RADARSOLO.COM - Di tengah rutinitasnya sebagai edukator di Museum Keris Nusantara, Anjang Pratama, 35, memiliki panggilan lain yang tak kalah penting menjadi relawan penyelamat. Berbekal kecintaan pada olahraga air ekstrem, dia dan komunitas Rafter Solo siap siaga sepanjang musim hujan ini.
Anjang, atau yang akrab dipanggil Ijong, telah memimpin Rafter Solo sejak komunitas ini berdiri pada 2017. Setiap musim penghujan tiba, dia dan timnya rutin berkumpul di Bendung Tirtonadi, merasakan derasnya arus sungai sebagai sarana latihan dan persiapan menghadapi bencana.
“Latihan di sungai ini bukan sekadar tantangan fisik, tapi juga mental. Kami ingin memastikan semua anggota bisa siap terjun jika terjadi bencana,” ungkap Anjang sambil mengecek peralatan rafting yang tersusun rapi di pojok ruang kerja museum.
Rafter Solo lahir dari keinginan Anjang untuk mengasah kemampuan menyelamatkan diri dan orang lain di sungai, mengingat Solo dikelilingi oleh sungai-sungai besar yang rentan banjir. Kegiatan komunitas ini bukan sekadar hobi ekstrem, tetapi juga sarana latihan untuk menghadapi potensi bencana.
“Kami sering memberikan arahan pada operator-operator wisata arung jeram di berbagai daerah. Latihan ini menjadi bekal, bukan hanya untuk wisata, tapi juga saat ada evakuasi bencana,” katanya.
Komunitas yang berawal dari lingkup kampus ini kini berkembang pesat, menarik perhatian pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Pada setiap latihan, suasana sungai yang deras dan suara gemuruh air menjadi tantangan tersendiri, namun para anggota terlihat bersemangat.
“Awalnya memang untuk kesenangan, tapi lama-lama kami merasa bertanggung jawab atas keamanan orang di sungai. Ini jadi alasan kami terus meningkatkan kemampuan,” lanjutnya.
Kini, di musim hujan, Anjang dan komunitasnya menyelenggarakan Sekolah Musim Hujan, sebuah pelatihan yang memberi pengetahuan dasar tentang penyelamatan air. Para peserta dilatih dalam teknik penyelamatan orang tenggelam, cara mendistribusikan bantuan, hingga kesiapsiagaan menghadapi situasi banjir.
“Dengan pendidikan ini, kami ingin generasi muda Solo punya bekal untuk membantu di saat genting,” jelasnya.
Sebagai seorang edukator yang juga menjadi relawan penyelamat, Anjang merasa terpanggil untuk membagikan ilmunya. Bagi Anjang, dedikasi ini bukan hanya panggilan jiwa, tetapi juga bagian dari rasa tanggung jawab sosial yang ingin ia tularkan pada generasi muda.
“Selama kemampuan itu ada, saya akan gunakan untuk masyarakat. Dan teman-teman di Rafter Solo juga berpikiran sama,” tutupnya penuh semangat. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno