Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Aan Fauzi, Penyandang Disabilitas yang Tak Kenal Menyerah Berdikari

Damianus Bram • Selasa, 27 Juni 2023 | 17:00 WIB
INSPIRATIF: Aan Fauzi melayani pembeli sabun cair buatannya di Colomadu kemarin. (ISTIMEWA)
INSPIRATIF: Aan Fauzi melayani pembeli sabun cair buatannya di Colomadu kemarin. (ISTIMEWA)
RADARSOLO.COM - Tekad kuat selalu tertanam dalam diri Aan Fauzi. Pemuda 22 tahun yang menderita cerebral palsy ini tidak menyerah dengan keadaan. Bermodal semangat ini dia berusaha mandiri untuk bekal masa depan. Termasuk rutin menyisihkan pendapatanya demi bisa berkurban setiap tahun.

SEPTIAN REFVINDA, Solo, Radar Solo

Aan Fauzi yang juga seorang disabilitas cerebral palsy rela menyisihkan rupiah meski pendapatannya hanya Rp 20 ribu sampai Rp 40 ribu per hari. Menggunakan gerobak sepeda milikinya, dia menjajakan sabun cair cuci piring dan baju buatan sendiri.

Tekad gigih Aan untuk berjualan sudah ada sejak dia duduk di bangku SMA/LB Surakarta. Pada awal pandemi lalu dia mulai membuat sabun cair sebagai tugas sekolah. Melihat peluang yang cukup besar Aan mulai menjualnya kepada guru dan teman-teman sekolahnya.

“Sudah sejak 2021 buat ini. Dulu dibantu bapak dan ibu guru.” ucapnya.

Setelah lulus, Aan berinisiatif terus melanjutkan usahanya. Satu botol sabun cair miliki Aan dijual dengan harga Rp 7 ribu. Aan bekerja mulai dari pukul 08.00 hingga 15.00. Sambil mengayuh sepedanya, dia biasa menjajakan sabun cairnya di sekitar Pasar Colomadu, Karanganyar.

“Biasa di Colomadu, pakai sepeda jualannya,” katanya singkat

Bukan hal mudah bagi Aan untuk mampu membuat sabun cair tersebut. Keterbatasan cerebral palsy yang dia alami membuat dia sedikit kesulitan untuk menggerakkan secara normal. Terutama ketika mengaduk sabun cair hingga menuangkan sabun cair milikinya dalam kemasan, Aan mengaku kesulitan. Untuk mempermudah, guru pendamping sekolahnya dulu membuatkan alat untuk mengaduk sabun cair hingga menuangkan sabun cair ke kemasan.

“Susah memasukkan ke dalam (kemasan), sering tumpah. Jadi dibuatkan alat ini dari sekolah,” kata Aan.

Aan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya yang terlahir normal kini sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi di Solo. Dia mengaku bangga, meski tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi seperti adiknya, dia bisa secara mandiri memenuhi kebutuhannya dengan berjualan sabun cair buatannya.

Alhamdulillah ini masih bisa jualan, dapat uang ditabung dikit-dikit buat beli kambing untuk kurban,” tuturnya.

Aan menekankan, jika memiliki niat maka hal itu akan terwujud. Meski dia menabung untuk berkurban setiap tahunnya, dia dan keluarga tidak pernah merasa kekurangan. Justru kini, di tengah segala kekurangannya dia bersyukur karena akhirnya bisa berkurban.

Bahkan kali ini bukan kurban pertama bagi Aan. Sebelumnya, dia juga pernah berkurban seekor kambing dari hasil jualan sabun cairnya. Dengan segala keterbatasannya dia masih memiliki hati untuk berbagi. Pekerjaan ini dia lakukan dengan penuh keikhlasan meski di tengah segala kekurangannya.

“Pengin berbagi, nanti di akhirat bisa jadi kendaraan saya,” ucapnya.

Ditemui terpisah, mantan pembimbing guru Aan Fauzi saat di SLB Negeri Surakarta, Musowir mengatakan, mantan anak didiknya itu memang memiliki tekad yang kuat untuk mandiri. Meski memiliki keterbatasan, dia berusaha keras untuk bisa menghasilkan uang.

“Kami ajari dia untuk membuat sabun cair sejak 2021. Tetapi karena ada hambatan, tangannya itu tremor dan gerakannya tidak stabil. Kami buatkan mesin. Dia tinggal pencet mesin, bisa mengaduk sendiri,” ucapnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#penyandang disabilitas #Aan Fauzi #cerebral palsy #penjual sabun cuci