Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta Mokhamad Zainal Anwar menjelaskan, tradisi salaman saat Lebaran tidak hanya sekadar datang, makan, dan pulang. Banyak keutamaan yang bisa didapatkan dengan melakukan tradisi tersebut.
”Dalam tradisi santri ada keyakinan akan adanya barokah (bertambahnya kebaikan dan kebahagiaan). Dengan silaturahim, maka kita akan bisa saling berbagi cerita, saling menyemangati, dan saling mendoakan kebaikan,” jelas pria yang juga Member Imam Besar Masjid Raya Sheikh Zayed Solo kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (19/4/2023).
Ketika bertanya soal kabar, lanjutnya, sesama manusia juga akan saling bertukar cerita pengalaman hidup. Yang mana bisa memunculkan bantuan atau solusi jika ada kendala.
”Contohnya jika ada kesulitan ekonomi, bisa jadi akan mendapat tawaran pekerjaan dan sebagainya. Jadi tradisi salaman tidak sekedar datang, makan dan pulang,” tambahnya.
Tradisi salaman juga tidak hanya dilakukan di lingkup keluarga. Di masyarakat umum, salaman bisa meluas ke tetangga lingkungan sekitar.
”Kemudian di daerah-daerah yang lekat dengan pesantren dan tradisi santri, tradisi salaman juga meluas ke guru di madrasah, pesantren hingga ke para ulama atau kiai,” tambahnya.
Saat salaman, umat Islam juga bisa berupaya meminta maaf dengan semua. Inilah salah satu keutamaan Idul Fitri.
”Terutama orang tua, keluarga hingga tetangga dekat maupun jauh,” tambahnya.
Selain itu, Idul Fitri memiliki banyak keutamaan lainnya. Zainal menjelaskan keutamaan yang pokok adalah rasa syukur sudah mampu menjalankan ibadah puasa Ramadan sebulan penuh. Kemudian mampu mengalahkan hawa nafsu sehingga berupaya menggapai kembali ke jiwa yang suci atau fithrah.
”Nah, fithrah manusia ini lahir tanpa dosa. Untuk menyempurnakan perlu melakukan zakat (baik harta maupun zakat fitrah),” imbuhnya. (nis/adi/dam) Editor : Damianus Bram