RADARSOLO.COM - Bekatul atau limbah hasil penggilingan padi, biasanya dijadikan campuran dedak untuk pakan ternak.
Namun di tangan Muhammad Artur Syafiq Syaqofi, bekatul diolah jadi kudapan yang nendang di lidah.
Ide pembuatan kudapan dari bahan dasar bekatul ini berawal dari banyaknya limbah bekatul di sekitar rumah Artur, di Dusun Godekan, Desa Mojolegi, Kecamatan Teras, Boyolali.
Maklum, di lingkungannya banyak trdapat usaha penggilingan padi. Namun kurang dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.
Alhasil Artur tertarik untuk memanfaatkan bekatul yang selama ini dipandang sebelah mata. Selama ini dianggap sebagai limbah atau campuran pakan ternak saja. Padahal bekatul memiliki kandungan gizi cukup tinggi.
“Bekatul saya pakai sebagai pengganti tepung. Tapi belum berani 100 persen menggunakan bekatul, karena sifat tidak bisa mengembang. Sehingga untuk bekatulnya saya pakai 75 persen dari keseluruhan bahan kudapan. Masih ada campuran terigu untuk merekatkan dan mengembangkan adonan kue,” kata Artur kepada Jawa Pos Radar Solo.
Dalam prosesnya, Artur tidak serta-merta mengolah bekatul jadi kudapan. Pertama-tama, bekatul disaring dan dicuci bersih.
Bahkan proses penyaringan sampai dua atau tiga kali. Setelah itu disangrai sampai kering.
Bekatul yang telah disangrai, kemudian diayak untuk memilah yang kualitasnya terbaik.
Setelah itu digiling hingga menjadi tepung. Tepung bekatul inilah yang kemudian diolah menjadi bahan dasar kue.
“Prosesnya dari awal sampai jadi tepung antara 1-2 jam. Saya sudah bereksperimen sejak 2022 lalu. Karena saya ini kan sedang bereksplorasi. Kemudian saya lihat bekatul ini kurang dimanfaatkan. Akhirnya ekperimen sendiri. Kira-kira bisa diubah jadi apa ya?” lanjut mahasiswa akhir jurusan informatika, salah satu kampus di Kota Solo ini.
Ya, butuh waktu lama dan beberapa kali eksperimen untuk menemukan takaran yang pas. Bahkan Artur sampai harus uji coba 10 kali.
“Kemudian yang masih jadi kendala adalah, bekatul ini memilki sifat bau yang apeg. Jadi saya samarkan dengan rasa saja. Semisal rasa coklat,” ujar Artur.
Kudapan yang dibuat Artur dari bahan tepung bekatul adalah brownies kering dan kukus, termasuk roti.
Pemasaran produk sementara ini dengan sistem pre order (PO). Namun ke depan, dia berniat memperluas jangkauan penjualan produknya.
“Entah itu memanfaatkan marketplace atau kerja sama dengan toko oleh-oleh. Ada rencana ke sana nanti,” imbuh Artur.
Dalam sebulan, Artur bisa menjual 20-30 toples kudapan bekatul. Bahkan penjualannya meningkat ketika di musim Lebaran.
“Kalau ditutup dalam wadah yang kering, bisa bertahan kurang lebih satu bulan. Karena saya tidak pakai pengawet apapun. Jadi tidak ada bahan kimianya. Pure bahan untuk makanan,” ujar Artur.
Soal target ke depan, Artur berhasrat ingin mengolah bekatul menjadi bahan makanan lainnya.
“Semoga bisa diolah dengan bahan lain. Sehingga bisa menjadi alternatif bahan makanan,” bebernya. (atn/fer)
Editor : Damianus Bram