Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Hompimpa Solo, Gerakan Sosial yang Hadirkan Kembali Budaya dan Literasi di Tengah Gempuran Gawai

Antonius Christian • Selasa, 29 Juli 2025 | 03:32 WIB
Permainan tradisional tarik tambang. (Dok Hompimpa)
Permainan tradisional tarik tambang. (Dok Hompimpa)

RADARSOLO.COM - Di tengah derasnya arus modernisasi dan masifnya penggunaan gawai di kalangan anak-anak, sebuah komunitas di Solo memilih jalannya sendiri. Mereka tidak menolak teknologi, tetapi menghadirkan kembali sentuhan budaya, gotong royong, dan semangat belajar yang lebih membumi. Komunitas Hompimpa Solo menjadi wujud nyata perjuangan itu.

Bermula dari taman baca sederhana bernama Teras Kita di Ngemplak, Boyolali, pada 2017, Hompimpa kini berkembang menjadi komunitas edukasi dan sosial yang aktif menyapa anak-anak dan keluarga di berbagai titik Kota Bengawan.

“Awalnya kami hanya ingin mengajak anak-anak membaca. Tapi di lapangan, banyak orang tua tidak menyediakan buku di rumah. Saat kami hadirkan buku di ruang publik seperti car free day, sambutannya tinggi. Namun itu belum cukup,” ujar Dyah Bodrohini, pendiri Hompimpa Solo, saat kegiatan di Halaman Persis Store, Manahan, Minggu (27/8).

Hompimpa tidak hanya memberi akses bacaan, tetapi menciptakan ruang tumbuh yang menyenangkan, berakar pada budaya lokal, dan melibatkan peran aktif orang tua.

“Kami ingin membentuk generasi muda peduli, mandiri, dan cinta lingkungan melalui pendekatan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka,” jelas Dyah.

Setiap kegiatan Hompimpa didesain menyenangkan. Setelah membaca cerita tentang berkebun, anak-anak diajak praktik menanam. Usai membaca kisah tentang laut, mereka membuat kerajinan dari barang bekas bertema biota laut.

Salah satu kegiatan andalan adalah play day, hari bermain bersama yang digelar berpindah-pindah. Anak-anak dikenalkan dengan mainan tradisional seperti egrang, dakon, bakiak, hingga membuat wayang dari rumput.

“Kami terbuka menerima donasi buku anak-anak yang layak dan edukatif,” tambah Dyah.

Dominasi gawai menjadi tantangan terbesar. Banyak anak kehilangan waktu bermain karena penggunaan HP tanpa pendampingan.

“Kami tidak anti teknologi, tapi masa kecil adalah waktunya eksplorasi. Anak-anak harus menyentuh tanah, berkeringat, bukan hanya menatap layar,” tegasnya.

Selain mendampingi anak, Hompimpa mengajak orang tua ikut serta melalui diskusi dan kelas parenting sederhana.

Hompimpa memiliki dua program utama: ruang nonton bareng (RNB) yang menghadirkan film edukatif setiap bulan, serta event Hompimpa, acara tahunan berisi permainan tradisional, pameran karya anak, bazar buku, dan kelas kreatif.

Ke depan, Dyah berharap Hompimpa semakin sering hadir di ruang publik dengan dukungan banyak pihak. Mereka juga merancang pendampingan untuk komunitas serupa di wilayah lain.

“Semakin banyak orang tua sadar akan pentingnya budaya lokal, permainan tradisional, dan membaca, semakin besar harapan membentuk generasi masa depan yang kuat dan berkarakter. Ini bukan sekadar komunitas, tapi gerakan sosial berbasis budaya,” tutup Dyah. (atn/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#tradisional #gawai #budaya #modernitas #hompimpa