Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede, Warisan Sakral dari Dinasti Pendiri Mataram Islam

Damianus Bram • Kamis, 24 April 2025 | 17:42 WIB
Kolase Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede.
Kolase Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede.

RADARSOLO.COM – Kotagede dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya utama di Yogyakarta. Namun lebih dari itu, kawasan ini menyimpan warisan sejarah penting sebagai ibu kota pertama Kerajaan Mataram Islam.

Di Kotagede pula berdiri kompleks pemakaman raja-raja pendiri Dinasti Mataram yang hingga kini tetap dijaga kesakralannya.

Terletak di Dusun Sayangan, Jagalan, Banguntapan, Kabupaten Bantul, kompleks makam ini menjadi situs penting yang banyak dikunjungi wisatawan pencinta sejarah dan spiritualitas. Tidak sedikit peziarah datang untuk melakukan ritual tirakat atau meditasi.

Kompleks pemakaman ini dibangun dengan gaya arsitektur perpaduan Hindu-Jawa-Islam abad ke-15 dan ke-16.

Bangunan gapura, tembok kelir, serta cungkup-cungkup tradisional memberikan nuansa historis yang kuat.

Tercatat, sebanyak 635 makam berada dalam kawasan ini, termasuk raja-raja, keluarga kerajaan, dan kerabat dekat, menjadikannya salah satu kompleks pemakaman kerajaan terbesar di Pulau Jawa.

Jejak Sejarah di Balik Kompleks Makam Raja Mataram

Kompleks Makam Raja Mataram di Kotagede atau Pasarean Hastana Kitha Ageng dibangun oleh Panembahan Senopati (raja pertama Mataram Islam) pada 1589 dan rampung tahun 1606. Lokasinya berada di sisi barat Masjid Gedhe Mataram Kotagede.

Beberapa tokoh penting yang dimakamkan di sini antara lain:

Tiga cungkup utama yang berada dalam kompleks ini adalah Bangsal Prabayaksa, Bangsal Witana, dan Bangsal Tajug. Ketiganya menjadi pelindung utama bagi makam para tokoh penting tersebut.

Pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwana X, beberapa bagian makam dan area masjid mengalami renovasi usai kebakaran besar.

Renovasi dilakukan menggunakan bahan bangunan dan gaya arsitektur khas pada masa itu.

Kompleks ini dikelilingi tembok tinggi dengan gapura Paduraksa berarsitektur Hindu sebagai pintu masuk utama.

Setiap pengunjung harus melewati tiga gapura berhiaskan ukiran khas, dijaga ketat oleh para abdi dalem yang mengenakan busana adat Jawa.

Di samping kompleks, terdapat pemandian atau sendang yang dibangun oleh Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati.

Sendang ini terdiri dari kolam khusus pria dan wanita yang dahulu digunakan untuk mensucikan diri sebelum ziarah.

Sebagai makam raja, mereka yang ingin berziarah harus mengiuti beberapa aturan, seperti bagi para peziarah wanita diharuskan menggunakan kain jarik sebatas dada atau kemben dan tidak diperbolehkan memakai kerudung atau penutup kepala.

Sedangkan bagi para peziarah laki-laki harus memakai kain jarik dan atasan berupa baju peranakan. Kedua pakaian yang dikenakan peziarah perempuan dan laki-laki merupakan pakaian abdi dalem.

Pengunjung juga tidak diperkenankan untuk mengambil gambar atau memotret selama berada di kawasan makam.

Pengunjung juga diharuskan untuk melepas alas kaki saat memasuki komplek makam.

Bagi wisatawan yang ingin mengunjungi tempat ini sebaiknya datang pada hari Senin, Kamis, Jumat, dan Minggu. Sedangkan selama bulan Ramadan, Kompleks Makam Raja-raja Mataram Islam tutup.

Makna Spiritual yang Masih Hidup

Masyarakat Jawa percaya bahwa makam para tokoh penting seperti raja, ulama, dan sesepuh memiliki kekuatan spiritual yang membawa berkah.

Kepercayaan ini merupakan warisan akulturasi budaya Hindu-Buddha yang masih kental dalam kehidupan religius masyarakat hingga saat ini.

Kompleks makam raja-raja Mataram di Kotagede bukan sekadar situs sejarah, melainkan simbol spiritualitas, budaya, dan warisan peradaban Jawa yang terus hidup dan berkembang. (arya)

Editor : Damianus Bram
#Kerajaan Mataram Islam #Panembahan Senopati #Kotagede #wisata budaya #makam raja mataram