RADARSOLO.COM - Solo dikenal sebagai kota beragam etnis dan budaya. Tak heran berbagai komunitas berkembang di kota ini. Salah satunya Kabesami. Kelompok musik yang mengadopsi unsur budaya dari tiga suku berbeda.
Gemuruh pertunjukan musik tradisi terdengar meriah dari pendapa Taman Budaya Jawa Tengah (TBTJ), Selasa malam (28/5). Pada gelaran Bukan Musik Biasa #99 itu, kelompok Kabesami luwes memainkan dua karya musik mereka.
Repertoar pertama berjudul Ranteng alias Randai Topeng. Perpaduan kesenian Randai asal suku Minang dengan kesenian Topeng Betawi. Karya kedua bertajuk Simpang Tiga, adaptasi dendang atau lagu dari suku Minangkabau.
"Kami mempersiapkan dua karya ini sekitar dua minggu, yang memang kami kolaborasikan seni tradisi dari beberapa suku daerah," kata Perwakilan Kelompok musik Kabersami Maiben Alfandi kepada Jawa Pos Radar Solo.
Kabesami merupakan kelompok yang berfokus pada pengembangan karya dari ragam suku nusantara. Khususnya, budaya dari tiga etnik, yakni suku Karo, Suku Betawi, dan Suku Minang. Terbentuk sejak 2022 di Kota Solo, kelompok ini juga terdiri dari anggota lintas suku, baik dari Jawa maupun luar Jawa.
"Awalnya komunitas kami ada empat anggota. Lalu berkembang menjadi kelompok musik seperti sanggar, mayoritas memang dari luar Jawa tapi ada juga pemain musik asli Jawa Timur dan Jawa Tengah," lanjut Fandi, sapaan Maiben Alfandi.
Kelompok musik Kabesami terbentuk bukan tanpa alasan. Berawal dari keinginan untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional. Mayoritas anggota Kabesami adalah mahasiswa etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Menurut Fandi, menggabungkan elemen lintas suku dan budaya dapat menghasilkan karya seni yang unik dan inovatif. Tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang kekayaan budaya Indonesia.
"Itulah mengapa kami juga bermaksud memberi warna perkembangan musik di Solo ini, kami memainkan musik sesuai yang kami kuasai untuk sekaligus memperkenalkan ragam musik tradisi ke masyatakat," ungkap Fandi.
Perjalanan Kabesami telah melalang dari panggung ke panggung. Kelompok ini sering diundang tampil dalam berbagai acara, mulai dari lingkup kampus hingga instansi daerah.
"Kemarin kami juga mengisi acara saat kunjungan kerja dutaker Amerika di Solo," tukas Fandi.
Meski dikenal karena kemampuannya menggabungkan elemen-elemen musik dari lintas suku. Namun Kabesami juga memiliki tantangan tersendiri pada proses kreatifnya.
Seperti pada gelaran BMB #99 kemarin, kelompok ini memainkan campuran instrumen musik dari tiga suku. Kecapi dari Karo, talempong dari Minangkabau, kendang dari Betawi, dan lainnya.
Pertunjukan dibalut musik dan tarian, membuat karya Kabesami mampu memikat hati dan tepuk tangan meriah penonton.
"Kami berusaha mencocokan sama ciri khas daerah masing-masing. Misal ambil suasana pakai ciri khas musik Minangkabau, terus ritmenya dari suku Karo, terus aksennya dari suku Betawi. Kami kolaborasikan dengan ide permainan dari para anggota," jelas Fandi.
Saat ini, Kabesami sedang dalam proses merekam karya-karya mereka untuk dipublikasikan. Mereka juga berencana untuk terus bereksperimen dengan menggabungkan musik tradisional dengan genre lain, seperti keroncong.
"Kami merasa keroncong punya wilayah nada yang luas dan mudah untuk dipadukan dengan musik kami," kata Fandi.
Dengan semangat untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional Indonesia, Kabersami terus berkarya dan berinovasi. Untuk menghidupkan ragam seni tradisi Indonesia.
"Ke depan tidak menutup kemungkinan kami juga bereksplorasi dengan gamelan. Tapi saat ini sedang mencoba eksplorasi musik Kabesami dengan musik keroncong dulu. Kabesami artinya sesuai suku yang kami fokuskan, Karo, Betawi dan Minangkabau," ujar Fandi. (ul/bun)
Editor : Kabun Triyatno