RADARSOLO.COM - Mewujudkan zero waste city di Kota Solo butuh kolaborasi semua pihak. Perlu adanya program edukasi dan pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat dan sekolah-sekolah demi keberlanjutan lingkungan.
Masalah sampah kini semakin meresahkan, termasuk Kota Bengawan. Dengan meningkatnya populasi, produksi sampah pun ikut melonjak, memicu keprihatinan akan dampak buruknya terhadap lingkungan.
Di balik tantangan tersebut, Gita Pertiwi, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang sudah berdiri lebih dari tiga dekade, berperan aktif untuk mewujudkan keberlanjutan lingkungan dan menciptakan kota minim sampah.
Anggota Bidang Kota Minim Sampah Gita Pertiwi Alfian Khamal menjelaskan bahwa sejak awal keberadaan lembaga ini, mereka sudah fokus pada pembinaan masyarakat tentang isu-isu lingkungan yang penting untuk diperbaiki.
"Kami berkecimpung dalam pengelolaan sampah, pertanian yang lebih ramah lingkungan, serta tata kota yang berkelanjutan," ujarnya.
Bagi Alfian, isu sampah di kota-kota besar, terutama Solo, sangat mendesak. Seiring dengan berkembangnya populasi, produksi sampah juga terus meningkat.
“Tantangan kami adalah bagaimana mengurangi sampah meskipun ada penambahan jumlah penduduk. Kami fokus pada pencapaian zero waste city," terang Alfian dengan penuh semangat.
Untuk mewujudkan visi kota tanpa sampah, Gita Pertiwi meluncurkan sejumlah program inovatif. Salah satunya adalah Kota Minim Sampah, yang berfokus pada pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Alfian menjelaskan bahwa program ini mendorong masyarakat untuk lebih sering membawa tas belanja sendiri dan mengurangi penggunaan plastik.
"Kami mulai mengimplementasikan program ini di Pasar Jebres sejak 2024. Di sana, kami membina pedagang untuk mengelola sampah organik dan anorganik," ungkapnya.
Baca Juga: Kisah Eny Purwandari Raih Guru Besar UMS Solo: Antara Cinta, Ketangguhan, dan Perjuangan Hidup
Di Pasar Jebres, sampah organik yang tidak terjual namun masih layak dikonsumsi, seperti sayuran, disalurkan ke panti-panti sosial. Sedangkan, yang sudah tidak layak konsumsi diolah menjadi pakan magot, pakan ternak, bahkan pupuk kompos.
Langkah ini adalah contoh nyata dari upaya mengurangi sampah dengan cara yang lebih ramah lingkungan. Gita Pertiwi juga mendampingi masyarakat dan sekolah-sekolah di Solo untuk mengelola sampah di lingkungan mereka, dengan tujuan untuk menanamkan kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dini.
Edukasi menjadi kunci utama dalam mewujudkan perubahan. Gita Pertiwi menyadari bahwa perubahan kebiasaan masyarakat memerlukan waktu dan pendampingan yang terus-menerus.
"Edukasi pengelolaan sampah harus dilakukan secara masif. Kami menyasar dari level sekolah hingga komunitas agar mereka semakin sadar pentingnya pengelolaan sampah yang benar," jelas Alfian.
Dengan keberadaan program edukasi ini, diharapkan anak-anak sejak usia dini dapat mengerti bagaimana cara memilah sampah dan mengolahnya dengan bijak. Bahkan, Gita Pertiwi juga mendampingi para pemulung di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, terutama terkait dengan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Alfian menyebut bahwa meskipun PLTSa menjadi solusi untuk mengurangi sampah, dampak sosial bagi pemulung yang menggantungkan hidupnya di sana harus diperhatikan.
"Kami bertugas sebagai jembatan antara pemulung dan pemerintah, agar proyek ini tetap berjalan tanpa mengorbankan kesejahteraan mereka," imbuhnya.
Mereka terus berupaya untuk menanamkan nilai-nilai keberlanjutan melalui program-program yang tidak hanya menyelesaikan masalah sampah, tetapi juga menciptakan kesadaran akan pentingnya menjaga bumi untuk generasi mendatang.
“Lingkungan yang sehat adalah hak bagi setiap anak cucu kita di masa depan. Keberlanjutan bumi ini harus menjadi perhatian bersama, karena kita hanya meminjamnya,” tegas Alfian dengan penuh keyakinan. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno