Kepada Radarsolo.com, Dody bercerita singkat tentang proses kreatifnya. Diakui Dodi, menuangkan kreativitas, diakui Dody, tergantung mood. Jika suasana hati sedang bagus dan semangat, hitungan hari sudah jadi. Tapi kalau lagi malas, untuk membuat model orang saja seminggu lebih belum tentu jadi.
”Kalau bikin yang ada Pak Ganjar (Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Red) ini empat hari jadi pas lagi semangat,” terangnya.
Dody menjelaskan, untuk membuat pesanan, pihaknya komitmen jaga kualitas. Selain itu dalam membuat tidak boleh terburu-buru, karena bisa mempengaruhi hasil.
”Ada yang pesan 50 unit. Tapi saya sudah pesan di awal kalau tidak bisa mengerjakan tidak bisa keburu-buru,” terangnya.
Soal produk buatannya, dia spesialis dengan tema horor, noir dan rebel. ”Saya buat dari hot wheels bebek, jadi hantu lokal kayak kuntilanak, atau pocong juga pernah. Kalau yang luar dibentuk jadi bentuk horor luar seperti Jason, Freddy, atau Chucky,” jelasnya.
Sementara figur tokoh juga bisa dibuat. Seperti Presiden Joko Widodo, Ahok dan yang terbaru Ganjar Pranowo. Selain itu, untuk kolektor Indonesia biasanya minta karakter komik Marvel dan DC. Seperti Iron Man, Joker dan sebagainya.
”Kalau mau modelnya tidak harus hot wheels bebek. Mobilnya universal, tergantung mobil dan action figure yang ingin dipesan,” jelasnya.
Dody menambahkan, salah satu yang meningkatkan minat pada hot wheels adalah franchise film Fast and Furioust. Pesanan custom diecast pada saat Paul Walker meninggal juga cukup banyak.
”Mintanya macam-macam model figurnya, menggambarkan Paul Walker,” terangnya.
Soal bahan yang digunakan, dia menggunakan clay dan dikerjakan secara manual. Kesulitan tertentu yakni membuat karakter muka, terutama tokoh publik.
”Jadi buat Batman, Joker, Spiderman, atau karakter horor seperti leak lebih mudah daripada buat karakter muka Pak Ganjar atau Pak Jokowi,” ungkapnya.
Soal komunitas diecast, kata dia, cukup beragam di wilayah Solo Raya. Ada yang hot wheels fotografi. Sedangkan yang custom selain Dody, ada lagi yang sering buat custom diecast dari Karanganyar dan Ungaran. Bahkan yang buat balapan juga ada.
”Jadi kalau lagi kumpul, yang suka hot wheels macam-macam jadi satu,” terangnya.
Dody menyampaikan, di kalangan internasional cukup banyak yang menyukai modif custom hot wheels. Namun, di Indonesia yang cukup dikenal dalam komunitas, menurutnya, ada dua. Yakni dirinya dan satu orang lagi dari Bali.
”Pesanan yang sampai keluar setahu saya, hanya dua orang, saya dan teman saya di Bali. Modifikasinya juga pakai clay,” terangnya.
Menurutnya, kesenian semacam ini belum diwadahi dan diperhatikan oleh pemerintah. Banyak di antaranya menganggap sekadar hobi. Selain itu kolektor dan senimannya juga belum banyak.
”Belum ada yang sampai memasarkan, apalagi modali. Maksimal pameran, itu pun jarang. Ini harus ada jiwa seninya juga. Saya ngajari teman kadang juga nggak maksimal,” tandasnya. (din/adi/ria) Editor : Syahaamah Fikria