Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Jalan Sunyi Yulianto: Laku Batin, dan Biru yang Menyapa Nurani

Mannisa Elfira • Kamis, 13 November 2025 | 01:42 WIB
Pameran Jalan Sunyi Sang Mintaraga, Tafsir Monokromatik atas Laku Arjuna karya Yulianto. (M Ihsan/Radar Solo)
Pameran Jalan Sunyi Sang Mintaraga, Tafsir Monokromatik atas Laku Arjuna karya Yulianto. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Aura kedalaman batin langsung terasa begitu kaki melangkah ke Laras Art Space, tempat pameran Jalan Sunyi Sang Mintaraga, Tafsir Monokromatik atas Laku Arjuna karya Yulianto digelar.

Dinding ruang galeri terselimuti mural biru yang menenangkan, penuh detail dan lapisan makna. Burung-burung berterbangan, pepohonan asri, dan motif batik berpadu dalam lekuk dinamis yang membuat siapa pun spontan berhenti sejenak, memandangi dalam diam.

“Waktu itu saya ditantang membuat pameran perdana dengan karya-karya batik pewarna alam. Temanya Nila Lokatantra, bagaimana warna alam bisa jadi medium utama,” tutur Yulianto, seniman asal Blitar itu.

Karya itu menjadi pintu awal menuju pameran tunggalnya: Jalan Sunyi Sang Mintaraga. Sebuah lintasan visual yang menafsir kisah Arjunawiwaha dengan pendekatan batiniah dan spiritual. Pameran yang berlangsung di salah satu hotel di Solo awal November ini, menyajikan pengalaman multisensori — antara rupa, cahaya, dan suara.

Begitu masuk ke ruang utama, denting gamelan mengalun lembut. Topeng-topeng dan bulatan yang bergelantungan menciptakan suasana magis, antara nyata dan simbolik.

“Ini melambangkan keadaan jagad sekarang. Alam yang kita hadapi serandom ini. Ada sekat-sekat, ada wajah-wajah — itulah dunia hari ini,” ucap Yulianto pelan.

Langkah kaki kemudian mengantarkan ke unsur pertama: Api — bukan untuk membakar, tapi menerangi. “Karya pertama seperti Jagad Sunyian. Hampir semuanya lahir di waktu malam. Ide-idenya muncul saat sunyi,” katanya.

Bagian berikutnya adalah Pertiwi, dengan karya besar bertajuk Landscape Bibir Ruang Sunyi. Pengunjung seolah diajak masuk ke dalam gua pertapaan, tempat cahaya paling terang justru datang dari luar. “Rusa-rusa di dalamnya itu simbol godaan tujuh bidadari,” lanjutnya.

Perjalanan terus bergulir ke unsur angin, air, hingga angkasa. Total 27 karya yang lahir hanya dalam dua bulan.

“Waktu itu tantangannya waktu. Dua bulan, 27 karya. Bahkan karya ke-27 sempat ingin saya tampilkan sebagai performance art, tapi akhirnya hanya pengisian,” ujarnya sambil tersenyum.

Namun yang paling berat, kata Yulianto, bukan soal teknis melainkan spiritual. “Saya mencoba menangkap distraksi kita hari ini. Dari media sosial, krisis identitas, sampai kehilangan arah mana yang benar. Kadang kita tuli terhadap nurani sendiri,” ucapnya.

Melalui Jalan Sunyi ini, Yulianto mengajak setiap pengunjung menepi sejenak. Menyepi bukan untuk lari, tapi menemukan kembali suara dari dalam diri — tempat segala kebisingan dunia berhenti. (nis/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#pameran #Simbolik #karya #warna alam