Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Bang Toyib, Petugas Operasional BBWS Bengawan Solo yang Tidak Lelah Menjaga Sungai Meski Nasib Tidak Jelas

Silvester Kurniawan • Rabu, 12 Februari 2025 | 03:31 WIB
Joko Widodo bersama petugas operasional BBWSBS sedang membersihkan sampah sungai, kemarin (11/2/2025). (M Ihsan/Radar Solo)
Joko Widodo bersama petugas operasional BBWSBS sedang membersihkan sampah sungai, kemarin (11/2/2025). (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Gaji yang belum dibayarkan, kupon bensin yang dihapus, hingga status kontrak yang tak menentu, tak menghalangi Joko Widodo alias Bang Toyib untuk tetap bekerja. Sebagai tenaga honorer di Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), dia dan rekan-rekannya tetap menjalankan tugas menjaga aliran sungai, meski tanpa kepastian masa depan.

Senin (11/2) siang, langit Solo mendung, angin sepoi-sepoi berhembus di tepi Bengawan Solo. Di tengah ketidakpastian, Toyib tetap turun ke bantaran sungai, memastikan tidak ada sampah atau penyumbatan yang bisa menghambat aliran air.

Namun, hari itu terasa berbeda. Tidak ada kesibukan seperti biasanya, karena pengurangan dana operasional dari kantor membuat aktivitas para petugas operasional dan pemeliharaan (OP) seperti dirinya berkurang drastis.

"Tanggal 3 Februari kemarin ada pemberitahuan dari kantor, kalau semua petugas siaga banjir diberhentikan sementara. Malamnya ada surat resmi yang menyatakan seluruh petugas hidrologi dari hulu hingga hilir—hampir 200 orang—dihentikan sementara. Saya termasuk di dalamnya," tutur Toyib.

Meskipun statusnya sebagai tenaga kontrak tengah digantung, Toyib tetap menjalankan tugasnya secara sukarela. Dia merasa masih memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan sungai tetap terjaga, meski rekan-rekannya banyak yang memilih berhenti.

Sebagai petugas OP, Toyib seharusnya menerima honor Rp800 ribu per bulan. Namun, hingga pertengahan Februari ini, honor untuk Januari lalu belum juga dibayarkan.

Tak hanya itu, kupon bensin 40 liter per dua bulan yang selama ini menjadi penopang operasional mesin pemotong rumput juga sudah tidak diberikan sejak awal 2025. Padahal, alat tersebut sangat bergantung pada bahan bakar untuk membersihkan bantaran sungai.

"Kalau bensin tidak ada, terpaksa pakai sabit. Sebetulnya berat, tapi ini sudah jadi panggilan jiwa. Saya tetap lakukan, walau harus ngarit manual," ucapnya dengan nada pasrah.

Sementara itu, status kontrak kerja Toyib dan rekan-rekannya yang diperbarui setiap tiga bulan kini menjadi semakin tak jelas. Dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran, pemangkasan pegawai honorer semakin nyata di depan mata.

"Kontrak kerja kami mestinya diperbarui pada Maret nanti, tapi kami tidak berani berharap banyak. Kalau kebijakan ini tetap jalan, bisa jadi kami tidak diperpanjang," ujarnya.

Namun, terlepas dari segala ketidakpastian itu, Toyib dan beberapa rekannya yang tergabung dalam tim gorong-gorong, sebuah komunitas relawan sungai, tetap bertekad untuk melanjutkan pengabdian mereka.

"Banyak teman-teman yang berhenti, tapi tim gorong-gorong tetap jalan. Ini organisasi relawan, jadi meski berperan membantu BBWSBS, anggotanya tidak semuanya dari BBWSBS. Makanya, kegiatan tetap berjalan," tegasnya.

Di antara ratusan pegawai kontrak BBWSBS, Toyib menjadi salah satu yang berani angkat suara. Melalui media sosial pribadinya, dia mengungkapkan kondisi sulit yang dihadapi para tenaga honorer.

Unggahannya menarik perhatian salah satu anggota DPRD Solo yang kemudian mengundangnya untuk melakukan mediasi.

"Saya mumet (pusing), tapi kalau ini bisa berdampak baik bagi teman-teman lain, kenapa tidak? Harapannya, ini bisa menjadi perhatian pejabat supaya kebijakan pengurangan karyawan honorer dikaji ulang," harapnya.

Di tengah keterbatasan, Toyib tetap ingin mengajak rekan-rekannya untuk terus berkontribusi, terutama dalam memberikan informasi terkini tentang kondisi sungai.

"Walaupun tidak ada perintah dari kantor, saya tetap akan melaporkan kondisi sungai, apalagi saat debit air naik atau hujan deras. Saya harap teman-teman juga bisa seperti ini. Ini bukan sekadar tugas, ini panggilan kemanusiaan," tegasnya.

Dengan nasib yang masih abu-abu, Toyib dan rekan-rekannya hanya bisa berharap ada kebijakan yang berpihak kepada mereka. Mereka mungkin bukan pejabat atau pegawai tetap, tetapi dedikasi mereka menjaga Bengawan Solo tetap mengalir seharusnya tidak dibiarkan begitu saja. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#sungai #bengawan solo #bbwsbs #gaji