Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Syekh Muhammad Nasher, Tokoh Penyebaran Islam di Jenar, Sragen

Damianus Bram • Kamis, 20 April 2023 | 16:00 WIB
SERING DIZIARAHI: Makam Syekh Muhammad Nasher di Dukuh Singomodo, Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar, Sragen. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
SERING DIZIARAHI: Makam Syekh Muhammad Nasher di Dukuh Singomodo, Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar, Sragen. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.COM - Masyarakat Kecamatan Jenar dan sekitarnya tidak asing dengan nama Kiai Singomodo yang juga disebut Syekh Muhammad Nasher. Dia diyakini tokoh yang dekat dengan Pangeran Diponegoro.

AHMAD KHAIRUDIN, Sragen, Radar Solo

Makam Syekh Muhammad Nasher berada di Dukuh Singomodo, Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar. Kompleks makam berada di tempat yang cukup tinggi. Di bawahnya ada musala dan pemakaman warga. Untuk menuju ke lokasi makam Kiai Singomodo, harus menaiki beberapa anak tangga. Makamnya sering diziarahi, baik dari Jawa Timur maupun pantai utara. Selain itu lokasi makam di sekitar perkebunan tebu.

Kisah Kiai Singomodo diturunkan dari generasi ke generasi secara lisan. Sehingga banyak cerita yang sedikit berbeda. Namun berdasarkan penuturan juru kunci makam, Slamet, diyakini Kiai Singomodo adalah tokoh yang dekat dengan Pangeran Diponegoro.

Awalnya dia dengan dikawal lima prajurit menyusuri Sungai Bengawan Solo menggunakan gethek bambu. Perjalanannya tersebut untuk menghindari konflik kekuasaan. Dia pun menyamarkan identitasnya dengan nama Singomodo.

Dalam pelariannya, dia memerintahkan pengawalnya untuk tidak melabuhkan perahu. Namun akan bermukim d tempat perahu terdampar. Hingga akhirnya perahu itu berhenti di tempat yang saat ini disebut Dukuh Pungkruk. Lantas Kiai Singomodo menetapkan lokasi itu sebagai tempat yang aman. Kemudian mereka mulai membuka hutan untuk dijadikan pemukiman.

Kiai Singomodo kemudian mengajarkan ilmu agama pada warga sekitar. Saat itu muridnya ada sekira 100 orang, Kemudian menyebar ke berbagai wilayah untuk melakukan  penyebaran agama Islam.

Kepala Desa (Kades) Kandangsapi Pandu menyampaikan, ada wasiat dari Kiai Singomodo yang tidak pernah berani dilanggar warganya. Yakni larangan bagi warga Dukuh Singomodo RT 5 RW 2 mengundang sinden atau penyanyi yang dapat menimbulkan syahwat saat hajatan. Namun diperbolehkan menggelar salawatan, hadrah, dan sebagainya.

”Warga situ, kalau ada hajatan, tidak boleh ada sinden. Khusus menampilkan hadrah Islam. Hal ini bagian dari upaya penyebaran islam,” terangnya.

Pandu menuturkan, sejauh ini tidak ada warga yang berani melanggar. Lantaran jika nekatm bakal hilang atau tidak kembali ke kampung tersebut.

Selain itu Desa Kandang Sapi, khususnya di sekitar makam Kiai Singomodo tidak ada rumah yang menghadap ke timur. Sehingga semua rumah di sekitar menghadap ke selatan. Ketentuan itu terus dilakukan warga setempat hingga saat ini.

Kemudian pihak desa juga menjelaskan yang ziarah cukup banyak. Mulai dari Blora, peziarah dari Jawa Timur dan sebagainya. ”Adanya makam ini termasuk wisata religi, selain itu ada nyadran, habis Lebaran yang digelar petani setempat,” tandasnya. (*/adi) Editor : Damianus Bram
#makam Kiai Singomodo #Makam Syekh Muhammad Nasher #Syekh Muhammad Nasher #Dukuh Singomodo #Kiai Singomodo