RADARSOLO.COM - Di balik karya topeng-topeng yang menghiasi berbagai sudut Kota Solo, terdapat tangan terampil seorang seniman yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan seni tradisional Indonesia. Sosok itu adalah Narimo, yang telah mengabdikan diri pada seni pembuatan topeng selama 35 tahun hingga panggung dunia.
Kecintaan Narimo terhadap seni tatah wayang dan topeng sudah muncul sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Sejak kecil, saya sudah tertarik dengan tatah wayang. Itu turun-temurun dari ayah saya yang seorang dalang," ujar seniman 62 tahun ini saat berbincang santai dengan Jawa Pos Radar Solo belum lama ini.
Ayahnya bukan hanya mengajarkannya mengenai wayang, tetapi juga tentang seni pembuatan topeng. Dari situ, Narimo mulai menekuni dunia seni pembuatan topeng secara serius, meskipun ia harus belajar secara mandiri.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI)—kini menjadi SMKN 8 Solo—Narimo semakin dalam mempelajari anatomi topeng dan berbagai ornamen yang melengkapinya.
Pada 2007, kesempatan besar datang saat ia diundang untuk mengikuti pameran topeng internasional di Korea Selatan. Sejak saat itu, perjalanan seni Narimo semakin dikenal dunia. Ia terus mengikuti pameran di berbagai negara, mulai dari Tiongkok, Singapura, hingga Inggris sebelum pandemi melanda.
"Saya sangat bersyukur bisa berbagi karya di luar negeri, meski pandemi menghalangi pameran internasional, namun karya saya masih bisa diterima di komunitas lokal," kata Narimo dengan penuh rasa syukur.
Bagi Narimo, membuat topeng bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup. Setiap topeng yang ia buat memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran yang tinggi.
"Membuat topeng itu sama dengan membuat wayang, harus memiliki kejelian dan pemahaman yang mendalam tentang karakter yang akan dibentuk," ujarnya.
Narimo tidak hanya memahami teknik pembuatan topeng, tetapi juga mendalami karakter tokoh yang diwakili oleh topeng tersebut.
"Topeng itu ceritanya cerita Panji. Setiap karakter memiliki cerita sendiri yang harus ditransformasikan dengan baik melalui bentuk topeng," jelasnya.
Topeng yang dibuat oleh Narimo bukan hanya sebagai barang seni, tetapi juga sebagai simbol dari cerita dan budaya Indonesia. Ia memahami pentingnya kesimbangan dan proporsi dalam pembuatan topeng, terutama untuk keperluan tari, di mana simetri sangatlah penting. Dari tangannya, lahirlah topeng-topeng dengan detail halus dan desain yang penuh makna.
Meski sudah memiliki banyak penghargaan, termasuk tiga penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dan berbagai pameran internasional, Narimo tetap merasa bahwa seni pembuatan topeng harus terus dilestarikan.
"Ini adalah warisan budaya yang harus kita jaga dan kembangkan. Harapan saya, generasi muda dapat terus mengapresiasi dan melestarikan seni ini," tutur Narimo.
Ia percaya bahwa topeng sebagai bagian dari budaya Indonesia harus tetap ada, dan ia berkomitmen untuk terus memproduksi topeng dengan kualitas terbaik.
Tidak hanya itu, Narimo juga berharap seni pembuatan topeng dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang lebih luas. Dengan harga yang bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, Narimo menawarkan topeng yang tidak hanya berkualitas tetapi juga unik. Ia juga membuka kesempatan untuk menerima pesanan topeng dengan desain khusus, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memiliki topeng yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter mereka.
Narimo yang kini tinggal di Kampung Jetis, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, terus melanjutkan tradisi dan ketekunan dalam kerajinan topeng. Meskipun sudah lama berkecimpung dalam seni pembuatan topeng, ia tetap merasa bahwa setiap karya adalah langkah baru untuk memperkenalkan seni Indonesia kepada dunia.
"Saya hanya ingin memberikan sesuatu yang berarti, bahwa seni topeng ini adalah bagian dari warisan budaya kita yang harus terus hidup dan berkembang," ujar Narimo dengan penuh harapan. (rif/bun)
Editor : Kabun Triyatno