RADARSOLO.COM - Berawal dari hobi membaca, Ega Dewantari, salah seorang mahasiswa universitas swasta di Kota Solo tergerak untuk membuka lapak baca gratis.
Bersama teman-teman sekampus, dia ingin berkontibusi dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat.
Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Komunitas Solo Maos, menggelar kegiatan lapak baca gratis di salah ruang terbuka hijau di Kota Solo, belum lama ini.
Lapak mereka sangat sederhana. Hanya beralaskan kain dan spanduk bekas. Di atasnya tertata rapi aneka buku dari berbagai jenis.
Inilah wujud aksi kepedulian komunitas ini, akan rendahnya minat membaca buku. Aksi sosial ini sudah berjalan sejak medio tahun ini.
Ega Dewantari yang merupakan mahasiswa keperawatan salah satu universitas swasta di Solo ini tergerak hatinya untuk memacu budaya literasi masyarakat.
“Di awal pembentukan komunitas ini, banyak suka dan dukanya. Kami tidak memiliki basecamp tetap. Kegiatan membaca bersama sering berpindah tempat,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (20/11).
Karena seringnya menggelar aksi secara nomaden, Ega dkk memilih menggelar buku di atas spanduk dan kain bekas. Supaya mudah dijangkau masyarakat umum, mereka biasanya menggelar lapak di ruang terbuka publik.
“Buku yang kami gelar di lapak biasanya dari teman-temen anggota Sobo Maos. Kami tatap rapi di atas kain atau spanduk bekas,” ujar Ega.
Ya, selama inikoleksi buku komunitas ini masih terbatas jumlahnya. Mayoritas milik anggota komunitas. Jenisnya beragam, mulai dari buku cerita anak-anak, komik, novel, sains, dan sebagainya.
“Rencana kami juga membuka donasi bagi masyarakat yang ingin menyumbang buku,” bebernya.
Bagi masyarakat yang ingin berdonasi, komunitas ini membuka pintu lebar-lebar. Baik itu buku baru maupun koleksi lama.
“Silakan menghubungi akun Instagram kami @SoloMaos. Karena kami belum punya basecamp tetap,” papar Ega.
Antusiasme masyarakat akan kepedulian komunitas ini cukup tinggi. Meskipun kegiatan membaca bersama di dgelar sangat sederhana.
“Kami rutin menggelar kegiatan dua pekan sekali. Harapannya supaya masyarakat, terutama anak-anak dan remaja semakin tergugah minatnya untuk membaca. Sekaligus membudayakan literasi di tengah masyarakat,” harap Ega.
Tak sekadar menggelorakan budaya literasi, Ega dkk juga kerap bertukar informasi terkait buku-buku yang sudah dibaca masyarakat.
Tekadang juga dijejali sesi bedah buku. Ambil contoh buku genre fiksi. Anggota komunitas atau masyarakat yang awalnya tidak menyukai, berubah jadi suka setelah bedah buku ini.
“Jadi memang banyak ilmu dan pengalaman yang didapat. Saling sharing. Saya juga merasakan, yang awalnya tidak suka buku sejarah, sekarang malah suka membacanya,” kata Ega.
Komunitas Sobo Maos optimistis, langkah sederhana ini bisa menimbulkan efek luar biasa. Dengan catatan seluruh anggota komunitas ikut nyengkuyung. Sudi meluangkan waktunya untuk meningkatkan budaya literasi.
“Anggota komunitas yang kebanyakan mahasiwa ini, semoga bisa menjadi agent of change. Agen perubahan yang membawa dampak positif,” ujarnya lagi. (ian/fer)
Editor : Damianus Bram