Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kisah Keluarga Susmirah, Rintis Usaha Tas Berbahan Agel dari Nol hingga Tembus Pasar Luar Negeri  

Maulida Afifa Tri Fahyani • Kamis, 27 Juni 2024 | 04:13 WIB
Susmirah (baju hitam) bersama sang anak Indri Widianti (baju merah) di event Festara Soolo, sabtu lalu (22/6). (MAULIDA AFIFA/RADAR SOLO)
Susmirah (baju hitam) bersama sang anak Indri Widianti (baju merah) di event Festara Soolo, sabtu lalu (22/6). (MAULIDA AFIFA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Kreatif dan inovatif. Inilah gambaran sosok Susmirah yang membangun usaha kerajinan tas berbahan serat alam. Berdiri sejak 1980-an, usaha tasnya kini makin dikenal luas. Hingga menjadi oleh-oleh eksis di daerahnya. 

Semangat hidup Susmirah dalam merintis usaha kerajinan tas memang patut diacungi jempol. Berkat ketekunannya, Susmirah dikenal sebagai tokoh pelestari kerajinan tas lokal. Perempuan ini pun mendapat penghargaan Anugerah Festara Award 2023 di Festival Tas Nusantara, Sabtu lalu (22/6).

Ide bisnis Susmirah berawal dari keinginannya memanfaatkan potensi alam sektiar. Dia melihat banyak pohon palm atau agel di sekitar daerah asalnya, yakni Kulonprogo, Jogjakarta. Berbekal ketrampilannya, Susmirah mampu menyulap agel menjadi produk tas bernilai seni tinggi.

"Saya waktu itu melihat banyak pohon agel di daerah saya, namun belum banyak yang memanfaatkannya. Karena waktu itu juga ada pelatihan kerajinan, sehingga saya manfaatkan daun agel itu sebagai tas," kata Susmirah saat acara Festara.

Sekitar 1980-an, Susmirah memulai usaha pengrajin tas kecil-kecilan. Dia pun berupaya memasarkan produknya sendirian. Menyusuri tiap sudut Kota Jogja yang ramai akan wisatawan. Sembari menenteng ragam hasil kerajinannya, Susmirah berjalan kaki menjual tas di sepanjang Jalan Malioboro.

"Dulu ya apa-apa masih sendiri. Cari bahan sendiri, buat sendiri, pasarkan sendiri. Paling sekitar 10 biji craft itu saya bawa jalan kaki dari ujung ke ujung daerah Malioboro, buat dijual," bebernya.

Usaha tak pernah mengkhianati hasil. Perlahan, produk Susmirah mulai dikenal masyarakat hingga lembaga pemerintahan. Pesanannya melejit. Sampai dia merekrut sejumlah warga sekitarnya. Susmirah menularkan kreativitasnya soal kerajinan tas berbahan agel.

"Puncaknya pada 1997, saat terjadi krisis moneter, justru pesanan tas semakin meningkat. Dan banyak orang yang datang untuk belajar membuat kerajinan tas dari serat alam," imbuhnya.

Semangat menjalankan bisnis tas terus digeluti Susmirah. Sampai pada 2000-an dia mewariskan usaha kepada anaknya, Indri Widianti. Mulai dari pengelolaan hingga pemasarannya. 

Indri memang telah terlatih sejak Susmirah merintis usaha. Sampai akhirnya banyak buyer dari luar negeri yang tertarik dengan produk tas anyaman dari agel.

"Dulu waktu kecil saya juga ikut menangani buyer dari luar negeri, Jepang dan Belanda karena cukup ramai," imbuh Indri.

Baca Juga: Jepang Dilanda Heboh Wabah Bakteri Pemakan Daging, Amankah Berwisata ke Negeri Sakura?

Indri berinovasi mengembangkan tas anyaman agel dengan memadukan motif wastra. Alhasil, produk tas anyaman dari agel semakin ramai diburu. Pasarnya meluas tak hanya domestik, namun sampai internasional. Perpaduan tas anyaman agel dengan kain-kain tunik menjadi produk unggulan ibu dan anak tersebut. 

"Karena saya melihat potensi kain tradisional itu bagus sekali, saya coba buat pattern-nya. Ternyata sangat bagus untuk dipasarkan," kelakar Indri.

Kini produk unggulan tak sebatas tas, namun juga topi, sandal, dan dompet. Serat alam yang digunakannya pun mulai berkembang. Diantaranya, agel, pandan, enceng gondok, dan mendon. Proses pembuatannya meliputi pemilihan bahan, pewarnaan, anyaman, hingga mampu terbentuk menjadi tas.

Dalam satu bulan, Indri dan Sumarsih bisa memproduksi kurang lebih 1.500 tas. Dengan omzet rata-rata satu tasnya Rp 250 ribu. Produk kerajinannya juga merambah ke pasar ekspor, meliputi negara seperti Amerika, Belanda serta Inggris.

"Untuk prosesnya memang cukup panjang. Kami juga mengambil beberapa bahan dari luar kota," jelas Indri.

Bisnis tas milik keluarga Sumarsih pun bisa dikatakan sebagai pionir kerajinan tas. Sampai saat ini tumbuh sejumlah pengrajin tas anyaman berbahan alam.

Kreativitas Sumarsih dan upayanya dalam memberdayakan potensi alam mampu bermanfaat dan meningkatkan eksistensi daerahnya. Sejumlah perajin dan pengepul anyaman serat alam pun bermunculan. Dan ribuan orang menggantungkan hidup dari kerajinan tersebut.

"Pesan saya kepada generasi muda, ayo cintai produk lokal nusantara. Karena dengan begitu kita bisa melestarikan potensi sekitar," tukas Indri. (ul/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#kerajinan tas #AGEL #Susmirah