RADARSOLO.COM - Hobi Teddy Damar bisa dibilang unik. Yakni, mengumpulkan barang-barang bekas atau rusak. Nah, hebatnyam rongsokan ini dia ubah menjadi patung-patung bergaya kontenporer. Puluhan patung sudah dia buat.
Di halaman rumahnya yang berada di kawasan Jalan Koloner Sutarto, Kecamatan Jebres, Teddy sibuk menyelesaikan patung buatanya. Per bagian dilas menjadi satu kesatuan.
Ada tiga patung dengan tinggi 3 metaran yang sedang diselesaikan Teddy. Satu berbetuk malaiikat, satu berbentuk wanita, namun menggunakan topeng tentara Romawi, dan satu lagi berbentuk kontenporer.
Ditemui disela-sela menyelesaikan patung buatannya, Teddy menuturkan mulai menekuni hobi membuat patung sejak Covid-19.
"Waktu Covid itu kan dua tahun nganggur, di rumah saja. Basik saya kan modifikasi motor, dari 2004 sampai pensiun 2011. Jadi dari dulu sering bikin karya yang aneh-aneh," ujarnya.
Nah, waktu itu dia melihat di Pinterest ada aliran seni steampunk. Yakni, mengubah barang-barang bekas menjadi karya yang indah.
“Dari situ kepikiran buat patung ini. Awalnya buat yang kecil-kecil dulu. Ukuran 20 cm, 40 cm. Bentuknya masih benar-benar absrak, asal mengabungkan. Sampai akhirnya bisa buat yang ukuran raksasa dan mulai bertema," katanya.
Dijelaskan Teddy, karyanya ini tidak menjiplak karya-karya dari seniman yang sudah terlebih dahulu berkecimpung di dunia seni Steampunk.
"Cuma misalnya ada seniman A, buat patung kepalanya bagus, saya contoh dan saya modivikasi. Kemudian di seniman B badannya bagus, saya ambil lalu saya tambahi. Jadi hanya inspirasi. Beberapa karya jadi karya baru," tuturnya.
Untuk rosokan sendiri, lanjut Teddy, ada yang dia beli, ada pula yang dia dapat dari teman-temannya. Bentuknya bermacam-macam. Ada yang dari rosok bekas mobil, motor, sampai elektronik. Asalkan bukan berbahan almunium.
“Jadi saya kumpulkan dulu rosoknya, baru setelah terkumpul saya pikirkan, kira-kira mau buat apa," ungkapnya.
Teddy mengatakan, dalam membuat karya dia tidak pernah membuat sketsa terlebih dahulu. Karya muncul begitu saja saat pengerjaan dimulai.
"Jadi misal saya buat badannya dulu. Setelah jadi badan, baru nanti saya pikirkan bagian yang lain, seperti itu. Jadi setelah ada inspirasi baru saya garap."
"Pernah waktu buat karya itu, sopir saya jadi ukuranya. Tingginya berapa, tanganya berapa meter, lingkar lengannya berapa. Selain itu banyak belajar dari seniman patung juga.
“Ternyata sudah ada pakemnya. Misal orang tinggi dua meter, panjang tangannya berapa, lingkar pahanya berapa, betisnya seberapa. supaya bentuknya proposional," tutur dia.
Total, sejauh ini sudah ada puluhan patung yang berhasil dia buat. Biasanya patung buatanya ini dipajang di villanya yang berada di Tawangmangu. Ada juga yang dia pajang di kafe miliknya di kawasan Ngarsopuro.
Apakah ada yang ingin membeli barangnya? Teddy mengatakan tentu saja ada. Namun hingga saat ini, dia belum memiliki niatan menjual karyanya. Padahal ada orang yang sempat menawar karyanya hingga Rp 150 juta.
"Sampai papi saya bilang jual saja, uangnya lumayan. Tapi sampai saat ini belum ada rencana menjual. Karena saya buat ini untuk hobi. Kemudian belum tentu yang beli mau merawat, karena saya buat dengan sepenuh hati. Itu yang tidak bisa dinilai dengan uang," tutur dia.
Dari semua patung yang dia buat, ada satu karya yang menurutnya menjadi masterpiece. Yakni patung Kwang Kong, yakni sosok Dewa di atas para Dewa dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa. Dikatakan masterpiece karena patung ini merupakan permintaan sang ayah sebelum meninggal dunia.
"Jadi papi saya itu tidak pernah minta apa-apa. Hingga suatu hari dia bilang, Ted aku buatnkan Kwang Kong. Sempat bingung juga, karena itu kan realis. Padahal aliran seni yang sedang saya dalami kontemporer. Tapi berhubung yang minta papi saya, akhirnya saya iyakan. Hingga akhirnya beberapa hari setelah papi minta itu, beliau meninggal," ungkapnya.
Teddy baru memulai membuat patung itu 40 hari setelah sang ayah meninggal. Patung akhirnya rampung waktu 2,5 bulan.
"Sempat stuck selama 2 minggu, karena setiap masang ornamen, keingat ayah saya, berhenti. Namun karena ini permintaan papi terakhir, harus saya selesaikan, akhirnya jadi. Makanya bisa dibilang karya ini yang paling berkesan dan memiliki makna mendalam," ujar dia. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno