A CHRISTIAN, Solo, Radar Solo
Pemuda 26 tahun ini terlihat menenteng kresek hitam besar di gedung flamboyan lantai 9 RSUD Dr Moewardi belum lama ini. Di dalam kresek ini berisi makanan serta takjil. Dia lantas memasuki satu per satu ruang bangsal. Ya, selama bulan suci Ramadan ini, Raka bersama anggota Chillhood Cancer Care Solo membagikan makanan bagi keluarga pasien.
Kedatangan Raka sontak membuat bahagia para fighter yang sedang menjalani pengobatan di rumah sakit. Beberapa anak meneriaki namanya saat dia berkunjung. Bahkan beberapa di antaranya sampai memeluk erat tubuh Raka.
Ya, sejak sembuh dari penyakit leukimia pada 2014 silam, selain menempuh pendidikan, Raka intens mendampingi para anak yang berjuang melawan kanker di RSUD Dr Moewardi. Sehingga wajar para anak sangat dekat dengannya.
Dia sendiri, kali pertama menjadi relawan setelah diajak berkegiatan oleh salah satu Founder 3C. Tak pikir panjang dia menyanggupi ajakan tersebut.
"Mungkin seperti bentuk balas budi ya mas. Jadi waktu saya sakit dulu, saya juga mendapat pendampingan dan relawan di sini. Setelah saya diwisuda (istilah fighter yang sudah dinyatakan sembuh) dari kanker akhirnya saya mau bergabung," ungkap dia.
Raka mengaku, tak banyak survivor atau orang yang sudah sembuh dari kanker mau menjadi relawan. Karena pengabdian ini berkaitan dengan mental mereka.
"Ada yang tidak mau terpublis kalau mereka pernah terjangkit kanker. Ada juga yang trauma. Jadi mereka tidak mau mendampingi para fighter," ungkap dia
Diakuinya pola pikir masyarakat terhadap kanker masih minim. Sebab, banyak survivor yang dijauhi teman bahkan keluarga setelah sembuh. Mereka masih percaya mitos bila kanker ini menular. Padahal tidak sama sekali.
Dia pun pernah mendapatkan perlakuan tersebut. Sehingga dia sekaligus memberikan edukasi terhadap mitos dan fakta seputar kanker itu tidak benar. Setelah memberikan pengertian tersebut, orang terdekatnya akhirnya bisa menerima Raka kembali.
"Ada juga masyarakat mikirnya kalau anak yang sembuh dari kanker jangan dikasih pekerjaan yang berat, kasihan dan sebagainya. Kalau menurut saya itu juga salah. Padahal setelah mereka sembuh itu anggap saja mereka seperti dulu, jangan diistimewakan," ujarnya.
Jiwa mendampingi para anak yang berjuang melawan kanker ini sudah terpupuk saat Raka masih menjalani pengobatan. Sebab, di bangsal tempat dia dirawat dulu, hanya dialah yang berumur lebih tua.
"Waktu itu umur saya 15 tahun, yang satu bangsal sama saya rata-rata umur 5 tahun ke bawah. Sudah seperti adik-adik saya semua. Jadi sudah biasa ngemong sejak sakit. Misal ada yang rewel, muntah atau rontok rambutnya setelah kemo, saya bilang sama mereka. Ini lho, kakak juga rontok rambutnya, muntah juga, semangat, yuk sembuh bareng. Setelah itu kami main bareng," ujarnya.
Tak sekadar mendampingi, Raka juga menjadi motivator bagi anak penderita kanker lainnya yang belum sembuh. Dia mengaku selalu melakukan pendekatan kepada orang tua dan anak-anak penderita kanker, tak sedikit juga para orang tua yang berkeluh kesah kepada Raka.
"Biasanya mereka curhat bagaimana efek dari kemo dan dampaknya pada tubuh, serta cara meminimalisir efeknya seperti apa," ujarnya.
Raka mengakui, untuk bisa sembuh dari penyakit kanker, harus menurut saran medis dari dokter. Selain itu, dia juga berharap agar mereka tetap semangat dan optimis dalam menjalani hari-harinya. (*/bun) Editor : Damianus Bram