Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Trimeresurus Puniceus Alias Puni, Ular Berbisa Yang Cukup Berbahaya: Perlu Hati-hati Lantaran Masih Banyak Ditemukan di Pemukiman Warga

Silvester Kurniawan • Minggu, 25 Agustus 2024 | 19:12 WIB
WASPADA: Trimeresurus Puniceus jadi salah ular yang cukup berbisa yang banyak ditemukan di Boyolali.
WASPADA: Trimeresurus Puniceus jadi salah ular yang cukup berbisa yang banyak ditemukan di Boyolali.

RADARSOLO.COM - Trimeresurus Puniceus merupakan salah satu jenis ular yang harus diwaspadai karena keberadaanya gampang ditemui di sekitar pemukiman manusia.

Ular berbisa tinggi yang juga dikenal dengan sebutan ular puni oleh masyarakat lokal itu juga banyak ditemukan di sekitar wilayah Boyolali dan sekitarnya.

Di Solo dan sekitarnya, Trimeresurus Puniceus ini juga dikenal dengan sebutan Ular Puni.

Meski terdengar tidak familiar, di kalangan pecinta ular berbisa penyebutan Ular Puni dipandang lebih sederhana ketimbang Bandotan Wit, Bandotan Uwit, atau Bandotan Pohon yang jauh lebih umum dikenal oleh berbagai masyarakat di Indonesia.

“Kalau Puni itu diambil dari nama latinnya, sebetulnya kita para pecinta reptil ini memiliki penyebutan ini untuk menyederhanakan karena ular jenis ini memiliki banyak penyebutan di lokalan masing-masing,” terang Samudera Budi, salah seorang rescuer reptile asal Sukoharjo, Jawa Tengah.

Merujuk nama yang lebih umum seperti Bandotan Pohon, ular beludak (jenis viper, Red) yang satu ini memiliki habitat alami di pepohonan rendah seperti semak belukar dan rumput ilalang.

Biasanya ular yang satu ini lebih mudah ditemukan saat melingkar atau berdiam diri di pohon.

Karakter inilah yang membedakan Ular Puni ini dengan kerabat dekatnya yang lebih suka berada di atas tanah.

“Warnanya ini juga seperti warna kayu dengan dominasi warna cokelat dan semburat warna kemerahan atau biasanya cenderung berwarna lebih gelap. Kalau di Solo Raya, ular ini biasa atau mudah ditemukan di wilayah tinggi seperti Boyolali dan sekitarnya,” ucapnya, Jumat (23/8/2024).

Dengan hidup di wilayah pepohonan rendah dan semak belukar, ular ini merupakan pemangsa alami untuk mamalia kecil seperti tikus, juga pemangsa bagi kadal ukuran kecil, hingga burung-burung yang ada di sekitar habitat alami si ular.

Tak jarang, ular ini jadi salah satu tersangka utama saat ada pencari rumput tergigit ular berbisa yang jika telat penanganan bisa sampai lumpuh saraf permanen atau bahkan kematian.

“Warna Ular Puni mirip dedaunan dan ranting kering, umumnya berwarna coklat terang atau coklat gelap karena habitatnya ada di daerah kering meski berada di dataran tinggi,” beber pria yang akrab disapa Sambud itu.

Sebagai seorang pecinta ular yang juga berprofesi sebagai rescuer di Solo dan sekitarnya, Sambud kerap memelihara sejumlah ular berbisa yang dia temukan atau dari hasil rescue yang dilakukan. 

Termasuk Ular Puni miliknya yang dipelihara dalam sebuah wadah transparan yang biasa disebut sebagai gex oleh kalangan pecinta ular.

Ular itu pun kerap digunakan untuk sosialisasi agar masyarakat tahu dan lebih awas saat ada di sekitar habitat alami si ular yang memiliki persebaran dari Thailand hingga Pulau Jawa ini.

“Dampak gigitan adalah rasa sakit yang luar biasa, kemudian akan ada pembengkakan. Jika telat penanganan bisa menimbulkan kerusakan jaringan secara permanen misalnya lumpuh otot saraf pada bagian tergigit dan yang terparah bisa menyebabkan kematian. Makanya kalau tergigit harus dilakukan penanganan medis,” tegasnya. (ves/nik)

Editor : Damianus Bram
#Puni #ular berbisa #Trimeresurus Puniceus