tersebut.
”Di sini salat dan istirahat,” kata dia.
Para wali juga meminta petunjuk kepada Allah dimana bisa mendapatkan kayu jati berukuran besar untuk membuat Masjid Demak. Kemudian para wali mendapatkan petunjuk kayu itu berada di Hutan Donoloyo yang kini masuk wilayah Kecamatan Slogohimo. Mereka akhirnya pergi ke lokasi tersebut. Peristiwa itu terjadi pada 1479 masehi.
Berjalannya waktu, kata Slamet, area sekitar masjid tertutup hutan. Beberapa ratus tahun kemudian masjid ini ditemukan oleh Raden Mas Said. Saat itu, Raja Mangkunegara I ini sedang bergerilya melawan Belanda dan bersembunyi di wilayah Wonogiri. Mereka bersembunyi di semak-semak di sekitar sana. Saat keluar dari persembunyian, ternyata yang digunakan untuk bersembunyi adalah kolong masjid.
Usai perjuangan melawan Belanda, raja yang dijuluki Pangeran Sambernyawa ini mengutus tiga orang ke Wonogiri. Tujuan utamanya adalah merawat masjid tersebut dan kemudian ketiganya juga mendirikan Dusun Wonokerso.
”Kalau penyebutan tiban sendiri karena tidak tahu siapa yang membuat dulunya, sebab di tengah-tengah wono (alas) ada masjid, ditemukan pertama oleh Raden Mas Said,” tandas Slamet. (*/adi) Editor : Damianus Bram