RADARSOLO.COM – Pabrik Gula Madukismo adalah satu-satunya pabrik gula yang masih beroperasi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pabrik ini didirikan pada 14 Juni 1955 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, pabrik ini menempati lokasi bekas pabrik gula Patokan dan kini dikenal sebagai salah satu penopang penting industri pangan di wilayah tersebut.
Sejak berdiri, Pabrik Gula Madukismo memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, khususnya lewat produksi gula dan turunannya.
Kepemilikan saham pabrik ini terbagi antara Keraton Yogyakarta dan Pemerintah Republik Indonesia, dengan pemerintah memiliki 35% saham.
Perjalanan Produksi dan Kapasitas Pabrik
Awalnya, Pabrik Gula Madukismo hanya mampu menggiling sekitar 1.500 ton tebu per hari.
Namun seiring waktu, kapasitasnya terus ditingkatkan menjadi 2.500 ton per hari pada tahun 1976, dan meningkat lagi menjadi 3.300 ton per hari pada 1993.
Kini, kapasitas penggilingan harian mencapai 3.000 ton tebu per hari, dengan produksi utama berupa gula sebanyak 40.000 ton per tahun.
Tak hanya itu, pabrik ini juga menghasilkan Alkohol sekitar 2.500 juta liter per tahun, kemudian spiritus kurang lebih 24.000 liter per hari dan pupuk organik sekitar 30 ton per tahun.
Volume produksi ini tergantung pada jumlah tebu yang digiling setiap musimnya.
Tradisi Cembengan: Warisan Budaya Unik Jelang Musim Giling
Satu hal yang membuat Pabrik Gula Madukismo berbeda dari pabrik gula lain di Indonesia adalah adanya tradisi Cembengan, sebuah ritual yang diadaptasi dari tradisi Tionghoa bernama Cing Bing.
Tradisi ini digelar menjelang musim giling tebu dan suling, hampir di setiap awal musim produksi.
Ada dua jenis syukuran yang dilakukan dalam tradisi Cembengan, yakni:
- Wayang kulit dan pasar malam sebagai hiburan rakyat
- Kirab Tebu Manten, yakni arak-arakan tebu yang diarak seperti pasangan pengantin
Tradisi ini dilaksanakan pada hari Legi dalam penanggalan Jawa, karena diyakini dapat membawa hasil panen yang melimpah dan kesejahteraan bagi petani tebu.
Rangkaian Tradisi Cembengan
Tradisi Cembengan dimulai dengan menyebar acak-acak di sekitar area pabrik serta syukuran bersama para pekerja dan masyarakat.
Kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam para leluhur dan raja-raja Mataram, seperti yang ada di Imogiri dan Kotagede.
Setelah itu, pasar malam Cembengan dibuka selama dua minggu, dan dimeriahkan oleh masyarakat sekitar.
Puncak dari acara ini adalah kirab tebu manten, yang juga digelar pada hari Legi (nama pasaran Jawa), sebagai simbol awal musim giling dengan harapan hasil yang melimpah.
Pabrik Gula Madukismo tak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga penjaga tradisi yang memperkuat identitas budaya Yogyakarta. (arya)
Editor : Damianus Bram