RADARSOLO.COM - Perjalanan panjang dilewati Muhammad Fadli sebelum menggeluti cabang olahraga (cabor) para-cycling. Berbagai tempaan itu membuat dia semakin tangguh.
Para duta bangsa sudah menyelesaikan tugasnya dalam ajang World Abilitysport Games (WAG) 2023 di Thailand.
Salah satunya Muhammad Fadli Imaduddin. Atlet tangguh ini bekerja keras untuk mengharumkan nama Indonesia.
Fadli memperkuat cabor para-cycling. Dalam kompetisi ini, Fadli mempersembahkan tiga medali emas dan tiga perak bagi Merah Putih.
Rinciannya, medali emas ITT men C4, road race men C4 dan IP 4.000 men C4-C5. Disusul tiga medali perak dari nomor kilo men C4-C5, scratch race men C4-C5 dan omnium men C4-C5.
"Sebenarnya ini masih hangat-hangatnya ya kemarin usai dari Asian Para Games, dan sekarang ya masih sisa-sisa TC kemarin. Dan ini tetap sebagai batu loncatan atau menambah jam terbang kompetisi sebelum nanti ke paralimpik di Paris (Prancis)," beber Fadli.
Secara bertahap, Fadli terus memompa kemampuannya. Perkembangan dia tak lepas dari tim pelatih.
Dia berterima kasih kepada para pelatih yang sudah sudah memikirkan cara untuk mengembangkan performa atletnya.
"Memang improve seperti saya cuma bisa sedikit-sedikit ya, tapi bagaimana caranya itu harus terus improve. Harus detail lah," ujar Fadli.
Berbagai hal perlu memang diperhatikan. Mulai dari latihan, senjata perang atau sepeda, makanan, vitamin, hingga pola recovery. Hal-hal kecil tersebut cukup membantu Fadli untuk improve.
Baca Juga: Atlet Para-Panahan Torehkan Emas di Bangkok, Audi Rebut Tiket ke Paralimpiade
"Jadi kalau misalkan salah programnya, malah jadi jelek bukan lebih bagus," sambungnya.
Sekarang ini selain kelas road, Fadli juga mengarungi kelas trek. Beruntung, di route dengan trek ada beberapa program latihan yang sama.
Contohnya di ITT dan 4K, itu program latihannya sama. Namun untuk kelas sprint, memang agak sedikit berbeda.
Lantas bagaimana untuk memaksimalkan itu? Caranya adalah melawan diri sendiri. Menurut Fadli, itu yang penting.
"Sekali lagi ini by faktor ya. Sebab, di C4 dan C5 kebetulan C5 rekan saya sendiri. Saya bilang sama dia, ayo kita latihan bareng. Saya menganggapnya (perlombaan tadi) latihan bareng. Agar lebih mencair, tidak kompetisi banget," ujarnya.
Menilik ke belakang sebelum menjadi atlet para balap sepeda, sejatinya Fadli pebalap sepeda motor profesional.
Semua bermula ketika insiden tragis menimpa Fadli saat berlaga pada ajang Supersport 600 cc Asia Road Racing Championship (ARRC) di Sirkuit Internasional Sentul pada 7 Juni 2015.
Saat itu Fadli menjadi terdepan. Selebrasi pun dilakukan. Namun nahas, insiden tak terduga terjadi. Kaki Fadli dihantam oleh salah satu peserta dalam kompetisi itu.
Sontak, dia langsung dibawa ke rumah sakit untuk menyelamatkan kaki kirinya. Bahkan dia sempat naik meja operasi.
Sayang, kondisinya tak kunjung membaik. Sehingga keputusan berat harus diambil, yakni mengamputasi kaki kirinya.
"Saya dari mulai dulu waktu pas balap motor sempat di tingkat Asia, dan saya kecelakaan sampai benar-benar ke level paling bawah sekali. Saya jalan kaki saja masih belajar," ujar Fadli.
Namun Fadli tetap merajut asanya. Perlahan-lahan, dia mulai bangkit. Mulai juga belajar berjalan. Hingga mulai berani menguasai kompetisi-kompetisi kecil untuk selanjutnya bisa menguasai kompetisi yang besar.
"Dan ya sampai ke titik ini. Saya sempat ke titik di mana saya ‘berlomba’ dengan anak saya yang baru belajar jalan. Karena pada saat itu saya belajar jalan juga. Kata orang, hidup bukan sebagai kompetisi. Kalau kita punya anggapan seperti itu, kita dilindas sama orang lain," pungkasnya.
Menurut Fadli, kompetisi mempunyai arti yang sangat bagus. Sebab, yang dilawan adalah diri sendiri.
“Melawan rasa malas, agar kita bisa bersaing dengan diri sendiri dan memenangkan kompetisi melawan diri sendiri," ungkapnya. (nis/bun)
Editor : Damianus Bram