RADARSOLO.COM - Hana Loka Kusuma Prameswari, mahasiswa Seni Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo ini memiliki impian besar untuk memperkenalkan seni karawitan dan budaya Jawa ke panggung internasional. Inspirasi itu semakin menyala ketika berkunjung ke beberapa negara.
Semangat menekuni dunia seni sudah terlihat sejak Hana masih usia belia. Pada 2012 lalu, saat dara ayu asal Wonogiri tersebut berusia 9 tahun, dia sudah mengajarkan tari dan menembangkan tembang macapat kepada temen sebayanya di salah satu SD di Perancis selama satu bulan.
Pengalaman ini menjadi turning point dan semakin melecutkan motivasi Hana untuk terus mengembangkan karirnya di bidang seni karawitan dan memperkenalkan budaya Jawa ke dunia internasional.
Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, alumnus SMKN 8 Solo ini terus berusaha mewujudkan mimpinya membawa seni karawitan Jawa ke panggung dunia. Sekaligus mempromosikan kekayaan budaya Indonesia di mata internasional.
Belum lama ini, Hana berkesempatan belajar di universitas top ASEAN dan mengunjungi perusahaan dalam ajang ASEAN Global Youth Learning Exchange and Excursion. Agenda ini dilaksanakan Juni lalu.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Studec Internasional, sebuah NGO yang fokus pada isu pendidikan dan pengembangan pemuda di kawasan Asia Pasifik.
"Persiapannya cukup panjang. Dari pendaftaran, kami diseleksi melalui video profile, seleksi program, wawancara, dan juga seleksi pihak kedua. Karena saya fully funded, jadi saya ada sponsor," papar Hana.
Selama lima hari, Hana dan 43 peserta lain dari negara-negara Asia Tenggara mengikuti berbagai aktivitas di tiga negara, yaitu Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Di Singapura, mereka berkesempatan merasakan kuliah singkat di National University of Singapore (NUS) dan mengunjungi perusahaan pengelolaan air, New Water.
Di Malaysia, mereka menghadiri sesi konferensi di Universitas Putra Malaysia dan belajar tentang kewirausahaan dari Prof. Dr. Ros. Tak hanya itu, mereka juga mengunjungi pusat produksi kopi dan pabrik cokelat di Negeri Jiran itu.
"Kami juga jadi volunteer di Kampung Baru Malaysia, kampung para imigran Indonesia, di mana mereka tidak punya status kewarganegaraan. Di Malaysia mereka tidak diakui, di Indonesia juga tidak diakui," papar dia.
Di Thailand, Hana dan rekan-rekannya berkesempatan menjelajahi Hatyai. Mengunjungi perusahaan New Bee Hatyai, dan menikmati keindahan tempat-tempat bersejarah seperti Wat Hua Thanon dan Klong Hae Floating Market. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan mereka, tetapi juga mempererat hubungan antar pemuda ASEAN.
Hana memiliki cita-cita besar untuk menjadi dosen karawitan dan memperkenalkan seni tradisi Jawa ke seluruh negara ASEAN. Melalui program exchange ini, dia berharap dapat mengembangkan karawitan agar dikenal lebih luas dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk KBRI.
"Pengalaman yang paling saya highlight di sini adalah relasi. Saya dapat insight dari teman-teman baru, pengalaman baru, dan yang paling penting adalah mengenalkan seni dan tradisi Jawa, seperti nembang macapat dan karawitan, ke teman-teman exchange lainnya," kata Hana.
Dari exchange ini, membuka peluang kolaborasi berbasis budaya antara Hana dengan remaja-remaja ASEAN lainnya. Kolaborasi tersebut akan diimplementasikan dalam waktu dekat dan menghasilkan pertunjukan budaya yang spektakuler, mempererat hubungan dan saling pengertian antar negara ASEAN. (zia/bun)
Editor : Kabun Triyatno