Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Heri Sulistyo, Juru Serati Mahesa Kiai Slamet: Merasa Tenteram Tidur Satu Atap dengan Kerbau Pusaka

Silvester Kurniawan • Rabu, 19 Juli 2023 | 17:07 WIB
Telaten: Heri Sulistyo berinteraksi dengan Kebo Bule milik Keraton Kasunanan Surakarta.
Telaten: Heri Sulistyo berinteraksi dengan Kebo Bule milik Keraton Kasunanan Surakarta.

RADARSOLO.COM - Keteguhan abdi dalem Keraton Kasunanan memang tak bisa lagi diragukan. Bahkan hal tak masuk akal pun tetap dilakukan dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih. Nah, inilah yang dilakukan Heri Sulistyo, 42, juru serati Mahesa Kiai Slamet atau kerbau bule.

Tindak-tanduk Heri sebagai seorang pawang hewan peliharaan milik Kasunanan Surakarta memang tak perlu lagi diragukan. Pria lajang yang usianya hampir separo abad itu cukup gemati (sayang) dalam merawat 15 ekor kerbau pusaka yang dikenal dengan sebutan kebo bule oleh masyarakat Solo dan sekitarnya itu.

Saking perhatiannya, pria ini sampai tahu bagaimana perilaku kerbau saat sedang tidak enak badan atau sedang ketakutan karena melihat orang asing masuk ke kendang. Seperti saat Jawa Pos Radar Solo berkunjung ke kandang Maheso Kiai Slamet di sisi selatan Alun-Alun Kidul Keraton Kasunanan Surakarta itu.

"Kadang kalau ada orang yang tidak dikenal mereka (kerbau) itu takut, sampai ngompol (kencing) begini," kelakar Heri saat menunjukkan kedekatannya dengan sejumlah ekor pusaka hidup milik keraton, Selasa (18/7).

Melihat situasi kebo bule tidak selalu terbiasa melihat orang asing, Heri kerap melatih sejumlah kerbau pusaka itu untuk berinteraksi dengan warga melalui berbagai cara. Misalnya dengan mengumbar sekelompok kerbau untuk mencari rumput segar di area alun-alun kidul hingga gladi resik jalan mengitari tembok Benteng Baluwarti seperti jelang peringatan malam 1 Sura.

Kerbau-kerbau itu diarak untuk bertemu banyak masyarakat dan melihat lalu lalang kendaraan agar lebih terbiasa sebelum dikirab pada malam 1 Sura. Agar bisa mengikuti kirab dengan lancar dan selamat sentosa.

"Gladi resik ini dilatih biar terbiasa lihat orang, jadi biar tidak kageta," beber pria asli Kampung Gurawan RT 02 RW 02 Pasar Kliwon itu.

Sebagai seorang pawang, pria kelahiran 26 Januari 1981 itu hapal betul kondisi fisik dan psikologi sekumpulan kerbau yang dia rawat sejak 2012 itu. Sebab itu, jika dirasa tidak siap, seekor kerbau akan dikandangkan sembari mempersiapkan yang lainnya untuk persiapan kirab malam 1 Sura. Selanjutnya kerbau-kerbau yang dirasa siap itu akan dipindahkan ke kandang lama selama sehari.

"Sebelum disengker (dikandangkan) itu biasanya dijamasi dulu. Jadi dimandikan dengan air kembang dan didoakan agar tidak ada halangan. Setelah itu baru dibawa ke kandang lama di Kampung Gurawan," kata dia.

Prosesi sengker di kandang lama itu berlangsung selama setengah hari mulai dari pukul 15.00 atau tepat pada waktu pergantian hari pada penanggalan Jawa. Kebo bule yang sudah disiapkan itu akan dibiarkan berlama-lama di kandang lama sebelum akhirnya dikeluarkan jelang tengah malam dan diarahkan ke depan Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta. Dari sana kerbau pusakan itu akan diarak untuk mengawali kirab malam 1 Sura yang dimulai tepat pada tengah malam itu.

"Jadi setengah jam sebelum kirab kami siapkan dulu di depan keraton. Nanti ada prosesi lagi sebelum di kirab," beber Heri.

Heri mengaku bangga dengan aktivitas yang dia lakoni sejak 11 tahun terakhir ini. Dia ingat betul saat kali pertama diminta oleh keraton untuk pindah tugas dari abdi dalem tumut sewaka yang bertugas membersihkan area keraton menjadi abdi dalem serati. Ini meneruskan profesi kakek dan ayahnya dulu yang juga bertugas sebagai pawang kebo bule milik kasunanan.

Kala itu Heri langsung mengiyakan tanpa banyak pikir panjang. Dia mengaku tidak banyak pertimbagan karena telah mendedikasikan diri untuk mengabdi di Keraton Kasunanan Surakarta.

"Saya genenerasi ketiga dari kakek saya, bapak saya, lalu saya teruskan jadi pawang kebo bule. Awalnya memang takut diseruduk, tapi akhirnya jadi terbiasa. Toh dari kecil saya sudah sering ikut ke kandang waktu kakek dan bapak saya ngurusi kerbau ini," kata dia.

Keyakinan itulah yang membuat dia mendadikasikan dirinya dengan sepenuh hati untuk merawat pusaka hidup milik kasunanan itu. Dia bahkan tak pernah keberatan tidur satu atap dengan kerbau-kerbau berkulit albino itu karena merasa tentram dan nyaman dalam menjalani profesinya itu. Dia tak pernah kawatir hidup melajang asal bisa mendapatkan ketentraman batin saat bertugas sebagai juru serati Mahesa Kiai Slamet seperti saat ini.

"Saya masih lajang, makanya tidak ada yang mempermasalahkan kalau saya tidur di sini setiap malam sambil menjaga kerbau bule di sini. Kalau soal penghasilan sedikit banyak disyukuri karena rejeki bisa datang dalam berbagai bentuk. Yang jelas saya serius saja dalam merawat kerbau dan menjalankan tugas termasuk ritual rutin seperti sesaji dan doa di setiap malam Jumat," ujar Heri. (*/bun)

 

Editor : Damianus Bram
#kebo bule #Kebo Kyai Slamet #Mahesa Kiai Slamet #Heri Sulistyo #keraton kasunanan surakarta