Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Potensi Kesenian Gejog Lesung di Desa Barepan Klaten: Setiap Kampung Punya Kelompok hingga Jadi Hiburan Hajatan

Angga Purenda • Selasa, 29 Juli 2025 | 03:41 WIB
Kelompok Gejog Lesung Sekar Langit juara 1 dalam Festival Gejog Lesung Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Kelompok Gejog Lesung Sekar Langit juara 1 dalam Festival Gejog Lesung Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Kesenian gejog lesung terus eksis puluhan tahun lamanya di Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Klaten. Bahkan di tengah gempuran musik modern sekalipun. Lantas bagaimana upaya desa bisa mempertahankan kesenian tradisional tersebut?

Suara thok thek thok bersahutan-sahutan terdengar dari halaman Kantor Desa Barepan, Cawas, Klaten pada Minggu (27/7) pagi. Ternyata berasal dari salah satu kelompok gejog lesung yang sedang tampil dihadapan ratusan warga.

Tampak anak-anak berjumlah sekira lima orang secara bergantian memukuli lesung dengan alu. Baik bagian atas, samping, tengah maupin tepat pada bagian cekungan sehingga menimbulkan suara yang berirama unik.

Seiring irama pukulan para penabuh lesung itu, terdapat kelompok lain yang sedang menyanyikan lagu atau tembang Jawa sambil menari. Seperti yang dilakukan kelompok gejog lesung Sekar Langit yang membawakan dua lagu yakni Lesung Barepan dan Anoman Obong.

Mereka tampil dari Festival Gejog Lesung Desa Barepan yang digelar setiap tahunnya. Total ada 11 kelompok yang ikut serta berasal perwakilan kampung maupun RW. Menariknya banyak anak-anak yang terlibat termasuk dari kelompok Sekar Langit tersebut.

Tapi siapa sangka potensi kelompok gejog lesung di Desa Barepan mencapai sekira 15 kelompok. Mengingat di beberapa RW ada yang terdapat dua kelompok. Hanya saja khusus festival hanya dibatasi 11 kelompok saja sesuai jumlah RW di Barepan.

Kepala Desa (Kades) Barepan Irmawan Andriyanto mengungkapkan, kesenian gejog lesung telah menjadi ikon Barepan. Memainkan musik gejog lesung sudah menjadi kebiasaan bagi warga Barepan.

Warga secara rutin memainkan musik gejog lesung. Duhulunya lesung digunakan warga untuk menumbuk padi. Seusai menumbuk padi, warga biasa memukulkan alu pada lesung hingga menjadi musik sebagai pelepas lelah mereka.

Seiring perkembangan zaman, menumbuk padi menggunakan lesung mulai ditinggalkan berganti dengan mesin selepan. Namun, kesenian memainkan musik gejog lesung masih dilestarikan hingga saat ini.

"Festival Gejog Lesung ini kami gelar secara rutin setiap tahunnya. Bagian dari nguri-nguri kesenian yang ada di desa kami," ujar Kades Barepan Irmawan Andriyanto saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, Minggu (27/7).

Tak sekadar melestarikan saja, tapi guna mempererat persaudaraan dan kebersamaan warga Barepan. Mengingat untuk menghasilkan suara yang padu dan berirama membutuhkan latihan bersama-sama secara rutin.

Bahkan latihan harus dilakukan setiap hari atau setidaknya dua kali dalam seminggu. Mengingat jika hanya berlatih satu kali tidak akan bisa menghasilkan suara yang berirama.

"Gejog lesung ini sudah menjadi identitas dari Desa Barepan. Apalagi telah menjadi ikon sehingga perlu kita angkat sekuat-kuatnya. Maka itu sudah tiga tahun ini, kita libatkan anak-anak dalam Festival Gejog Lesung Barepan," ujar Irmawan.

Regenerasi pelaku kesenian gejog lesung di Barepan tidak dibentuk secara tiba-tiba. Tetapi diajarkan hingga mereka yang sudah lanjut usia bisa menjadi teladan bagi generasi muda sehingga bisa dicontoh.

Menurutnya, regenerasi tetap diperlukan guna mempertahankan eksistensi dari gejog lesung di Barepan. Mengingat para pelaku kesenian tersebut didominasi sudah lanjut usia.

Bahkan agar kesenian tradisional tetap memiliki tempat di hati para generasi muda, menjadikan gejog lesung sebagai hiburan dalam setiap hajatan di Barepan. Menyambut para tamu undangan yang berdatangan di hajatan warga.

"Dulu memang digunakan warga untuk menumbul padi. Ya karena sudah modern sehingga tidak terpakai. Tapi biar tidak terputus ya kita lestarikan lewat gejog lesung ini," ujarnya.

Keseriusan dalam melestarikan gejog lesung juga diperlihatkan dengan pembuatan monumen di alun-alun Desa Barepan. Terlebih lagi kesenian tersebut sudah tercatat dan mendapatkan hak kekayaan intelektual (HAKI) dari Kemenkum HAM beberapa tahun lalu.

Pemdes Barepan pun hendak mengembangkan kesenian gejog lesung di sektor pariwisata. Mengingat banyaknya kelompok kesenian yang terbentuk dan berkembang di desa tersebut.

"Silakan wisatawan bagi yang hendak menikmati kesenian gejog lesung langsung saja datang ke setiap RW kami. Bisa memilih mau kelompok yang mana," tambah Irmawan.

Salah seorang pelaku kesenian gejog lesung Wardani Pramudhita, 13, mengaku sudah tiga tahun ini berlatih secara rutin. Hingga akhirnya tergabung dalam kelompok gejog lesung Sekar Langit.

"Sebagai generasi muda tentunya senang bisa ikut melestarikan gejog lesung ini. Apalagi ini bagian dari budaya desa kami," ujar perempuan yang akrab dipanggil Dita ini.

Dita pun tak menyangka dalam Festival Gejog Lesung Barepan itu bisa meraih Juara 1. Mampu menyisikan 10 kelompok lainnya. Sekaligus menjadi penyemangat untuk terus eksis berkarya.

"Tidak ada kesulitan dalam memainkan gejog lesung. Tapi memang harus berlatih selama satu bulan sebelum mengikuti lomba. Disamping menabuh, yang perlu dilatih ya lirik-lirik untuk dinyanyikan," ujarnya.

Menurutnya, dalam mengikuti festival hingga meraih juara bukan menjadi tujuan utamanya. Tapi bagaimana menjadikan kesenian gejog lesung tetap eksis meski pelakunya terus mengalami regenerasi secara turun-temurun. (ren/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#tradisional #Gejog Lesung #musik modern #kesenian