Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Eksistensi Grup Perkusi Rangkas: Alunan Indah Musik Barang Bekas

Damianus Bram • Minggu, 21 Mei 2023 | 16:00 WIB
TERAMPIL: Sejumlah siswa salah satu SD swasta di Kota Solo berlatih memainkan musik rangkas di sekolah setempat, kemarin. (M. IHSAN/RADAR SOLO )
TERAMPIL: Sejumlah siswa salah satu SD swasta di Kota Solo berlatih memainkan musik rangkas di sekolah setempat, kemarin. (M. IHSAN/RADAR SOLO )
RADARSOLO.COM - Alat musik perkusi merupakan seluruh benda yang bisa menghasilkan suara dengan cara digesek, dipukul, dan digoyang, baik dengan alat bantu atau tidak. Di Kota Bengawan, salah satu SD swasta memiliki grup perkusi. Namanya Musik Rangkas, yang memanfaatkan barang bekas.

Grup perkusi Musik Rangkas terbilang unik. Mereka memanfaatkan ember bekas cat, galon air mineral, hingga tong sampah sebagai alat musik. Sebagai pengiring nada, dikolaborasikan dengan sejumlah drum dan belira.

Adalah guru tari SD setempat Niniek Daryonagoro, yang muali membentuk grup perkusi ini sejak 2004 silam. Awalnya, pembentukan grup tersebut secara tidak sengaja.

“Dulu saat saya mengajar tari, pas istirahat, anak-anak mukul tong sampah dan talang air. Setelah saya dengarkan dan pikir-pikir, kok bagus ya alunan suaranya,” ungkap Niniek, Jumat (19/5/2023).

Dari itu muncullah ide membuat grup perkusi. Dia meminta anak didik tarinya untuk membawa barang-barang bekas dari rumah. Ada yang membawa galon air mineral, ember, hingga tutup panci.

“Waktu itu saya menyanyi lagu Padang Bulan lalu diiringi anak-anak yang memukul barang bekas dan kentongan. Setelah itu mulai berkembang sampai sekarang,” imbuhnya.

Di tahun yang sama, yayasan tempat sekolah bernaung mengadakan Jambore. Niniek diminta untuk menampilkan grup perkusi tersebut, untuk mengisi sesi gelaran budaya.

“Ada yang memainkan angklung, band, gamelan, dan lainnya. Tapi karena kami unik, jadi mendapat juara pada 2004 itu. Itulah alasan mengapa saya berani lanjut,” bebernya.

Siapa sangka, Musik Rangkas pernah manggung di pembuka Kreatif Anak Sekolah Solo (Kreasso) 2012, yang waktu itu diinisiasi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Surakarta. Kala itu wali kotanya masih dijabat Presiden Indonesia saat ini Joko Widodo (Jokowi).

“Saya menawarkan dan ditinjau dari ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta. Dinilai layak atau tidak untuk tampil. Hasilnya layak. Kami jadi pembuka Kreasso, dan Pak Jokowi terkesima.. Anak-anak disalami satu per satu,” kenang Niniek.

Seiring berkembangnya waktu, Musik Rangkas diminta perform di berbagai ajang. Di antaranya Balai Kota Surakarta, bahkan sempat diundang ke Klaten dan Jogja. “Saya tidak mengira kami diundang,” lanjut Niniek.

Niniek menguraikan, tingkat kesulitan memainkan perkusi adalah mengatur partitur. Di sini dia membuat sendiri partitur tersebut. “Sebenarnya anak-anak juga sering berkreasi. Partiturnya sering di awang-awang (angan-angan),” paparnya.

Sementara itu, kepala SD setempat Fransisca Romana Srilani menyebut Musik Rangkas merupakan definisi dari bermusik dengan kreativitas tanpa batas. Meski menggunakan barang bekas, namun tetap bisa menghasilkan alunan musik berkelas.

“Sudah masuk ekstrakurikuler. Alat-alatnya difasilitasi sekolah. Kami baru saja tampil, mengisi acara Pramuka Gelar Senja di Balai Kota Surakarta, 17 Mei lalu,” ungkap Fransisca.

Di ajang tersebut, Musik Rangkas menampilkan tujuh lagu. Mulai dari Payung Fantasi, Ajar Basa Jawa, Anoman Obong, Srengenge Yunar, Bengawan Solo, Taman Jurug, hingga Indonesia Pusaka.

“Kami sengaja melestarikan lagu-lagu Indonesia dan Jawa. Seperti Bengawan Solo, apa yang ada di Kota Solo kami angkat. Ada juga lagu Ngarsopuro ciptaan Jowo Tulen. Saya izin penciptanya dibuat perkusi. Beliaunya senang sekali,” imbuhnya. (nis/fer/dam) Editor : Damianus Bram
#Grup Perkusi Rangkas #Musik Rangkas #Perkusi dari Barang Bekas