Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Eny Purwandari Raih Guru Besar UMS Solo: Antara Cinta, Ketangguhan, dan Perjuangan Hidup

Fauziah Akmal • Selasa, 24 Juni 2025 | 02:42 WIB

 

Guru Besar UMS Eny Purwandari.
Guru Besar UMS Eny Purwandari.

RADARSOLO.COM - Gelar guru besar yang baru saja disandang oleh Eny Purwandari, bukan sekadar pencapaian akademik. Bagi Eny, ini adalah simbol dari dedikasi, ketangguhan, dan tentu saja, cinta. Cinta pada keluarganya, cinta pada pendidikan, dan cinta pada misi hidupnya untuk memberi dampak melalui ilmu pengetahuan.

Perjalanan  Eny meraih gelar tersebut tidaklah mudah. Ia tidak hanya menempuh jalan akademis yang menantang, tetapi juga menghadapi berbagai ujian hidup yang berat.

Sejak kecil, ia tumbuh di tengah keluarga pendidik, dengan ayah dan ibu yang merupakan guru pendidikan luar biasa. Keluarga yang membentuk dasar dari kecintaannya pada pendidikan dan psikologi.

“Awalnya saya ingin menjadi dokter, tapi ibu mendorong saya untuk masuk ke psikologi,” kata Eny, mengenang masa-masa awal perjalanan pendidikannya.

Lulus dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada 1998, Eny melanjutkan studi ke jenjang magister dan doktoral di Universitas Gadjah Mada. Secara akademik, ia tidak menemui banyak kendala. Namun, kehidupan pribadi menjadi ujian yang jauh lebih berat. Di tengah perjuangannya menempuh pendidikan S3, ketiga anaknya sakit dan membutuhkan pengobatan rutin selama dua tahun.

Dalam situasi yang sulit itu, Eny merasa hampir menyerah. Namun, kata-kata suaminya menjadi pembakar semangat.

“Kamu itu wanita kuat. Kalau sekarang menyerah, itu bukan kamu yang aku kenal dulu,” ujar Eny menirukun pesan suami yang selalu mendukungnya tanpa henti.

Kata-kata tersebut mendorongnya untuk menyelesaikan disertasi tepat waktu, meraih predikat cumlaude dengan IPK di atas 3,7.

Namun perjuangan Eny tidak berhenti di situ. Pada 2022, meski sudah memiliki jabatan lektor kepala, Eny memutuskan untuk mempersiapkan diri menuju gelar profesor.

“Saya yakin jika suami mendukung, saya bisa melangkah lebih jauh. Restu itu sangat penting,” ujar guru besar UMS ini.

Perjalanan Eny untuk meraih gelar profesor tidak hanya dipenuhi tantangan akademik. Ia juga harus mengelola kehidupan keluarga yang tidak mudah. Di tengah kesibukan menulis disertasi dan menempuh pendidikan tinggi, Eny tetap mengutamakan keluarganya. Bahkan saat proses S3, dia harus berjuang melawan kenyataan pahit ketika adik kandungnya terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.

“Saya merasa punya tanggung jawab. Saya intervensi keluarga, membawa adik saya ke rehabilitasi, minta bantuan polisi,” kenangnya.

Pengalaman pribadi itulah yang menginspirasi Eny untuk fokus pada penelitian mengenai kesehatan mental dan penyalahgunaan narkoba (NAPZA).

“Saya tidak membuka aib, saya ingin berbagi pengalaman. Ternyata banyak keluarga lain yang mengalami hal serupa,” jelasnya.

Dari kesulitan ini, Eny belajar banyak tentang ketangguhan. Kini, adiknya yang dulu terpuruk akibat narkoba telah bangkit sebagai pengusaha, sementara adik lainnya kini menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Kami bisa melewati itu semua karena kerja sama dan saling mendukung,” ungkap Eny, penuh syukur.

Setelah melalui berbagai ujian, baik dalam dunia akademik maupun kehidupan pribadi, Eny akhirnya meraih gelar profesor pada 2022. Gelar yang diraihnya bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi tentang dedikasi untuk keluarga, mahasiswa, dan masyarakat.

“Saya berharap gelar ini bisa menginspirasi banyak orang. Bahwa apa yang kita raih dalam hidup ini, tak terlepas dari perjuangan, cinta, dan dukungan orang-orang terdekat kita,” ujar Eny, dengan penuh harapan. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#guru besar #cinta #akademik #keluarga