RADARSOLO.COM - Masih ada harapan melahirkan dalang-dalang muda masa depan. Setidaknya api semangat ini bisa dilihat dari antusiasme anak-anak dari sejumlah sekolah di Kota Solo ini di peringatan Hari Wayang Nasional, kemarin (7/11).
Lionel Dyandra Prasetyo, 11, siswa kelas 6 SD Warga Solo ini mengaku kepincut dengan keindahan wayang. Karena rasa penasaran inilah dia mulai belajar mendalang di Sanggar Wayang Gogon sejak 3 tahun terakhir.
“Suka wayang itu dari kecil, dari sebelum sekolah, mukin dari umur tiga tahun. Soalnya bapak sering ngajak lihat wayang,” kata dia.
Rutinitas yang dikenalkan sang ayah itulah yang membuat dia jatuh hati dengan seni pedalangan.
Lionel pun mulai dibelikan tokoh-tokoh wayang kardus oleh orang tuanya untuk menemaninya bermain. Dan berlatih memeragakan sejumlah gerakan khas seorang dalang.
Melihat potensi ini, orang tuanya menitipkan dia ke sebuah sanggar untuk mulai belajar mendalang dengan lebih serius.
“Belajar di sanggar dari 2020 lalu,” ujar Lionel yang tinggal di Kelurahan Kampung Sewu, Kecamatan Jebres itu.
Seiring kemampuannya bertambah, Lionel pun kerap diminta sekolah untuk pentas mendalang. Ini membuat dia semakin bangga karena menjadi satu-satunya siswa di sekolahnya yang menyeriusi seni pedalangan.
Berbagai pengalaman itulah yang membuat dia semakin percaya diri kala diminta pemimpin sanggar untuk mengisi pentas di Peringatan Hari Wayang Nasional kali ini.
“Tadi saya bawakan fragmen goro-goro. Nggak susah karena sudah sering latihan. Di rumah saya juga latihan karena punya sekotak wayang,” ujar dalang cilik penggemar sosok Bambang Sasikirana (Putra Gatotkaca, Red) itu.
Hal serupa diungkapkan oleh Grignon Damara Aprillo, 11. Siswa kelas 6 SD Marsudirini Solo ini juga memiliki mimpi besar jadi dalang prosesional saat dewasa kelak.
Bedanya persinggungan dia dengan dunia pewayangan dimulai dari kegemarannya akan musik gamelan.
“Mulai belajar dalang itu dari kelas 2 SD. Awalnya kan sering dijemput telat oleh orang tua. Akhirnya aku main-main gamelan dan ikut ekstra kulikuler karawitan. Dari sana makin serius belajar dalang,” papar bocah bertubuh gempal itu.
Kecintaan dia pada wayang kulit diakui karena warna-warna yang mencolok dari sejumlah karakter di wayang kulit itu. Hal itulah yang membuat dia makin antusian untuk belajar menjadi seorang dalang.
Latihan pertama yang dia lakukan untuk memoles kemampuannya adalah suluk. Da pun memperagakan kemampuannya kepada koran ini. (ves/bun)
Editor : Damianus Bram