Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Wirastuti Susilaningtyas, Koreografer Handal sekaligus Vokalis Band

Antonius Christian • Senin, 28 Agustus 2023 | 15:56 WIB
TOTALITAS: Wirastuti saat melatih penari yang akan tampil di HUT Ke-78 RI di Istana Merdeka 17 Agustus lalu.
TOTALITAS: Wirastuti saat melatih penari yang akan tampil di HUT Ke-78 RI di Istana Merdeka 17 Agustus lalu.

RADARSOLO.COM - Dipercaya sebagai pelatih tari di rangkaian upacara HUT RI Ke-78 di Istana Merdeka menjadi sebuah kebanggaan bagi seniman asal Solo Wirastuti Susilaningtyas. Sebelum sampai tahap ini, dia harus melewati proses yang panjang.

Terjun ke dunia seni sebenarnya sudah dimulai Tutut—panggilan akrab Wirastuti Susilaningtyas--sejak usia belia. Sebab, sang ibu juga merupakan seniman tari dan musik.

"Sering lihat beliau (ibu) waktu pentas. Dari situ muncul keinginan saya untuk jadi penari. Ternyata dapat dukungan dari ibu. Kemudian usia 8 tahun dimasukkan ke Sanggar Soeryo Soemirat," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo. 

Disanggar milik Pura Mangkunegaran inilah hingga SMA Tutut belajar tari-tari trasidi Jawa. Hingga akhirnya Tutut dipercaya menjadi penari Bedhaya Anglir Mendung. Ini menjadi prestasi yang membanggakan bagi Tutut. Sebab tak semua anak sangar mendapat kesempatan tersebut. Apalagi dia dipercaya menarikan tarian tersebut hingga dua kali di Pura Mangkunegaran. 

Untuk menunjang hobinya, usai lulus SMA, perempuan kelahiran 20 Mei 1983 ini melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada 2003. Saat kuliah itulah dia menjadi mahasiswi Eko Supriyanto alias Eko Pece. Menjadi mahasiswi seorang seniman tari profesional diungkapkan Tutut merupakan suatu pengamalan sendiri 

"Saya baru sadar, ternyata menjadi penari itu tidak cukup hanya sekadar menghafal gerakan saja. Namun ketahanan fisik. Dengan Mas Eko, kami para mahasiswanya digembleng secara fisik. Latihannya di luar jam kuliah. Digojlok habis-habisan agar penari punya fisik yang bagus. Kami dilatih sampai muntah, sampai keram tidak bisa jalan, dan itu membekas sekali," urai Tutut.

Hal ini dilakukan untuk mengetes mental dan fisik para mahasiswanya. Hingga akhirnya Tutut merasakannya sendiri. Pada 2007, dari sekian banyak mahasiswa, dia menjadi tujuh orang yang terpilih dari Indonesia untuk tampil dalam acara yang digelar UNESCO di Paris.

Setelah dari event itu, dia juga berkesempatan menekuni seni opera di Inggris. Butuh waktu tiga kali seleksi baru Tutut dinyatakan berhasil. Selama tiga bulan di sana dia berlatih. Banyak ilmu yang dia dapat sebagai bekal ketika kembali ke tanah air. 

Setelah lulus, Tutut lantas bergabung dengan Solo Studio Dance di bawah naungan Eko Pece. Saat itulah dia mulai menciptkan karya.

"Untuk inspirasi (menciptakan karya) bisa dari mana saja. Cuma untuk membuat karya itu kadang butuh mood yang tinggi. Ketika sedang mood, tiga hari saja jadi," urainya. 

Tak hanya sebagai penari, Tutut juga menggeluti dunia tarik suara dengan menjadi vokalis di grup band indie Hanggarbeni sejak 2017. Kini grup band ini sudah mengeluarkan album mini dengan 9 lagu. Kemudian lima lagunya juga pernah menjadi ide cerita monolog musikal Cafe De La Poste karya sutradara Djarot Budi Darsono. 

Dipercaya sebagai pelatih tari di acara kenegaraan ternyata bukan kali ini saja. Beberapa acara tingkat nasional lain pernah dia emban juga. Salah satunya pelatih tari di event Asian Games dan Asian Paragames 2018 s. Hingga galadinner G20 di Bali beberapa waktu lalu. 

"Kemudian ini akhir bulan ini saya menjadi maskot SIPA. Ini juga menjadi kebanggan tersendiri untuk saya. Nanti, saya performance berkolaborasi dengan penari lain saat acara opening SIPA," ujar dia. (atn/bun)

Editor : Damianus Bram
#pelatih tari #seniman tari #penari #Wirastuti Susilaningtyas #koreografer