RADARSOLO.COM - Kegemaran seseorang kadang memang sulit dimengerti bagi sebagian orang. Itulah yang dirasakan Dymas Akbar Maulana, 17.
Di kala banyak orang takut dengan hewan predator, warga Ngasem, Colomadu, Karanganyar ini malah gemar memelihara satwa liar.
Hewan tersebut adalah hasil evakuasi yang dia lakukan di sekitar lingkungannya.
Hampir tiga bulan ini Dymas memelihara seekor ular sanca kembang hasil evakuasi yang dia lakukan di kediaman kawannya.
Ular yang mulanya baru berukuran satu meter itu kini sudah bertambah besar. Bahkan panjangnya hampir dua meter.
Tak heran orang di rumahnya kerap dibuat khawatir oleh hewan liar peliharaannya itu.
“Orang satu rumah kebetulan tidak ada yang berani pegang ular, mereka pada takut. Tapi sudah saya edukasi juga kalau sebetulnya tidak perlu takut sama hewan liar, khususnya ular jika tahu bagaimana cara menanganinya,” kata siswa kelas 3 SMK itu.
Hari pertama si ular dibawa pulang ke rumah, sanca kembang usianya diperkirakan baru sebulan itu jadi mogok makan.
Alhasil satu dua ekor mencit atau anakan tikus putih yang merupakan pakan utama si ular pun harus diambil karena tidak termakan.
Aksi mogok makan itu berlangsung selama satu hingga dua hari selanjutnya, sampai hari ketiganya Dymas memutuskan untuk mencoba menyuapi sanca kembang tangkapannya itu.
“Pas hari ketiga sempat tergigit tangan saya. Jadi waktu itu kan pakannya tidak termakan, akhirnya mau saya ambil. Entah kaget atau apa ularnya gigit saya. Ya sudah saya tunggu sampai lepas sendiri,” terangnya.
Kunci dalam menjinakkan ular tangkapan dari alam liar, sambung Dymas adalah ketelatenan untuk memelihara.
Si pawang harus berani untuk berinteraksi dan tidak ragu untuk bersentuhan dengan ular yang akan dijinakkan.
Jika penanganannya tepat, tidak menutup kemungkinan hewan buas seperti ular piton pun bisa jadi peliharaan yang unik dan tidak biasa di mata orang sekitar.
“Kebetulan itu dari kecil saya memang sudah senang cari ular di sawah atau kebun sekitar rumah. Makanya setelah lebih dewasa mulai pelihara hewan-hewan itu, memang saya lebih suka sama hewan-hewan yang liar seperti itu. Salah satunya ular sanca kembang ini,” terangnya.
Menurutnya, keindahan dari ulat Sanca Kembang itu terletak pada coraknya.
Selain itu jelas yang paling menarik adalah tantangan untuk bisa menjinakkan hewan liar jadi peliharaan yang bisa ramah sama orang, mengingat ular pelilit jenis ini merupakan salah satu spesies ular piton terpanjang di dunia yang sudah terkenal akan keganasannya.
Oleh sebab itu untuk mengurangi keagresifannya Dymas punya cara tersendiri dalam memelihara python reticulatus itu. Utamanya harus sering diajak berinteraksi itu.
“Sering saya pegang-pegang untuk menunjukkan ke ularnya kalau kita itu bukan ancaman. Ini juga yang saya sampaikan ke teman-teman saya agar kalau ada ular liar masuk rumah tidak perlu sampai dibunuh, cukup disingkirkan saja,” hemat Dymas.
Kelebihan lainnya dalam memilih ular sebagai hewan peliharaan adalah karena tak perlu perawatan ekstra, seperti harus dimandikan dan lainnya.
Pemberian makannya juga tidak ribet karena cukup sepekan sekali saja. Selain itu juga menarik karena beda dengan orang lain soal pilihan hewan peliharaan.
“Peliharaanya hanya di container box saja, di dalamnya kasih alas dan diberi air untuk minum. Kalau pakan seminggu sekali dua ekor mencit sekali makan,” bebernya. (ves/nik)
Editor : Damianus Bram