Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mahakarya Cry Jailolo: Tangisan Alam Rusaknya Terumbu Karang

Mannisa Elfira • Minggu, 3 September 2023 | 16:00 WIB
KRITIKAN PEDAS: Pementasan karya Cry Jailolo garapan Eko Supriyanto di Pendopo Ageng Gendon Humandari, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), 18 Agustus lalu.
KRITIKAN PEDAS: Pementasan karya Cry Jailolo garapan Eko Supriyanto di Pendopo Ageng Gendon Humandari, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), 18 Agustus lalu.

RADARSOLO.COM -  Mahakarya Cry Jailolo ciptaan Eko “Pece” Supriyanto menghiasi Pendopo Ageng Gendon Humandari, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), 18 Agustus lalu. Persembahan tujuh penari dari Solo Dance Studio dan Ekosdance Company ini, ingin menyampaikan pesan akan kerusakan ekosistem laut di Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.

Cry Jailolo menggambarkan tangisan alam. Menceritakan tentang rusaknya ekosistem perairan di Maluku Utarea. Ikan-ikan di sana mulai kehilangan rumahnya, yakni terumbu karang. Kekayaan alam di laut itu terancam rusak karena ulah manusia.

Cry itu menangis. Jailolo itu nama daerah di Halmahera Barat. Kami mencoba memberikan pesan, bahwa ekologi terumbu karang di laut sangat penting untuk keseimbangan alam,” papar maestro tari asal Kota Bengawan Eko “Pece” Supriyanto kepada Jawa Pos Radar Solo.

Gerakan schooling fish atau ikan-ikan yang bergerombol, mengawali sajian tarian malam itu. Mereka menyisir dari ujung panggung ke ujung lainnya. Tak ada maksud tertentu dalam hentakan-hentakan itu. Hanya visualisasi air laut yang tak pernah berhenti bergerak.

“Jadi visualnya tentang ikan dan laut. Kalau manusia masuk ke dalam air, seakan-akan selalu naik dan turun. Jadi tidak pernah stay atau flat,” imbuh Eko.

Gerakan para penari penuh tenaga. Keringat mereka bercucuran. Selama sajian ini, mereka menggenakan kain merah. Membuat mata penonton semakin terpaku pada pertunjukan.

“Soal kostum, saya lebih simpel. Warna karang merah tua itu dominan sekali. Walaupun sebenarnya warna-warni. Tapi saya kebanyakan melihat warna merah terumbu karang. Kalau silver di kaki, itu mempertegas visual ikan,” beber Eko.

Inspirasi karya ini berasal dari tarian tradisi Maluku Utara. Di antaranya tari Lego Salai, Sara Dabi-Dabi, hingga Tari Soya-Soya yang merupakan tarian peperangan. Terkait penyusunan koreografi, Eko membutuhkan waktu sekira satu setengah tahun di Halmahera Barat.

“Dulu saya diundang bupati Halmahera Barat pada 2011. Diminta membantu membuat festival di sana. Kami dari ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta mencoba melihat potensi di sana. Kan tidak mungkin saya ajari tarian Jawa atau modern,” ujar Eko.

Dari festival tersebut, Eko semakin sadar bahwa warisan budaya Indonesia luar biasa. Masing-masing daerah punya potensi yang bisa digali. Eko juga banyak belajar di sana.

“Justru saya empowering. Menguatkan potensi yang mereka punya. Makanya butuh waktu lama. Jadi itu challenge khusus untuk saya. Mereka yang di sana bukan penari. Jadi saya harus mengundang guru-guru atau maestro maestro tari dari sana, untuk mengajarkan pada anak-anak,” kisah Eko.

Dari ratusan anak-anak di sana, Eko menemukan tujuh penari untuk Cry Jailolo. Mereka terpilih karena punya narasi penting dalam kehidupannya. 

“Karya ini sebenarnya sudah saya pentaskan di Kuala Lumpur, Malaysia, 2013 lalu. Dilanjutkan di Solo pada 2014. Tapi dulu masih tujuh penari dari Halmahera Barat. Asli dari sana. Sekarang yang tampil di TBJT yang asli dari Jailolo dua orang. Lima penari lainnya dari Aceh, Riau, Melayu, Ponorogo, dan Solo,” papar Eko.

Eko ingin melihat tarian berdurasi 70 menit ini ditampilkan oleh tubuh-tubuh yang berbeda. Bahkan dari culture selain asli orang Jailolo. “Justru ini pembelajaran penting bagi saya,” imbuhnya. (nis/fer)

Editor : Damianus Bram
#Solo Dance Studio #Ekosdance Company #Cry Jailolo #Eko Supriyanto #TBJT #Taman Budaya Jawa Tengah #kerusakan ekosistem laut