RADARSOLO.COM - Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Pepatah ini menggambarkan nasib Michela Yuanita Putri Susanto. Pada 2018 lalu, anggota dia gagal lolos sebagai pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) tingkat Jawa Tengah.
Namun, tahun ini dia malah didapuk menjadi Protokol Perbantuan Kepresidenan Republik Indonesia 2024 di Istana Negara.
Setelah menyelesaikan skripsi sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Michela mencari kegiatan produktif.
Mengisi waktu luang menantikan momen wisuda sarjananya, dia aktif freelance sebagai kru pada berbagai event musik ataupun olahraga di Kota Bengawan dan sekitarnya.
Pada suatu hari, Michela mendapatkan informasi seleksi Protokol Perbantuan Kepresidenan RI melalui grup Paskibraka Kabupaten Karanganyar lintas angkatan.
Mulanya, Michela tidak excited mendaftarkan diri dalam seleksi tersebut. Sebab, dia hanya seorang paskibraka kabupaten yang gagal tembus ke tingkat provinsi.
"Saya akhirnya ikut daftar. Tahap pertama yaitu wawancara secara daring dengan Pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Pusat," ucap Juara Favorit Putri Lawu 2019 ini kepada Jawa Pos Radar Solo.
Michela bersama satu peserta lain asal Kabupaten Pekalongan yang mewakili Jawa Tengah kemudian mengikuti tahap wawancara kedua dengan Biro Protokol Kepresidenan. Hanya Michela yang dinyatakan lolos mewakili Provinsi Jawa Tengah.
"Saya ingin ke paskibraka provinsi tetapi gagal. Setelah menunggu enam tahun, saya malah lolos menjadi Protokol Perbantuan Kepresidenan di Istana Negara," imbuhnya.
Perempuan kelahiran Karanganyar, 6 Juli 2002 ini bertugas sebagai Protokol Perbantuan Kepresidenan RI 2024 terhitung 31 Juli hingga 20 Agustus.
Protokol perbantuan ini bertujuan untuk mempersiapkan rangkaian acara menuju 17 Agustus, termasuk zikir bersama, pengukuhan paskibraka, upacara Hari Ulang Tahun Ke-79 Kemerdekaan RI, dan malam resepsi.
"Kami akan ditugaskan untuk membantu seluruh rangkaian acara HUT Kemerdekaan," kata putri bungsu dari dua bersaudara itu.
Tugas pertamanya, Michela terlibat dalam gelaran Zikir dan Doa Kebangsaan 79 Tahun Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (1/8) lalu.
Ketika ditugaskan di panggung acara tersebut, Michela berbahagia karena bisa begitu dekat bersinggungan langsung dan bekerja sama dengan orang penting di negeri ini. Mulai dari Presiden RI, Ibu Negara, hingga para menteri.
Tahun ini adalah HUT Kemerdekaan RI yang spesial karena diadakan di dua tempat, yaitu Jakarta dan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Semua persiapan dilakukan di Jakarta. Akan tetapi, prosesi pengibaran bendera merah putih dilaksanakan di IKN.
Michela bersama delapan rekannya ditugaskan di Jakarta, sementara sembilan rekan lainnya bertugas di IKN.
"Menurut saya, tantangannya adalah karena dari 18 orang, kami dibagi dua tim. Di Jakarta, timnya berkurang, padahal tamu undangannya banyak sekali. Jadi, pekerjaannya pasti akan semakin bertambah. Kami harus pintar-pintar membagi waktu dan tetap profesional serta bertanggung jawab," tandasnya.
Meskipun demikian, Michela mengatakan sangat senang. Selain bisa mewujudkan impiannya bisa bermanfaat untuk negeri, dia mendapatkan pengalaman perdana di bidang keprotokoleran serta pengetahuan multikultural dari rekan-rekannya. (zia/bun)
Editor : Kabun Triyatno