RADARSOLO.COM - Dari limbah disulap jadi barang mewah. Ya, inilah yang ditekuni Rusbiyanto. Sejak lima tahun terakhir dia menggeluti dunia kerajinan miniatur yang bahan-bahannya dari barang tak terpakai. Mulai kayu limbah mebel, biji buah-buahan, kain perca hingga tempurung kelapa.
Rusbiyanto sedang mengontak atik batok kelapa ketika Jawa Pos Radar Solo bertandang ke rumahnya di Dusun Badran RT 03 RW 04 Desa Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo belum lama ini.
Setelah diamplas sampai bersih, batok kelapa itu lantas digabungkan dengan kayu menggunakan lem. Ternyata dia sedang membuat hiasan berbentuk domba.
Uniknya, domba ini tidak hanya untuk pajangan semata. Namun bisa menjadi celengan dan asbak. Ada juga celengan dengan bentuk-bentuk hewan lain seperti kelinci, kalajengking, sapi, kuda, dan lain sebagainya
Sembari istirahat setelah seharian merampungkan kerajinannya, pria berperawakan gemuk ini menyempatkan berbincang dengan koran ini. Dia bercerita awalnya tidak punya rencana menjadi perajin. Semua terjadi serba dadakan demi dapur tetap mengepul.
Guna menghidupi keluarganya, Rusbiyanto bekerja sebagai pegawai pabrik tekstil. Bertahun-tahun mengabdi, dia dan sejumlah rekannya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Tak terima, dia beserta rekan senasib melakukan aksi demontrasi kepada manajemen pabrik.
"Kemudian saat demo itu, ada temen bawa salak satu kresek besar kemudian dibagikan kepada teman-teman lain. Karena lapar seharian demo, semua berebut. Saya cuma dapat tiga buah kemudian saya makan," ujarnya.
Karena kesal aspirasi mereka tak didengar manajemen, Rusbiyanto yang emosi lantas melempar biji salak ini ke tembok pabrik. Ketika jatuh ketanah biji jatuh berjejer dan membuat bentuk yang unik. Setelah itu, dalam hati Rusbiyanto mulai berpikir apakah ini merupakan pencerahan dari Sang Maha Kuasa untuk jalan rezeki selanjutnya
Biji salak ini lantas dia bawa pulang. Di rumah dia lem menjadi satu kemudian dia beri kancing bekas dan diberi kawat. Dengan sedikit sentuhan kreasi tersebut, ternyata biji salak yang biasanya dibuang di tempat sampah ini menjadi bentuk tarantula.
Dia semakin semangat ketika salah satu rekannya memberi motivasi untuk menekuni kerajinan tersebut. Dengan modal Rp 100 ribu, Rusbiyanto lantas memborong buah salak. Buahnya dia makan bersama keluarga, sedangkan bijinya dia kreasikan. Ternyata benar, banyak yang melirik karyanya dan membeli.
Menjadi perajin limbah, lanjut Rusbiyanto, tak melulu mengeluarkan modal uang. Ada pula bahan baku yang datang dari Tuhan. Jawa Pos Radar Solo ini sempat heran, apa maksud dari perkataan pria ini.
Dia lantas bercerita, karena rumah produksinya ini dekat dengan aliran Sungai Bengawan Solo, ketika banjir, banyak sampah bambu dari hulu yang terseret dan tersangkut di pinggir sungai. Bambu-bambu ini lantas dia ambil dan dibersihkan.
"Nah itu kan bahan baku dari Tuhan ," kelakar Rusbiyanto.
Bahan-bahan dari sampah itu kemudian disulap menjadi miniatur kapal layar setelah dibubuhi kain perca. Saat itu, dia membuat 150 buah. Tak sampai dalam sebulan dia berhasil menjual habis karyanya tersebut.
Dari situ, karyanya semakin banyak. Memanfaatkan limbah bekas mebel, dia membuat miniatur kendaraan seperti sepeda, motor, mobil, truk, hingga bus. Bahkan dia juga mampu membuat alutsista milik TNI seperti pesawat, tank, helikopter dan lain sebagainya.
Soal kendaraan militer ini, dia memiliki cerita unik. Di mana dia sempat dikira sebagai seorang teroris. Rusbiyanto bercerita dia mendapat pesanan miniatur helikopter Super Puma Dari salah seorang anggota militer. Saat pesanan jadi, anggota TNI tersebut meminta Rusbiyanto untuk menghantarkan pesanan itu ke asrama prajurit.
Dia baru bisa menghantarkan pesanan itu pada malam hari. Saat sampai di pos penjagaan, dia diminta menunjukkan barang yang dia bawa. Karena penerangan di pos kurang, anggota yang berjaga mengira benda yang dia bawah itu adalah bom. Sebab dia membubuhi kabel pada miniatur tersebut sebagai aksen untuk membuat detail miniatur ini.
Anggota yang berjaga langsung mengacungkan senjata laras panjang ke arahnya. Dia lantas diinterogasi di pos juga. Hingga kemudian kesalahanpahaman ini baru mendapat titik terang setelah pemesan datang.
"Malah miniatur ini jadi bahan selfie oleh anggota yang berjaga," ujarnya.
Setelah punya cukup modal, Rusbiyanto lantas mencoba menyewa kios di Taman Satwa Taru Jurug. Usahanya di tempat wisata ini cukup menjanjikan. Namun hal tersebut tak berjalan lama, sebelum akhirnya dia dipaksa pindah karena pembangunan TSTJ menjadi Solo Safari.
"Karena tak memiliki lapak, akhirnya jualan muter, ketika ada wisuda buka lapak, di UNS, UMS, Uniba, Unisri dan kampus lain," tuturnya.
Saat ada wacana pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed, Rusbiyanto tak mau ketinggalan. Dia mencoba membuat miniatur masjid yang berada di kawasan Gilingan ini. Bermodal desain yang tersebar di Internet, dia mencoba membuat masjid ini menggunakan limbah kayu.
"Sampai buat empat kali sampai miniatur ini sama persis dengan bentuk masjid aslinya," ujarnya
Hingga akhirnya miniatur masjid karya dia dilirik oleh Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka. Tak hanya membeli karya tersebut, Gibran juga memberi Rusbiyanto kios oleh-oleh Masjid Zayed di Pasar Ngemplak. Dia juga digandeng pemkot sebagai peserta ketika ada pameran.
Apakah ada rencana untuk mengekspor karyanya? Rusbiyanto mengatakan kendalanya ada di alat. Di mana ada aturan, untuk kerajinan yang layak ekspor, antara satu barang dengan barang lain, dari segi bentuk harus sama. Padahal, karyanya ini handmade. Sehingga tidak mungkin punya pola yang sama.
Tidak seperti buatan pabrik besar yang bisa membuat barang dengan pola dan ukuran yang sama.
"Karena kerajinan ini 75 persen buatan tangan, 25 persen mesin, cuma gergaji untuk memotong kayu," ujarnya. (atn/bun)
Editor : Damianus Bram