RADARSOLO.COM-Dapur sehat di salah satu sekolah dasar di Kota Solo ini bukan sekadar penyaji makanan.
Sejak 2015, dapur ini menjelma simbol kemandirian, kualitas, dan edukasi hidup sehat.
Inilah cerita di balik aroma galantine dan sop sayur yang setiap hari tersaji untuk ratusan siswa.
Pukul 10.00, aroma nasi hangat dan sop sayuran menyeruak dari sebuah dapur yang berdiri di sudut depan SD Muhammadiyah 1 Ketelan.
Di ruangan itu, empat perempuan sibuk menuntaskan pekerjaan mereka.
Belasan termos nasi sudah rapi berjejer, lauk-pauk disusun di wadah persegi, dan sayur sop baru saja dipindahkan agar tetap hangat saat disajikan.
“Hari ini menunya nasi putih, galantine, sop sayur, dan buah pisang,” ucap Siti Nur Handayani, 45, sembari tersenyum.
Sejak 2015, ia setia mengabdi sebagai juru masak dapur sehat sekolah tersebut.
Siti tahu betul ritme pekerjaannya. Setiap hari, ia dan tiga rekannya sudah memulai aktivitas sejak pukul 05.00.
Bahan makanan segar tiba pagi-pagi, lalu mereka segera mencuci, meracik, hingga mulai memasak pukul 08.00.
Dua jam kemudian, semua menu siap. Pukul 12.00, makanan dikirim ke setiap kelas.
“Sudah ada pembagian tugasnya. Ada yang khusus masak nasi, ada yang sayur, ada yang lauk, ada yang packing. Jadi semua tertata,” jelas Siti.
Baca Juga: Di Balik Keindahan Candi Muncar Girimarto Wonogiri Ada Mitos yang Pantang Dilanggar
Rekan kerja Siti, Wulan Agus Sriyanti, 40, merasakan kebahagiaan serupa.
Baru bergabung setahun terakhir, ia langsung terbiasa menggoreng ratusan potong lauk setiap hari.
“Senang rasanya melihat anak-anak lahap makan masakan yang kami siapkan,” ungkap Wulan, yang pernah bekerja di pabrik roti.
Dapur sehat ini bukan dapur sembarangan. Sejak berdiri pada 2015, dapur ini mengantongi berbagai sertifikasi, mulai dari standar higienitas, sanitasi, hingga pelatihan juru masak.
Prestasinya juga mendapat juara di tingkat Kota Solo dan Kementerian Kesehatan.
Kualitas tersebut menjadi alasan kuat mengapa SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo memilih tidak bergabung dalam program makan bergizi gratis (MBG) pemerintah.
Sebab, sebagian besar dapur penyelenggara MBG di Solo belum memenuhi standar sertifikasi higienis.
“Dapur sehat kami lahir bukan ujug-ujug. Kami belajar ke rumah sakit-rumah sakit agar paham standar layanan makanan sehat,” ujar Kepala SD Muhammadiyah 1 Ketelan Sri Sayekti.
“Dari situ, kami membangun dapur dengan sirkulasi udara dan sanitasi yang baik,” lanjut dia.
Di sekolah setempat tidak hanya ditekankan soal soal makan bergizi, tetapi juga edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) bagi anak-anak.
Selain itu, dapur ini membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Seperti diketahui orang tua siswa sekolah setempat memilih untuk mempercayakan makan siang anaknya kepada sekolah dan emoh mengikuti program MBG.
Sebab, selama ini dapur sehat sekolah ini sudah berjalan dengan baik. Di sisi lain ada trauma orang tua soal kasus keracunan makanan. (ves/bun)
Editor : Tri wahyu Cahyono