RADARSOLO.COM - Di Dusun Kroman, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten terdapat situs yang oleh warga setempat dikenal dengan Watu Sigong. Merupakan kumpulan batu kuno berbentuk perangkat gamelan.
Lokasi situs berada di tengah pekarangan antara tanah kas desa dan tanah milik warga. Nama sigong disematkan tak lain karena bentuk bebatuan yang menyerupai gong.
Ada sekira 11 batu yang bentuknya menyerupai gong dan satu batu mirip tatakan saron. Sedangkan satu batu lainnya seperti kemuncak atau puncak atap candi.
“Bebatuan ini sudah ada sejak zaman simbah-simbah dulu. Sering terdengar suara tetabuhan gamelan yang diyakini sumber bunyinya dari situs Watu Sigong ini,” ujar Agung Nugroho, 32, warga Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Jumat (18/8).
Suara gamelan terdengar di malam tertentu. Terutama di penanggalan Jawa, yakni bulan Suro. Jarak terdengarnya bisa sampai 15 Km, sehingga warga di lain desa kerap mendengar. Bisa malam hingga dini hari.
Warga yang penasaran mencoba mencari sumber suara karena menduga ada pagelaran wayang kulit. Tetapi ketika menuju Situs Watu Sigong, suaranya menghilang.
“Kepercayaan warga Mranggen, setiap kali mendengar suara gamelan, di situs Watu Sigong sedang ada hajatan. Suara gamelan ini tidak terdengar setiap hari, hanya di malam tertentu,” terang Agung.
Senada diungkapkan Pupun Prasetya, warga Desa Mranggen lainnya. Belum lama ini, dia mendapati warga yang sedang mencari sumber suara gamelan pada malam hari.
Pupun lalu memberikan penjelasan bahwa suara itu berasal dari Situs Watu Sigong. Lokasi setempat pernah didatangi tokoh spiritual Gus Sholeh Pati. Termasuk Dinas Kebudayaan Kepemudaan Pariwisata dan Olahraga (Disbudporapar) Klaten untuk dilakukan pendataan.
“Pengelolaannya jalan di tempat. Kalau tidak kami yang membersihkan, ya tidak ada. Kami harapkan bisa dikembangkan menjadi tempat edukasi, sehingga memahami leluhur kami,” ucap Pupun.
Hari Wahyudi, pegiat budaya asal Klaten menjelaskan, dilihat dari bentuk dan jenis ragamnya, bebatuan di situs Watu Sigong itu dari era Mataram Kuno pada abad 8-10.
Terdiri dari 11 bebatuan berbentuk bulat, satu batuan jaladwara yang biasanya sebagai saluran air pada candi maupun petirtaan dan satu batuan kemuncak.
“Kalau dari kajian arkeologis, batu-batuan itu merupakan bangunan dari bekas percandian terutama dengan keberadaan jaladwara. Sedangkan untuk batu-batu berbentuk bulat itu sebagai landasan untuk tiang kayu atau bambu semacam joglo maupun pendapa,” jelas Hari.
Hari tidak mengetahui asal bebatuan itu. Termasuk apakah lokasinya saat ini yang asli atau sebelumnya sudah dipindahkan. Maka itu, dirinya mengindikasikan bebatuan itu sebagai temuan lepas. (ren/wa)
Editor : Damianus Bram