Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Lebaran Tiba, Begini Nestapa Anak-Anak di SLB Anugerah Colomadu: Sudah Bertahun-tahun Tak Pernah Dijenguk Keluarga

Antonius Christian • Senin, 8 April 2024 | 02:27 WIB
Eko Setiyoasih bersama anak-anak tunagrahita yang dirawatnya di SLB Anugerah Dusun Kepoh RT 05 RW 06, Desa Tohudan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar.
Eko Setiyoasih bersama anak-anak tunagrahita yang dirawatnya di SLB Anugerah Dusun Kepoh RT 05 RW 06, Desa Tohudan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar.


RADARSOLO.COM- Bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga tercinta, tak ternilai harganya.

Namun hal tersebut tidak bisa dirasakan anak-anak tunagrahita yang tinggal di Panti Rehabiliasi Anugerah.

Bahkan, beberapa dari mereka ada yang belum dijenguk keluarga selama bertahun-tahun.

Sebuah rumah di Dusun Kepoh RT 05 RW 06, Desa Tohudan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar dijadikan panti rehabilitasi serta sekolah luar biasa (SLB).

Terdapat banyak anak berkebutuhan khusus yang sedang beraktivitas di dalam bangunan bernuansa warna biru ini.

Ada yang menyapu teras, berlarian bersama temannya, bernyanyi, mengangkat jemuran, dan sebagainya. 

Radarsolo.com kemudian mengetuk pintu pagar. Tangan wartawan lantas digandeng oleh salah seorang anak.

Dia lalu memanggil nama Bu Eko. Yang tak lain Eko Setiyoasih, perintis panti dan SLB Anugerah.

Setelah memperkenalkan diri, dengan hangat wanita ini mempersilakan radarsolo.com masuk ke ruang kepala sekolah.

Baru saja akan mengobrol, salah seorang anak bertanya kepada Eko, apakah dirinya akan dijemput keluarganya di hari Lebaran ini.

Dengan menahan rasa sedih, Eko terpaksa berbohong kepada anak tersebut bahwa dirinya akan dijeput esok hari.

Anak-anak yang dirawat Eko sudah bertahun-tahun tak pernah dijenguk keluarganya.
Anak-anak yang dirawat Eko sudah bertahun-tahun tak pernah dijenguk keluarganya.

Ya, itu terpaksa dilakukan Eko, sebab pihak keluarga memang tidak pernah menjemputnya sejak pertama kali dititipkan di SLB Anugerah.

"Sekarang siapa yang nggak sedih dengan pertanyaan itu," kata Eko.

"Mereka tidak ingin dilahirkan dengan kondisi seperti ini. Tapi yang buat saya makin sedih, Setelah dititipkan di sini, orang tuanya tidak pernah menjenguk. Bahkan sekadar menghubungi kami untuk tanya kabar anaknya saja tidak dilakukan," urai Eko.

Namun, Eko paham, itu karena latar belakang keluargar anak-anak tersebut.

Mereka berasal dari keluarga miskin, sehingga dititipkan di tempat Eko.

"Akhirnya anak-anak panti ini, ya bisa dikatakan ditelantarkan orang tuanya. Saya masukkan ke KK (kartu keluarga) saya," ungkapnya.

Diungkapkan Eko, anak-anak tersebut ada yang dititipkan oleh dinas, ada yang diserahkan begitu saja dari keluarga.

Total ada 52 anak yang dirawat Eko. Tidak hanya dari Solo Raya. Ada juga dari Cilacap, Jakarta, Jawa Barat hingga Jambi.

"Dari 52 itu, dua anak pulang dijemput keluarganya, rumahnya di Boyolali. Nanti setelah Lebaran diantar lagi ke sini," ujar Eko.

"Nanti sisanya Lebaran di sini. Sholat Idul Fitri di jalan situ (depan SLB Anugerah). Tidak bergabung dengan jemaah lainnya. Khawatirnya anak tidak terkontrol,” ujarnya.

Eko bertekad merawat anak-anak dengan setulus hati.
Eko bertekad merawat anak-anak dengan setulus hati.

Dalam merawat puluhan anak itu, Eko dibantu enam orang. Namun karena Lebaran, semua pengasuh libur sepekan ke depan. Sehingga Eko seorang diri merawat puluhan anak tersebut.

"Bagi saya bukan menjadi beban. Karena seperti nama panti kami, anak-anak ini anugerah dari Tuhan," tutur Eko.

Dia lalu bercerita awal mula tergerak membuat panti rehabilitasi untuk anak-anak autism.

Eko melihat di kawasan Colomadu banyak anak berkebutuhan khusus (ABK) dari keluarga kurang mampu. Sehingga mereka tidak mengenyam pendidikan.

“Saya keliling dari rumah ke rumah. Memberikan sedikit ilmu kepada mereka. Itu juga tidak mudah. Banyak orang tua yang menolak, karena malu memiliki anak yang spesial seperti ini," beber Eko.

Setelah melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan para orang tua, akhirnya Eko diterima.

Namun para tetangga gantian mencibirnya karena Eko kerap pulang hingga larut malam. "Padahal saya itu mengajari anak-anak. Tapi tetangga yang nggak tahu, bikin gosip saya bukan perempuan baik-baik,” ungkap dia.

Karena anak yang diampu semakin banyak, akhirnya pembelajaran dilakukan di rumahnya Eko yang saat ini dijadikan panti.

"Ya kalau boleh dibilang ini rumah warisan orang tua untuk saya. Karena lahanya cukup, ya sudah saya jadikan tempat belajar saja. Dulu belum seperti ini, ya masih rumah biasa," tuturnya.

Hingga suatu hari ada tiga anak tinggal di panti. “Ya saya perbolehkan, kenapa tidak. Sejak awal saya tidak pernah menarik bayaran kepada orang tua. Karena mereka mempercayakan anaknya kepada kita saja itu sudah Alhamdulilah," urainya.

Seiring berjalannya waktu, anak yang diasuhnya semakin banyak. Hingga pada 2015, Eko sempat putus asa. Sebab biaya pengeluaran tinggi.

"Karena pemasukan tidak ada, padahal kebutuhan jalan terus. Terutama untuk makan dan pampers. Sampai suatu saat, ada acara kesenian di Wisma Seni," katanya.

Anak-anak diajak bermain agar tetap ceria meskipun Lebaran tanpa bersama keluarga.
Anak-anak diajak bermain agar tetap ceria meskipun Lebaran tanpa bersama keluarga.

Saat pentas inilah, ada wartawan salah satu majalah asal ibu kota yang mengkat sosok Eko.

Hingga akhirnya Eko diundang di sebuah talk show salah satu stasiun TV swasta.

Presenter acara lantas tergerak dan membantu Rp 150 juta. Dari situlah, bantuan mulai mengalir.

Bantuan dari para donator tersebut tidak hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan anak-anak. Tapi juga menambah fasilitas panti.

Hingga sekarang, bangunan yang awalnya hanya rumah satu lantai, sekarang memiliki tiga lantai untuk tidur anak-anak.

Eko juga mendirikan SLB yang posisinya diseberang panti. Izin sekolah baru terbit 2018 silam.

SLB ini memiliki 12 orang guru untuk mengajar siswa jenjang SD hingga SMA.

"Beberapa orang sudah saya ajari untuk mengelola. Jadi harapan saya, kalau saya tidak punya umur, panti dan SLB ini tetap bisa berjalan,” kata Eko.

“Saya tidak ingin, panti ini tutup. Karena ya itu tadi, keluarga anak-anak ini sudah tidak peduli. Kalau ke depan tidak ada yang mempedulikan, terus bagaimana nasibnya. Sebab mau mereka ini punya masa depan," pungkasnya. (atn/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#lebaran #slb anugerah #tunagrahita #anak #Eko Setiyoasih #Panti #keluarga