RADARSOLO.COM - Berbagi makanan tidak hanya mengenyangkan perut, namun juga membahagiakan jiwa. Filosofi ini yang melandasi Elisabeth Listyorini membentuk komunitas Sego Jiwo. Komunitas yang rutin membagikan makanan gratis kepada gelandangan dan anak yatim-piatu.
Elisabeth Listyorini dikenal sebagai pemilik usaha perawatan tubuh alias spa, tepatnya di Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari. Ide pembentukan komunitas Sego Jiwo, berawal saat dia terpapar Covid-19 varian Delta, awal 2022 lalu. Kala itu dia harus menjalani rawat inap di rumah sakit.
Oleh organisasi kesehatan dunia (WHO), varian ini diklaim paling kuat dan mudah menular. Pertama kali terdeteksi di India. Bahkan empat kali lebih mematikan dibanding varian Omicron.
Fakta itu membuat Eli (sapaan akrab Elisabeth Listyorini) mengucap nazar. Jika kelak sembuh, ingin berbagi kepada sesama. Terutama para gelandangan di jalanan. Rupanya, doa tersebut terkabul. Eli dinyatakan sembuh setelah dirawat selama enam hari.
Tepat di hari ulang tahunnya ke-50, 19 Januari 2022, Eli melaksanakan nazar tersebut. Dia berbagi kepada orang yang kurang mampu. Aksinya tersebut mendapat respons positif dari sesama terapis di spa miliknya.
“Sego Jiwo ini gerakan sosial. Tujuannya selain mengenyangkan perut, juga jiwa seseorang,” beber wanita kelahiran Lubuk Linggau, Sumatra Selatan tersebut.
Nah, komunitas Sego Jiwo muncul dari celetukan terapis di spa miliknya. Karena sangat disayangkan, jika aksi sosial tersebut berhenti begitu saja. Ide ini lalu disampaikan ke rekan sesama terapis spa di Kota Jogjakarta. Kebetulan, beberapa terapis spa di Jogja ada yang ikut komunitas sosial.
“Saya diajari manajemennya. Dibantu sama komunitas yang di Jogja juga. Sampai akhirnya Sego Jiwo bisa jalan sendiri ,” imbuh Eli.
Ada yang unik dari komunitas Sego Jiwo. Mereka tak sekadar membagikan makanan saja kepada yang membutuhkan. Namun mereka juga berbagi cerita untuk motivasi pemerima bantuan.
“Jadi tidak sekadar beri makanan terus ditinggal pergi. Kami datangi. Saling berbagi kisah. Berbagi cerita. Memahami keluh kesah orang lain. Saling share pengalaman. Ketika hati kita senang, jiwa semakin hidup,” ungkap Eli.
Di awal-awal, seluruh kegiatan Sego Jiwo dipusatkan di tempat spa miliknya. Kebetulan juga rumah orang tuanya. Mulai dari memasak hingga menbungkus makanan yang hendak dibagikan.
Seiring berjalannya waktu, proses memasak membutuhkan tempat lebih luas. Akhirnya Eli dkk meminjam dapur milik Vihara Lotus di Kelurahan Joglo, Kecamatan Banjarsari.
“Kebetulan kami boleh pinjam dapurnya oleh pihak vihara. Di sana dapurnya terbuka dan luas. Juga tidak menggangu peribadatan. Malah banyak anak muda vihara yang akhirnya bergabung,” papar Eli.
Mayoritas anggota Sego Jiwo diominasi generasi milenial. Mulai dari pelajar hingga mahasiswa. Total anggota yang aktif 10 orang. Sisanya bergabung sebagai simpatisan.
“Pernah ada fenomena orang jalanan tapi bukan gelandangan. Mereka punya rumah atau kos, tapi sengaja minta belas kasihan orang,” beber Eli.
Dari fenomena tersebut, Sego Jiwo memutuskan mengalihkan gerakan sosial ke panti asuhan di eks Karesidenan Surakarta. “Kalau ke panti tidak hanya drop makanan. Kami juga ajak anak panti bermain bersama. Kami hibur mereka. Karena anak-anak itu merindukan kasih sayang orang tua dan kakak,” jelas Eli.
Namanya bersedekah, donasi yang masuk ke komunitas Sego Jiwo terus mengalir. Mayoritas dari para pelanggan spa. Ada juga yang mendonasikan sebagian uangnya, setelah tahu aksi Sego Jiwo dari media sosial (medsos).
Tak hanya makanan, Sego Jiwo dalam aksinya juga membagikan bantuan dalam bentuk lain. Di antaranya pakaian pantas pakai, buku pelajaran, buku cerita, mainan, dan sebagainya.
“Sekali masak makanan tergantung jumlah anak di panti yang jadi sasaran bantuan. Biasanya penguni panti ada yang 25-100 anak. Pemilihan panti tergantung donasi yang masuk. Kalau donasinya gede, kami pilih panti yang besar,” papar Eli. (atn/fer)
Editor : Damianus Bram