Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Donny Mahesa Widjaja, Tukang Kayu Langganan Membuat Jodang Imlek: Terkenang Karya Model Kerucut Ambruk

Fauziah Akmal • Selasa, 6 Februari 2024 | 17:54 WIB

Donny Mahesa membuat jodang sebelum dikirab di Grebeg Sudiro, Minggu lalu (4/2).
Donny Mahesa membuat jodang sebelum dikirab di Grebeg Sudiro, Minggu lalu (4/2).


RADARSOLO.COM-Tidak banyak perajin jodang, media untuk menancapkan telur hias Imlek, di Kota Solo.

Sebab itu, Donny Mahesa Widjaja, selalu menjadi jujukan ketika momen Imlek tiba.

Seorang pria sedang sibuk menata pernak-pernik jodang yang akan digunakan untuk kirab Grebeg Sudiro Jumat lalu.

 

Baca Juga: Berburu Pakaian Khas Imlek Cheongsam di Pasar Gede: Kaum Wanita Cari Model Terbaru, Pria Pilih Model Setelan

Momen ini memang sudah menjadi rutinitas bagi Donny di rangkaian perayaan Imlek.

Ya, sejak 2012, Donny menjadi langganan membuat jodang untuk kirab budaya Grebeg Sudiro.

Dia ingat betul momen ketika jodang kerucut beralaskan bambu buatannya tidak kuat mengangkat muatan kue keranjang lebih dari 300 kg.

“Dulu awalnya jodang kue keranjang kan cuma kerucut diisi full kue keranjang. Tapi kan itu monoton. Akhirnya ada ide untuk membuat ikon bangunan untuk mengurangi jumlah (kue keranjang) dan daya tarik juga,” beber pria kelahiran 23 Oktober 1975 itu.

Jodang pertamanya adalah miniatur Pagoda Watu Gong Semarang dan joglo Mangkunegaran yang diarak dalam karnaval Imlek 12 tahun silam.

“Joglo kecil replikanya Pura Mangkunegaran, tapi bentuknya masih jelek, karena saya garap kurang dari satu bulan,” ujar alumnus SMA PL Santo Yosef Surakarta ini.

Nah, di Grebeg Sudiro 2024, jodang utamanya terdapat miniatur patung pahlawan Slamet Riyadi, bus tingkat Werkudoro, dan kereta uap Jaladara.

Dalam waktu satu setengah bulan, warga Balong, Sudiroprajan itu menyelesaikan tiga miniatur tersebut.

Ini memang mendadak, karena awalnya dia mengira tidak ada penyelenggaraan Grebeg Sudiro tahun ini karena berdekatan dengan Pemilu 2024.

“Desember baru dikasih tahu, tetapi belum tahu mau buat apa,” katanya.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, dia memilih agar ikon bangunan yang dipilih merupakan bangunan yang tinggi.

Kemudian dipilih patung Slamet Riyadi yang dikelilingi bus Werkudara dan kereta uap Jaladara.

“Untung saya punya data bus tingkat itu, jadi tinggal membuat,” katanya.

Yang menjadi pekerjaan rumah baginya adalah Jaladara. Untuk menghemat waktu pengerjaan mengingat persiapannya terhitung singkat, Donny mencari foto-foto sepur kluthuk Jaladara dengan berbagai sudut pengambilan gambar di internet.

Selain itu, Donny pernah mengukur langsung Monumen Banjarsari untuk menentukan skala dalam pembuatan jodang beberapa tahun silam.

Tahun lalu dia membuat jodang miniatur Stadion Manahan.

Sebagai bangunan yang luas, Donny memutar otak agar bisa terlihat dari jarak pandang yang lumayan jauh.

Dia sempat berpikir untuk membuat miniatur separo Stadion Manahan untuk mengekspos detail interior stadion. Tetapi dia mengurungkan niatnya itu demi efisiensi waktu.

Kepiawaiannya membuat jodang tidak lepas dari passion-nya pada dunia perkayuan. Sejak duduk di kelas 1 sekolah dasar, Donny memiliki ketertarikan pada kerajinan.

Dia mengikuti jejak pamannya yang merupakan perajin kayu. Potongan tripleks yang dihasilkan pamannya itu dimanfaatkan untuk menghias kue tart perayaan ulang tahun, Natal, Imlek, dan sebagainya.

“Dulu tante suka bikin kue tart yang dihias pakai potongan tripleks. Kalau sekarang hiasannya dari plastik. Dulu itu kalau nggak kertas, ya tripleks,” kata lelaki 48 tahun tersebut.

Donny awalnya hanya memperhatikan kemudian turut bantu membuat hiasan bentuk rumah, gereja, dan sebagainya.

Hingga akhirnya dia dibelikan gergaji tripleks yang masih dia gunakan sampai sekarang.

“Saya sejak SD sudah belajar mengergaji kayu,” katanya.

Donny tidak memiliki latar belakang seni, dia belajar secara otodidak. Sempat menempuh pendidikan otomotif di PT Kalimas Arubu Indonesia Mercedes Diesel pada 1995.

“Tapi nggak saya pakai. Passion-nya di kerajinan,” katanya.

Pada akhirnya, hobi prakarya didalami sejak 1999. Beragam kreasi berbahan kayu mulai dari mainan edukasi, lampion, hingga gitar.

“Saya pernah bikin lampion untuk mal-mal. Lampion untuk dekorasi manten yang bisa dilipat, dulu kan belum banyak, saya bikin itu,” paparnya.

Meski menyukai seni perkayuan, Donny sempat mengikuti temannya membuat dekorasi dadi styrofoam.

“Tapi nggak lama karena styrofoam banyak polusinya,” terang bapak dua anak tersebut.
Donny juga pernah menekuni bidang kayu batik di Klaten. Namun, kariernya berhenti sebab perusahaan yang menaunginya bangkrut akibat Bom Bali I.

Dari situ dia memutuskan untuk pulang kampung dan membuka bengkel kayu di rumahnya.

Donny juga meneruskan warung makan milik ibunya. Dia berharap tahun depan dia sudah pensiun membikin jodang. Berharap ada yang meneruskan.

Donny secara terbuka membebaskan siapa saja untuk belajar membuat jodang. Tetapi mereka sekadar tertarik, tidak ada yang serius menekuninya. (zia/bun)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#imlek #kerajinan #grebeg sudiro #Donny Mahesa Widjaja #jodang